Bahasa Indonesia dan Diplomat Kita

Pramudito*, Kompas, 9 Apr 2016

Pada awal 1980-an, ketika mengikuti pendidikan diplomat pemula di Kementerian (dulu: Departemen) Luar Negeri, saya dan beberapa teman heran. Mengapa salah satu pelajarannya adalah ”Bagaimana Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar” dengan widyaiswara JS Badudu (1926-2016)? Pikiran kami waktu itu, masih perlukah pelajaran bahasa Indonesia untuk calon diplomat? Bukankah yang penting pendidikan keterampilan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris? Meskipun begitu, kami tetap tekun mengikuti uraian ahli bahasa Indonesia itu.

Setelah lepas dari pendidikan tersebut dan mulai berdinas, saya baru menyadari bahwa bahasa Indonesia juga penting di Kemlu. Dalam urusan kedinasan, kami banyak menggunakan bahasa Indonesia. Surat-menyurat antarunit dan antarinstansi menggunakan bahasa Indonesia yang standar. Demikian juga bila mengirimkan informasi atau instruksi ke Perwakilan RI di luar negeri (baik KBRI, Konsulat Jenderal, maupun Konsulat), kami menggunakan bahasa Indonesia.

Adakalanya Perwakilan RI atau Kemlu perlu melaporkan suatu perkembangan kepada pejabat yang lebih tinggi, misalnya presiden. Maka, bahasa yang digunakan harus benar-benar memenuhi standar yang baku, singkat, dan padat. Laporan untuk presiden terlebih dahulu harus melalui saringan atau seleksi, baik bahasa maupun substansinya, mulai dari eselon paling rendah (IV, III, II, dan I) hingga menteri luar negeri.

Tenyatalah bahwa diplomat Indonesia, selain berkemampuan berbahasa asing yang tinggi, harus juga menguasai penggunaan bahasa Indonesia yang baku, baik, dan betul. Sepanjang 30 tahun berdinas baik di Kemlu maupun Perwakilan RI, saya merasa bahwa Kemlu dan Perwakilan RI merupakan instansi yang paling banyak membuat laporan dibandingkan dengan instansi lainnya. Pekerjaan diplomat hampir sama dengan wartawan. Bedanya, bila wartawan mengirimkan berita untuk koran agar berita itu disebarluaskan kepada masyarakat pembacanya, maka seorang diplomat mengirim laporan hanya untuk lingkup terbatas. Bila sebagian laporan itu dirasa perlu diketahui masyarakat luas, harus ada seleksi yang ketat. Kami tahu betapa juru bicara Kemlu cukup berhati-hati memberi keterangan di depan pers, apalagi bila materi yang disampaikan cukup peka, termasuk bila menyangkut hubungan dengan negara lain.

Dari sudut rutinitas dan segi waktu, Perwakilan RI selain membuat laporan harian (meliputi segala hal), juga ada laporan mingguan, laporan bulanan, dan yang—paling panjang—laporan tahunan. Laporan tahunan berisi perkembangan dalam berbagai bidang, termasuk kegiatan diplomatik yang dilakukan Perwakilan RI selama setahun anggaran. Tebal laporan tahunan sama dengan tebal skripsi pada umumnya. Laporan tahunan itu dikirimkan ke Kemlu, ada kalanya instansi lain yang terkait. Sebagian laporan tahunan itu disimpan di perpustakaan Kemlu dan bisa dibaca umum, termasuk mereka yang memerlukan bahan informasi tentang perkembangan suatu negara atau mahasiswa yang mencari bahan untuk penyusunan skripsi.

Bisa dibayangkan, bila setiap tahun 120 Perwakilan RI mengirimkan laporan tahunan, betapa banyak jumlahnya dalam 10, 20, hingga lebih dari 50 tahun. Selama 50 tahun saja tidak kurang dari 5.000 laporan tahunan yang telah dibuat. Karena begitu banyak, laporan tahunan yang lama banyak tersimpan di gudang. Sayang sekali. Padahal, ia tetap berguna dengan nilai sejarah yang tinggi tentang kegiatan diplomasi Indonesia dari tahun ke tahun sejak awal kemerdekaan.

Jadi, betapa penting keterampilan para diplomat kita menggunakan bahasa Indonesia yang baku, baik, dan betul. Sebagai ilustrasi, ketika diplomat utama Ali Alatas (almarhum) menjadi sekretaris wakil presiden (kala itu dijabat Adam Malik), ia pernah membuat laporan tentang kunjungan Wapres Adam Malik ke suatu daerah di Indonesia. Saya pernah membaca laporan itu dengan bahasa Indonesia yang rapi dan dengan uraian yang mumpuni. Ternyata Ali Alatas, yang kemudian menjadi menlu di masa Soeharto, bukan hanya piawai berbahasa Inggris lisan maupun tulisan, tapi juga berbahasa Indonesia.

Saya berpendapat kiranya Kemlu dan Perwakilan RI dapat juga dianggap berjasa besar dalam melestarikan dan mengembangkan bahasa Indonesia yang baik dan betul. Suatu hal yang kurang banyak diketahui umum selama ini.

* Mantan diplomat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s