Dangdut

Bandung Mawardi* (Majalah Tempo, 16 Mei 2016)

Perawan apaan? Emangnya gua perawan? Lu sendiri udah berapa kali main dangdut sama gua.” Kalimat itu diucapkan tokoh bernama Mercedes Marpaung dalam novel berjudul Generasi Gegap Gempita (1978) garapan Remy Sylado. Novel itu pernah dimuat sebagai cerita bersambung di majalah TOP, 1975, berjudul Bowat! Bowat!. Pembaca mungkin tergoda oleh pengakuan “main dangdut” di kalimat Mercedes. Mengapa dangdut berhubungan dengan keperawanan? Apa itu main dangdut? Kita tak bisa memastikan “main dangdut” adalah bermain musik dangdut. Pembaca justru menduga pengarang sengaja menulis “main dangdut” cenderung ke peristiwa sanggama.

Kita simak percakapan antara John Wesley Thomas dan Mercedes Marpaung saat berada di kamar, tempat mereka menginap di belakang Pasar Baru, Jakarta. Sepasang kekasih sedang lari dari penangkapan polisi. Di luar kamar, hujan terus menetes. Di kamar, sepasang kekasih “bermain-main lidah”. Mercedes berkata, “Dingin ya.” Sang kekasih menjawab, “Dangdut, yuk. Kalok dangdut kita keringatan.” Pembaca bertemu lagi dengan “dangdut”. Penulisan “main dangdut” dan “dangdut” di halaman 130 agak memastikan pengertian sanggama. John dan Mercedes memilih bermain dangdut di lantai. Kasur dipindahkan dari ranjang ke lantai. Ambisi “dangdut” terganggu akibat ada genangan air. Atap bocor, air hujan pun masuk ke kamar. Gangguan juga datang dari kutu busuk. Sepasang kekasih tetap menuruti kemauan “berdangdut”, malu jika putus asa.

Pengarang memberi deskripsi ke pembaca: “John Wesley Thomas segera memagut bibir Mercedes dan memain-mainkan lidahnya.” Dangdut itu “bergoyang” antara lelaki dan perempuan. Dangdut bukan jenis musik. Di halaman 32, Mercedes berkata kepada John: “Ngomong jangan keras-keras. Dikiranya ada perkosaan, padahal dangdut ini sukarela, suka hati. SSS.” Mercedes mengartikan SSS adalah sayang sama sayang. Dangdut memang urusan kenikmatan bercumbu dan bersetubuh. Pengarang semakin menguatkan sensasi dangdut: “Dan malam terus merangkak. Hujan terus berlagak. Mereka dangdut. Lantas lelap.” Dangdut tak terjadi cuma sekali. Di halaman 159, pembaca mendapat penjelasan bahwa dangdut itu memicu ketagihan: “Lalu dalam hujan yang menderu-deru ini, di atas ranjang yang apek itu, mereka bermain dangdut pula, tetap seperti yang mereka lakukan kemarin. Permainan seperti ini kelak akan membuat mereka lelah, dan jika mereka lelah, mereka akan lelap.”

Kita berganti membuka majalah Tempo edisi 7-13 Maret 2011. Tulisan berjudul “Bahasa Tempo, Bahasa Kita” memuat ingatan penggunaan istilah dangdut di Tempo. Putu Wijaya menulis artikel tentang Ellya Khadam di Tempo edisi 27 Mei 1972: memberi sebutan lagu Boneka dari India sebagai campuran lagu Melayu, irama padang pasir, dan “dang-ding-dut” India. “Ding” hilang, tersisa dangdut. Bambang Bujono menjelaskan: “Lalu dangdut digunakan Tempo secara ‘resmi’ untuk menyebut lagu Melayu yang terpengaruh lagu India.” Dangdut di Tempo berbeda dengan dangdut di novel Generasi Gegap Gempita. Putu Wijaya menggunakan lebih awal ketimbang Remy Sylado. Pada 1970-an, Putu Wijaya adalah wartawan, pengarang, dan penulis naskah teater.

Tahun demi tahun berlalu. Dangdut itu jenis musik, bukan sanggama. Rhoma Irama tampil bermisi membesarkan dangdut, memberi persembahan musik bermutu kepada publik. Ketekunan berdangdut memunculkan julukan “sang raja dangdut”. Rhoma Irama melakukan revolusi dangdut, mengangkat derajat musik kampungan ke musik penuh pesona. Dangdut dijadikan alat hiburan, dakwah, dan politik (M. Shofan, Rhoma Irama: Politik Dakwah dalam Nada, 2014). Publik mengingat Rhoma Irama itu dangdut. Rhoma Irama tentu tak sendirian dalam mengurus dan memartabatkan dangdut.

Apakah dangdut gampang ditemukan dalam kamus-kamus? Kita bisa membuka Kamus Musik (1992) susunan M. Soeharto. Dangdut berarti “jenis musik dan irama yang cukup merakyat di Indonesia, ditandai oleh pukulan tetap bunyi gendang rangkap yang memberikan bunyi dang pada hitungan 4, dut pada hitungan 1 dari birama berikut.” Pembaca juga dapat menemukan dangdut di Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001). Di halaman 235, dangdut berarti “jenis dan irama musik yang ditandai oleh pukulan tetap bunyi dang pada hitungan ke-4 dan dut pada hitungan ke-1 dari birama berikut.” Dangdut berhasil berumah di kamus. Dua kamus memberi pengertian “sama”.

Pada 2012, terbit buku berjudul Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia garapan Andrew N. Weintraub. Buku bermutu ini berisi uraian sejarah dan makna dangdut. Di sampul buku, dangdut disampaikan melalui tiga foto: Rhoma Irama, Evie Tamala, dan Inul Daratista. Apa itu dangdut? Weintraub memberi pengakuan: “Saya mendekati dangdut sebagai sebentuk politik kebudayaan, di mana aktor-aktor sosial mengaktifkan bentuk-bentuk simbolis dalam pergulatan meraih apa yang dianggap berharga dan bermakna dalam kebudayaan.” Kita tutup saja buku garapan Weintraub. Dangdut jadi terlalu serius!

* Pengelola Jagat Abjad Solo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s