Siapa Bodoh?

Samsudin Berlian*, Kompas, 4 Jun 2016

”Mencerdaskan kehidupan bangsa,” kata Pembukaan UUD 45. Sebagian aktivis, pejabat, dan pendidik, lewat ”antonimisasi” seenak perut, pun berseru nyaring ”membebaskan rakyat dari kebodohan”. Dari konteks, nyata bahwa yang biasanya jadi pokok bahasan sebetulnya adalah peningkatan upaya dan hasil pendidikan. Misal, setiap orang bersekolah paling tidak 12 tahun. Atau, pengusahaan lebih banyak orang melek huruf fungsional, yakni, bukan hanya bisa membunyikan huruf dan kata, tapi mampu memanfaatkan pengetahuan hasil bacaan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh—bikin gudeg maknyus menurut resep tertulis. Yang mereka bicarakan berkait dengan sistem pendidikan modern dan universal, dengan anak usia sekolah dan orang muda, kadang-kadang juga dengan pendidikan untuk orang dewasa, informal, dan keterampilan. Memang ketiadaan atau kekurangan pendidikan dan keterampilan modern adalah sebentuk kebodohan, tapi mengapa menyamakan tanggung jawab negara itu dengan kebodohan rakyat?

Kata bodoh adalah penilaian subyektif yang juga mengacu kepada banyak hal. Ada bodoh hanya dalam kemampuan tertentu. Bodoh tawar-menawar di pasar, bodoh menyetir, dan sebagainya. Kebodohan semacam ini sama sekali tidak berkait dengan kemampuan umum. Tak perlu diragukan, Einstein bodoh dalam membuat gudeg. Ada pula bodoh dalam pengetahuan tertentu. Tidak tahu gudeg dibuat dengan nangka muda. Itu pun tidak berkait dengan kecerdasan umum. Setiap orang memiliki keterbatasan pengetahuan dan kemampuan. Tidak ada yang mahatahu dan mahamampu. Dalam hal kedua macam kebodohan ini, setiap dan semua orang bodoh.

Ada bodoh yang konyol. Kebodohan lucu dan tak masuk akal sering ditunjukkan pemabuk cinta. Mereka bahkan tidak peduli jadi bahan tertawaan. Ada juga tampang bodoh biarpun genius. Ada kebiasaan bodoh, seperti tingkah laku filsuf bijak merenungi bintang di langit sambil jalan-jalan di halaman berlubang sumur menganga. Ada yang bingung dan gagap bicara dengan orang baru dikenal. Semua ini kebodohan tampak luar. Setiap orang pernah tampil bodoh, bahkan mereka yang rajin jaim.

Ada bodoh yang berarti tidak bijaksana dalam suatu perkara. Memiliki gagasan cemerlang yang kemudian ternyata keliru. Mengambil tindakan yang hasilnya mengecewakan. Mengambil keputusan besar yang akhirnya membangkrutkan perusahaan. Mereka dinilai bukan dari pikiran atau kegiatan, melainkan dari hasil. Tentu saja dengan demikian penilai selalu benar, seperti peserta Ujian Negara dengan kunci jawaban asli.

Ada bodoh destruktif. Orang kaya menghabiskan uang di meja judi sampai rudin. Pemuda cerdas dengan pekerjaan menjanjikan di perusahaan kelas dunia menghancurkan hidupnya dengan heroin. Ada kebodohan emosional, tidak sanggup mengontrol kesedihan atau kemarahan. Mengamuk bila terdesak. Bodoh juga dipakai sebagai makian kepada seseorang yang melakukan hal yang tidak diharapkan, walaupun di kala lain tindakannya mungkin terpuji. Misal, bos membodohkan karyawan membeli nasi gudeg halal, padahal yang disuruhkan nasi uduk babi buncit.

Ada bodoh dalam arti kecerdasan inteligensi rendah, diukur dengan IQ. Kalau terlalu rendah, disebut idiot. Kemampuan belajar rendah. Lambat dan susah mengerti. Keterampilan dan pengetahuan yang bisa dipelajari dan dicerna otak terbatas. Biarpun dicekoki guru paling mumpuni tetap saja tidak sanggup berhasil belajar. Mereka ini sering memiliki kelebihan, seperti kemampuan tinggi menyelesaikan pekerjaan repetitif dengan sempurna. Dulu, ”studi-studian” mengenai selisih IQ antar-ras telah dipakai untuk membenarkan diskriminasi dan penghinaan terhadap kelompok-kelompok manusia berbeda fenotipe. Sekarang, orang waras tidak lagi menghubungkan IQ dengan kebodohan suatu bangsa.

Kebodohan, dalam pengertian apa pun, rata-rata rakyat Indonesia sama saja dengan kebodohan rata-rata rakyat negeri lain mana pun. Kelemahan dan kebobrokan sistem dan hasil pendidikan kita tidak berhubungan dengan kebodohan rakyat, melainkan dengan kebodohan mendarah-daging dan turun-temurun di pihak negara, pemegang mandat UUD 45, yakni para penentu kebijakan dan penyelenggara pendidikan selama tiga generasi.

* Penggelut Makna Kata

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s