Tesamoko dan Gender

Rainy M.P. Hutabarat* (Kompas, 14 Mei 2016)

“Secara umum perbaikan di sini menyangkut baik bentuk atau penyajian maupun kandungan isinya.” (Eko Endarmoko, Mukadimah Tesamoko, Tesaurus Bahasa Indonesia Edisi Kedua, April 2016). Bertolak dari kutipan ini, saya langsung mencari kata-kata yang bias gender. Kata pelacur dan senarai sinonimnya segera saya periksa karena pengartian kata-kata tersebut menjadi indikator bahasa yang bebas bias gender.

Pelacur: sundal, wanita tunasusila, cabo, jabong, munci.

Sundal: perempuan jalang, wanita tunasusila, lonte, munci, atau asusila, amoral, nakal.

Lonte: perempuan jalang, pelacur, wanita tunasusila, cabo, jobong, munci.

Munci: gendak, gula-gula, istri gelap/piaraan, nyai, selir, juga cabo, lonte, pelacur, perempuan jalang dan wanita tunasusila.

Cabo: munci, lonte, pelacur, perempuan geladak, perempuan jalang, sundal dan wanita tunasusila.

Pada lema pelacur, sundal, lonte, munci, cabo, senarai sinonim masing-masing tak berubah. Hanya, sundal berubah bunyi menjadi sundel. Pelacur menunjuk hanya kepada perempuan. Ini merupakan stereotipe bahwa perempuanlah sang penggoda, biang perzinahan. Fakta bahasa mencatat padanan pelacur yang bebas bias gender: pekerja seks komersial. Tesamoko tidak merekam istilah pekerja seks komersial. Ihwal ini, seks komersial dipandang sebagai transaksi jual-beli yang tak dijejali aspek moral. Yang melacurkan diri di sini adalah penjual maupun pembeli. Dan seks komersial tak hanya dilakukan perempuan, juga lelaki. Karena itu, sundal seharusnya juga menunjuk kepada laki-laki. Jika ada perempuan jalang, juga ada lelaki jalang atau lelaki tunasusila.

Pekamus juga mengatakan, ”tesaurus ini menyajikan sebanyak mungkin sinonim kata dan kelompok kata dalam bahasa Indonesia dengan harapan dapat sekaligus mengayakan kosakata dan membantu pemakainya mendapatkan ungkapan yang tepat….” Tampaknya, didorong tujuan inilah, kata pelacur, perempuan jalang, lonte, wanita tunasusila dipadankan dengan selir, nyai, istri simpanan, atau istri gelap sebagaimana tersua pada lema munci. Padahal, ada perbedaan mendasar antara pelacur sebagai pekerja seks komersial dengan selir, nyai atau istri simpanan.

Selir menurut Tesaurus Bahasa Indonesia (TBI) Edisi I berpadanan dengan ampean (bahasa Jawa: garwa ampeyan), gendak, gula-gula, istri gelap/piaraan/simpanan, munci, nyai, ulam-ulam. Senarai kata sinonim ini terdaftar dalam TBI edisi II. Kata nyai sepadan dengan ampean, gendak, gula-gula, istri gelap/piaraan/simpanan, munci, nyai. Sedangkan gundik yang sepadan dengan selir merupakan padanan kata ampean, gendak, istri gelap/piaraan/simpanan, dan munci.

Seorang pegiat bahasa mengingatkan bahwa tesaurus harus digunakan dengan kamus sebagai pendamping. Nah, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan pelacur dengan ‘perempuan yang melacur, sundal dan wanita tunasusila’. Itu sama dengan pada TBI, pelacur ditujukan semata-mata kepada perempuan. Sundal pun diartikan sebagai ‘buruk kelakuan tentang perempuan, perempuan jalang, pelacur’. Dalam KBBI selir juga berarti ‘gundik’. Jadi, selir dan nyai tak bisa begitu saja dijajarkan dengan pelacur, sundal atau wanita tunasusila.

KBBI mencatat lema gula-gula sebagai kiasan, yang artinya ‘perempuan yang diperlakukan untuk bersenang-senang; gundik’ dan ‘pria atau wanita yang diperlakukan sebagai suami ataupun istri oleh lawan jenisnya tanpa ikatan perkawinan yang sah menurut adat dan hukum yang berlaku dalam masyarakat’. Walaupun KBBI bias gender, sebutan gula-gula berlaku bagi laki-laki dan perempuan. TBI tak merekam kata harem, yang dalam KBBI diartikan sebagai ‘kelompok wanita yang dikawini oleh satu pria’.

Mengutip catatan pekamus dalam mukadimahnya, ”…. bahasa Indonesia (yang terekam dalam tesaurus ini) sedapat mungkin bersih dari bias gender.” Semoga edisi mendatang semakin fokus merevisi kata-kata yang bias gender.

* Cerpenis, Pekerja Media

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s