Hormat

Samsudin Berlian* (Kompas, 25 Jun 2016)

Kata hormat pada “hormatilah orang yang sedang berpuasa” tidak sama dengan hormat pada “hormatilah orang yang tidak berpuasa”. Menyetarakan keduanya dalam satu tarian sungsang telah mengaburkan inti masalah dan mempersulit pencarian jalan keluar.

Menghormati manusia lain bisa berarti mengakui kemuliaan, kehebatan, ketekunan, pencapaian, intelektualitas orang lain, atau menghargai sifat jujur dan berani, atau mengagumi pembela si lemah, pahlawan penyelamat negeri, penemu, guru berdedikasi, atau dengan sengaja memberikan muka kepada orang lain karena jabatannya lebih tinggi, nenek-moyangnya lebih terkenal, kekayaannya lebih besar, dan seterusnya. Hormat dalam arti-arti itu bisa disarankan, diajarkan, dan dibiasakan, tapi tak bisa dipaksakan. Upaya pemaksaan dari si kuat akan berujung pada ketakutan dan kemunafikan pada diri si lemah. Apabila yang dipaksa juga kuat, yang timbul cemooh dan hinaan, seperti tersebar di media sosial.

Menghormati manusia lain juga bisa berarti mengakui kemuliaan yang melekat di dalam diri setiap manusia, lepas dari pencapaian atau kehebatannya, terutama mereka yang kedudukan sosialnya, entah jangka panjang entah pendek, relatif lemah-perempuan, difabel, miskin, usia lanjut, anak-anak, pengungsi, pekerja kasar, minoritas berbagai golongan: agama, etnisitas, bahasa, dan sebagainya. Selain bisa dipromosikan, penghormatan dalam kategori ini bisa dipaksakan. Upaya pemaksaan bukan terhadap si lemah, melainkan hanya terhadap si kuat, yakni, yang berpotensi menindas, misalnya negara atau mayoritas. Jadi, negara bisa dan telah-melalui berbagai instrumen legal dan etis yang telah ditetapkan lembaga internasional dan telah diakui dan disahkan menjadi undang-undang resmi Indonesia-dipaksa atau diwajibkan menghormati hak-hak asasi manusia-manusia yang kedudukan sosialnya lemah itu. Penghormatan itu mewujud dalam perlindungan dan dukungan nyata. Bahwa negara dalam banyak kasus gagal melindungi orang-orang Syiah, Ahmadiyah, Kristen, Baha’I, Ateis, serta penduduk miskin, masyarakat adat, LGBTIQ, perempuan, buruh, dan sebagainya, dari serangan kelompok-kelompok kuat-bahkan negara itu sendiri menjadi penindas-adalah kegagalan Indonesia membuktikan diri sebagai negeri modern yang beradab.

“Hormatilah orang yang berpuasa” termasuk dalam kategori pertama. Puasa adalah sesuatu yang dilaksanakan, yang dicapai. Berpuasa sebulan penuh adalah pencapaian besar. Apabila orang lain menghormatinya, itu pun wajar. Apabila orang yang tak berpuasa diajak dan dibujuk untuk menghormati orang yang berpuasa, itu pun pantas. Namun, apabila dipaksakan, apa pun wujud “hormat” yang dituntut itu, dengan peraturan negara atau ancaman kekerasan dari aparatur negara dan kelompok beringas, yang timbul bukan hormat, melainkan takut dan waswas. Mereka yang tak terancam langsung pun menghina, mencemooh, dan menertawakan. Si liyan korban.

“Hormatilah orang yang tidak berpuasa” termasuk dalam kategori kedua. Tidak berpuasa bukan tindakan aktif. Orang yang tidak berpuasa dihormati bukan karena kegiatan atau pencapaiannya, melainkan karena nilai inheren kemanusiaannya, sebagaimana setiap insan manusia wajib dihormati, yakni dijunjung dan dilindungi hak-hak asasinya. Penghormatan ini diwajibkan oleh UUD 45 dan UU Ratifikasi kepada negara dan mayoritas sebagai kelompok kuat.

Ketika kelompok beringas memaksa orang tak puasa “menghormati” mereka, terjadilah berbagai tindakan negatif-mereka mengatasnamakan umat keseluruhan padahal jumlah mereka sedikit; mereka menimbulkan rasa takut dan sikap munafik pada orang lain; dan mereka menghinakan hak-hak asasi orang lain. Sementara itu, mereka yang tak puasa tak menuntut-apalagi memaksa-apa-apa. Bagi mereka, dihormati hanya berarti tidak diganggu. Dalam situasi tak setara seperti ini, “saling menghormati” adalah seruan keblinger. Persoalan sejati bukan pada “hormat”, melainkan “-lah” atau “harus”, yakni, pemaksaan sepihak oleh kelompok kuat terhadap golongan liyan yang lemah.

* Penggelut Makna Kata

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s