Memenangkan dan Memenangi

Yanwardi*, Kompas, 2 Jul 2016

Ada beberapa alasan mengapa saya tergerak mengangkat kembali ihwal memenangi vs memenangkan (pertandingan). Pertama, dalam pemakaian lisan sehari-hari, memenangkan selalu muncul alih-alih memenangi dan dalam situasi lisan yang formal pun, misalnya, di acara televisi sering keceplosan para peserta pembicaraan menggunakan memenangkan. Kedua, dari puluhan naskah yang saya edit, tidak ada satu pun yang memakai memenangi. Beberapa penulis bahkan bersikeras memakai memenangkan. Ketiga, ketika saya tanyakan kepada beberapa teman penutur bahasa Indonesia, mereka malah merasa aneh dengan memenangi. Keempat, karena bahasa bersistem, terjadi ekses penggantian ”me-/-kan” dan ”me-/-i” yang serampangan.

Lalu, bagaimana sebenarnya secara gramatikal kata memenangkan (pertandingan) ini? Apakah bisa dipertanggungjawabkan secara gramatikal?

Kata memenangi hingga tahun 1990, ketika saya meneliti perbedaan perilaku imbuhan ”me-/-kan” dan ”me-/-I”, belum muncul. Kata ini muncul bukan secara aktual, melainkan secara potensial atau analogis. Menurut ahli linguistik Bambang Kaswanti Purwo, penggantian memenangkan dengan memenangi itu dipicu tulisan JS Badudu di Intisari edisi September 1994. Inti persoalan bermula dari penetapan makna ”me-/-kan” dalam memenangkan, yakni makna kausatif atau ’membuat O jadi D’. Dengan penetapan itu, memenangkan, misalnya, dalam ”ia memenangkan pertandingan” salah karena yang menang adalah ia (subyek), bukan pertandingan (obyek). Jadi, supaya yang menang adalah subyek, memenangkan harus diganti dengan memenangi.

Pertanyaannya, mengapa memenangkan ditafsirkan harus bermakna kausatif, padahal ”me-/-kan” memiliki beberapa makna gramatikal (benefaktif, instrumental, dan lain-lain), termasuk makna ’D atau menang akan/dalam’, sebagaimana dalam paradigma: memenangkan, memerlukan, membutuhkan, menyayangkan (kejadian), merindukan, memprihatinkan, membanggakan, melupakan, mengingatkan, dan lain-lain. Dalam paradigma ini, yang mengalami atau melakukan tetap subyek, bukan obyek: saya memerlukan/membutuhkan uang/dan seterusnya. Dengan demikian, dalam ”Ia memenangkan pertandingan” yang menang adalah ia dan makna gramatikal imbuhan ”me-/-kan” adalah ’D akan/dalam’ atau ’menang akan/dalam (pertandingan)’. Jadi, mengapa harus dimunculkan bentuk yang belum faktual, yaitu memenangi?

Sudah selazimnya bahwa kaidah bahasa disarikan dari data kebahasaan, bukan sebaliknya memaksakan kaidah pada data. Akibatnya, karena bahasa bergerak dalam struktur dan prinsip kerja sama yang ketat, penggantian memenangi mulai berdampak, misalnya, pada pertanyaan yang muncul dari seorang pemelajar bahasa Indonesia: mengapa tidak mengalahi, tetapi mengalahkan; mengapa bentuk me-/-kan dalam paradigma tadi tidak diubah juga menjadi berimbuhan ”me-/-I”/. Bahkan, belum lama ini muncul eksesnya dalam judul media daring ”Kementan Siap Hamili 2 Juta Sapi Betina Pakai Inseminasi Buatan”.

Kata memenangi lebih hidup pada ranah-ranah tertentu, misalnya, media massa dan kalangan tertentu, tidak natural hidup dalam pemakaian bahasa. Tak percaya? Coba tanyakan pada penutur bahasa Indonesia. Jika pun mereka menggunakan memenangi, mereka berkesan latah, bukan karena dari intuisi bahasanya. Ini bisa dibuktikan ketika ditanyakan sebab pemakaiannya. Lepas dari itu, waktu akan membuktikan apakah memenangi tetap bertahan atau bahkan mengalahkan memenangkan secara langue (sistem bahasa).

* Editor pada Yayasan Obor

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s