Tesamoko

Samsudin Berlian*, Kompas, 30 Apr 2016

Ketika kata sedang capai, ke manakah dia pergi tidur? Ke kandang tentu. Ketika kata sedang santai, ke manakah dia pergi berlibur? Ke gudang tentu. Sebab kata adalah hamba sahaya si pekata, rajin manut menurut, tak pernah mengeluh menuntut. Ketika terpakai, kata mengemuka, dahsyat membedah mengiris menangkis melebihi tuah keris berkelok sembilan; lidah bisa lebih lihai bersilat daripada pencak. Ketika terabai, kata mundur sembunyi lebih lenyap senyap daripada diamnya emas sang bijak berperi.

Bila kata terhilang, carilah ia di gudang persembunyiannya. Namun, di manakah gudang kata itu? Di Tesaurus, tentu. Menurut pakar nenek moyang kata, thesauros (Gerika) dan turunannya thesaurus (Latin) memang berarti gudang, lumbung, tempat penyimpanan, perbendaharaan, khazanah. Bukan hanya sembarang gudang, melainkan juga gudang atau peti harta karun. Di situlah tersimpan semua yang bernilai berharga.

Dari makna ini lahirlah gagasan thesaurus verborum, harta karun kata-kata, yang mulai menyebar pada abad ke-16, tapi lebih dalam arti kamus atau ensiklopedia yang kita kenal sekarang. Tesaurus modern bukan kamus karena tidak memberikan makna kata, hanya daftar kata. Kata-kata yang serupa arti disatukan saling rangkul dan gaul dalam satu lema sehingga enak dimanfaatkan, sebagai peti harta karun nan tak kunjung menipis dan tak akan habis, oleh antara lain para penulis, pujangga, penyair, pencipta lagu, penerjemah, dan pengisi teka-teki silang. Tesaurus beranalogi dengan kosakata atau vokabulari. Sama-sama berarti perbendaharaan kata. Akan tetapi, tesaurus adalah perbendaharaan yang tersimpan di dalam buku. Kosakata adalah perbendaharaan yang tersimpan di dalam kepala seseorang. Bila kepala rusak atau mati, musnahlah perbendaharaan itu. Namun, tesaurus akan hidup sepanjang zaman, paling tidak sampai zaman berganti, apalagi kalau sering dicetak ulang dan diperbaharui.

Syahdan, dahulu kala Filon dari Biblos, Lebanon, pada abad pertama Masehi menulis suatu tesaurus. Juga, pada sekitar abad keempat, pujangga India Amara Simha menulis Amara Kosha (Harta Karun Amara), tesaurus dalam bentuk puisi. Yang dulu sudah berlalu. Tesaurus modern dalam arti kumpulan kata-kata yang disusun menurut makna untuk pertama kali mengambil bentuk konkret dalam karya yang sangat terkenal, yang sampai hari ini masih dicetak-ulang dengan judul Roget’s Thesaurus. Peter Mark Roget, pakar bahasa Inggris, menghimpun dan menyusun karyanya selama 50 tahun sebelum menerbitkannya pertama kali pada 1852 dengan judul Thesaurus of English Words and Phrases (Harta Karun Kata dan Ungkapan Inggris). Itulah cikal-bakal tesaurus yang sejak itu telah menjadi keharusan pada setiap bahasa modern yang punya harga diri di dunia.

Syukurlah munsyi Eko Endarmoko tekun menyumbangkan puluhan tahun hidupnya untuk membantu meningkatkan harga diri bahasa Indonesia-pokok utama bahasa-bahasa Nusantara yang selama berabad-abad kurang mengembangkan tulisan dan konsep bahasa original-dengan melahirkan Tesaurus Bahasa Indonesia pada 2006. Setelah lama habis dari pasar, akan lahir pula edisi kedua dengan judul Tesamoko: Tesaurus Bahasa Indonesia. Judul akronimik itu adalah penghargaan yang sepantasnya kepada pria kelahiran Riau ini: Tesaurus Eko Endarmoko. Inilah sampai sekarang satu-satunya tesaurus Indonesia. Jangan percaya kalau Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa berkata lain.

Karena konsep tesaurus sangat modern dan khas, salah satu lelucon yang sudah lama beredar luas adalah pertanyaan, apakah tesaurus dari tesaurus? Yakni, apakah ada satu kata lain yang bermakna kurang lebih sama dengan tesaurus? Dalam Inggris ini sulit dijawab, walaupun kadang-kadang Roget dipakai dalam arti itu; seperti halnya Kodak untuk kamera atau Gillette untuk silet; atau Poerwadarminta untuk kamus. Namun, mana tahu generasi mendatang Indonesia dengan penuh syukur akan punya satu jawaban yang tidak perlu lucu: Tesamoko [segera hadir di gudang buku dekat anda. Catat tanggal buka gudang: 23 Mei 2016].

* Penggelut Makna Kata, Pecandu Tesaurus

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s