Dari Kita ke Kalian

Seno Gumira Ajidarma* (Majalah Tempo, 9 Mei 2016)

screen-shot-2015-04-06-at-10-35-16-am

Jika saya (aku, daku) telah kehilangan kepribadian di dalam kami, karena diri telah melebur dalam anonimitas, meski kami diperlukan dalam politik identitas bersama seperti dalam momen historis Soempah Pemoeda (1928) dan Proklamasi (1945), adalah dalam kita maka saya dan Anda (kamu, dikau) hadir bersama dalam pernyataan subjektivitas. Dengan kata lain, suatu modus dialogis untuk mengada bersama dengan orang lain, meskipun tetap menjadi diri sendiri, karena reduksi-diri bukanlah prasyarat guna mempertahankan kita sebagai dunia tempat saya dan Anda berbagi.

Modus kita tidaklah bergantung pada kehadiran orang lain di luarnya. Dalam modus kita, pribadi menemukan dirinya mengada secara autentik, sehingga dalam modus kita tanggung jawab keberadaan menjadi kondisi terberi. Jika dalam modus kami berlangsung reduksi-diri dan pengasingan-diri, dalam modus kita terjadi aktualisasi-diri dan afirmasi-diri. Begitulah, jika kami itu objektif dan eksklusif, maka kita adalah subjektif dan inklusif, tempat semua pernyataan mempertahankan dan mengembangkan subjektivitas masing-masing, dan termasukkan ke dalam pengalaman ke-kita-an. Kita adalah ke-kita-an tempat pribadi berkembang sebagai identitas [Hassan, 1989 (1975): 23, 27-8).

Dasar filosofis seperti itu ternyata memungkinkan penggunaan kita secara manipulatif, tanpa niat manipulasi sama sekali, karena kuasa wacana yang telanjur dominan, ketika kata kita disebut padahal posisinya sebatas saya, seperti kasus berikut:

Di samping itu kita tahu dengan adanya prasasti-prasasti yang dibuat di Sriwijaya pada waktu I Ching tinggal di sana, bahwa bahasa Melayu Kuno dipergunakan dalam dokumen-dokumen resmi [Zoetmulder, 1983 (1974): 6]–penebalan dari penulis.

Secara linguistik, “kita tahu” dalam kalimat itu sudah merupakan pernyataan hak atas kebenaran (claim), bahwa bukan hanya penulisnya yang mengetahui fakta sejarah tersebut, melainkan siapa pun yang membacanya yang tentu saja tidak mungkin berlaku mutlak. Bahkan mereka yang mempelajari susastra Jawa Kuna pun, kepada siapa buku Kalangwan: Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang itu ditujukan, barangkali juga belum mengetahui fakta tersebut, karena memang baru mulai belajar. Artinya, penggunaan kita di sana jadinya manipulatif, karena meskipun belum tentu mewakili kenyataannya, tetap mengandaikan dan memasukkan siapa pun pembacanya ke dalam kita yang tahu.

Baik P.J. Zoetmulder yang menulis buku tersebut dalam bahasa Inggris, maupun Dick Hartoko yang menerjemahkannya, tentu memberi makna lain pada “kita tahu”, bukan secara naif, melainkan berdasar konteks, bahwa “tahu” di situ adalah totalitas wacana pengetahuan susastra Jawa Kuna, sebagaimana setiap pembelajar selayaknya sudah mengetahuinya. Dalam hal ini, seorang pembelajar yang belum menguasai pengetahuan Jawa Kuna sepenuhnya pun akan memakluminya. Apalagi fakta yang diajukan Zoetmulder itu memang bukan fakta tentang susastra Jawa Kuna.

Betapapun ini membuktikan peluang manipulatif pada kata kita. Rasa bahasa dari kata itu adalah kesan diajak dan diikutsertakan, yang secara politis merupakan manipulasi ampuh. Kata kita akan selalu digunakan untuk memberi dan berbagi daya, ataupun sebagai rayuan sekaligus claim atas posisi keberpihakan.

“Itulah sebabnya, kata kita banyak digemari oleh kaum remaja dan anak-anak yang merasa senasib dan oleh pengasuh induk karangan surat kabar, yang berikhtiar agar pendapatnya pribadi menjadi pula pendapat pembacanya,” kata Tuan Anton [Moeliono et al., 1990 (1987): 70].

Adalah makna keberpihakan ini yang menunjuk bobot politis bahasa, yang menjadi semakin kentara ketika kita dihadapkan kepada kalian. Maka adalah kejutan bagi saya ketika kata kalian ini tidak terdapat dalam Tesaurus Bahasa Indonesia (Endarmoko, 2006), sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) cukup menyatakan: “Yang diajak bicara, yang jumlahnya lebih dari satu orang”yang kemudian ditambah “dalam ragam akrab” (2008: 608).

Memang, mungkin saja kalian diucapkan dengan nada akrab, tapi ketika dihadapkan ada kata kita, pilihan atas kalian bagaikan pemutusan hubungan, penarikan garis batas yang tegas, bahwa orang banyak yang diajak bicara bukanlah bagian dari yang mengajak bicara. Sajak Sutardji Calzoum Bachri yang berjudul “Kalian” (1976) isinya hanyalah satu fonem: pun, padahal fonem dalam KBBI adalah “satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan kontras makna” (396). Sedangkan kontras sendiri berarti “memperlihatkan perbedaan yang nyata apabila diperbandingkan” (729). Nah, bukankah subjektivikasi kalian oleh pembicaranya ini memang nyata?

Demikianlah, betapa dengan berbahasa sahaja manusia telah berpolitik adanya, yakni menentukan kedudukan lawan bicara, sebagaimana akan menguntungkan atau menyelamatkan dirinya.

* Penulis, panajournal.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s