Memakai ”Tesamoko”

Eko Endarmoko*, Kompas, 7 Mei 2016

Lewat pembacaan acak atas respons pembaca edisi pertama, saya bisa menduga ada sebagian dari mereka, pemakai kamus dan tesaurus, yang menurut saya rada teledor, yaitu tidak membaca teks-teks pengantar. Padahal, kita tahu, di sanalah penyusun mempertanggungjawabkan apa-apa yang ia pikir dan kerjakan dengan kamus atau tesaurusnya. Izinkanlah saya di sini sedikit menerangkan soal itu, tentu saja dalam hubungannya dengan Tesamoko, Tesaurus Bahasa Indonesia Edisi Kedua.

Sudah sejak edisi pertama saya bekerja bukan dengan terutama bersandar pada teori (leksikografi), melainkan pada kebutuhan pengguna yang saya bayangkan. Dalam bayangan saya, pengguna itu adalah mereka yang, seperti saya, berkecimpung di dunia tulis-menulis dalam bahasa Indonesia. Sering menjadi persoalan buat penulis adalah mendapatkan kata atau ungkapan yang tepat untuk melukiskan konsep atau pengertian tertentu. Kita melihat di situ, kata adalah jantung tulisan, wakil yang membopong ide-ide penulis.

Sebanyak 29.866 lema dan sublema dalam Tesamoko, 4.106 di antaranya tambahan/baru, adalah senarai kata yang saya himpun dan susun berdasarkan hubungan makna antara satu dan lainnya. Dalam Tesamoko hubungan makna itu tampak dalam wujud sinonim (padanan makna), antonim (lawan makna), hipernim (kata umum), dan hiponim (kata khusus). Dengan penyajian seperti ini, saya berharap dapat memberi peluang seluas-luasnya kepada pemakai mendapatkan kata paling cocok yang ia perlukan. Bukan saja lewat senarai sinonim-antonim serta hipernim-hiponim, melainkan terutama berkat nuansa makna sehalus-halusnya yang coba saya rekam. Contoh:

usang a sin

1 a arkais, kedaluwarsa, lawas (Jw), obsolet, tua, uzur b kolot, konservatif, konvensional, kuna, lama, tradisional

2 a aus, bapet, bejat, buruk, busuk, butut, lapuk, lotak, lusuh, puih, rebeh (Jk), reput, reyot, rombeng, rongsok b rusak

Lihatlah. Ada dua arti ”usang”, dan masing-masing masih dapat diperbedakan antara gugus (a) dan (b). Di titik inilah saya kira perlu kamus dipakai sebagai pendamping sebab Tesamoko, seperti tesaurus lain pada galibnya, tidak memberi takrif, definisi, sebagaimana kamus. Saya bayangkan, penulis/pemakai Tesamoko sedari mula bukan ingin tahu, dan tidak terlampau peduli, kata apakah yang paling dekat pertalian maknanya dengan suatu lema. Ia lebih berhasrat mendapat satu kata paling cocok dan sesuai dengan keperluannya, entah berdasar pertimbangan makna entah bentuk/pembunyian. Dan pilihannya itu sudah tentu sangatlah subyektif. Tesamoko tidak mendesak-desakkan sebuah kata tertentu supaya dipilih. Ia hanya menyajikan serencengan kata yang saling bertalian makna di bawah satu kata yang menjadi lema dan, dengan begitu, memberi kebebasan kepada pemakai memilih kata yang ia perlukan. Tepat atau tidaknya pilihan si pemakai bukan jadi urusan Tesamoko sebab sudah jelas bahwa perbuatan memilih itu mestilah dibarengi dengan mengerti.

Di luar soal-soal yang berpaut dengan dunia semantik dan leksikologi, perbaikan terhadap tesaurus ini pun menjangkau sekian persoalan lain pada tataran morfologi. Tesamoko tetap memilih cara menulis ”subyek” dan ”obyek”, bukan ”subjek” dan ”objek” sebab kedua bentuk ini menuruti pola yang sudah sangat kita kenal: ”proyek” dan ”trayek”, bukan ”projek dan ”trajek”. Saya pikir dua bentuk yang pertama lebih kuat menunjukkan sifat sebagai bentuk beku. Edisi revisi ini juga memilih cara menulis ”pelihatan”, bukan ”penglihatan”, sebab kaidah morfofonemik bahasa Indonesia tidak mengenal penambahan /ng/ dalam pengimbuhan pe-an pada kata dasar berhuruf awal /l/. Ini sepola dengan ”pelarian”, ”peluluhan” atau ”pelipatan”, bukan ”penglarian”, ”pengluluhan” atau ”penglipatan”.

Begitulah. Dengan sedikit hal sederhana yang saya perkatakan di atas, judul Tesamoko yang saya pilih pada edisi kedua ini boleh dikata merupakan penegasan akan dua hal: pertama, keunikan: Tesamoko adalah tesaurus ala Moko—bukan tesaurus anu, anu, dan anu; dan kedua, sebuah sikap atau pendirian.

* Munsyi, Penyusun Tesamoko, Tesaurus Bahasa Indonesia Edisi Kedua

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s