Lafal

Sori Siregar* (Kompas, 9 Jul 2016)

Menurut pakar bahasa J.S. Badudu, dalam salah satu tulisannya, orang di Indonesia bagian timur melafalkan kata mentereng (dengan tanda aksen atau tanda diakritik pada aksara ”e” di suku kata kedua dan ketiga) dengan mentereng (dengan tanda aksen pada aksara ”e” di suku kata pertama dan ketiga).

Tekanan suara pada kata ini juga berbeda. Yang umum dikenal tekanan diberikan pada suku kata kedua. Namun, di Indonesia bagian timur tekanan suara itu ditempatkan pada suku kata pertama. Perbedaan ini terjadi karena adanya dialek yang berbeda antara satu wilayah dan wilayah lain. Dalam berbahasa kita mengenal apa yang disebut dialek regional dan ragam bahasa. Kata mentereng yang kita bicarakan mungkin dapat dimasukkan dalam kedua-duanya, yaitu dialek regional dalam ragam bahasa cakapan.

Menyamakan lafal berbagai suku bangsa yang berasal dari berbagai daerah jelas tidak mungkin. Perbedaan senantiasa terjadi. Karena itu, kamus dapat menetapkan ejaan dan lafal yang baku, tetapi dalam praktik, ejaan memang dapat dibakukan, sedangkan lafal menentukan pilihannya sendiri, sesuai dengan kelaziman yang berlaku di suatu daerah.

Semua bahasa berkembang, termasuk bahasa Indonesia. Dapat dipahami mengapa setiap kali terbit kamus baru, jumlah entri yang masuk tidak sedikit. Namun, dalam entri baru tersebut terdapat pula entri lama yang mengalami perubahan ejaan. Misalnya, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi pertama (1988) tercantum kata peta disusul dengan dua garis miring yang mengapit kata peta itu dan diberi tanda aksen pada aksara ”e” pada suku kata pertama.

Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV tidak demikian halnya. Kata peta tidak diberi tanda aksen pada aksara ”e” di suku kata pertama. Mengapa ini terjadi? Kita tidak tahu sebabnya. Padahal, makna kata itu tetap sama yaitu ’gambar atau lukisan pada kertas dsb yang menunjukkan letak tanah, laut, gunung, dsb’; ’representasi melalui gambar dari suatu daerah yang menyatakan sifat, seperti batas daerah, sifat permukaan’; ’denah (disalin sesuai dengan aslinya termasuk penggunaan singkatan)’. Adanya perbedaan ejaan ini tentu menyebabkan terjadinya perubahan lafal.

Perubahan seperti ini terjadi pula pada kata masjid, yang sebelumnya dieja mesjid. Menurut seorang ahli bahasa, kata masjid digunakan karena berasal dari kata Masjidilharam dan Masjidilaksa. Jika demikian halnya, mengapa tidak sejak awal digunakan kata masjid. Perubahan ini tidak akan memengaruhi lafal orang yang sebelumnya menggunakan kata mesjid, bukan masjid. Orang yang sejak kecil mengenal kata mesjid tetap akan menggunakan lafal mesjid walaupun ejaannya masjid, sedangkan ketika menyebut Masjidilharam dan Masjidilaksa, mereka tetap menggunakan lafal yang sesuai dengan ejaannya pula.

Mengapa kata subyektif diubah ejaannya menjadi subjektif? Ini juga menjadi pertanyaan. Mungkin ada kaitannya dengan ejaan objektif yang sejak awal hingga saat ini tetap menggunakan ejaan yang sama, bukan obyektif.

Ejaan yang tidak diiringi tanda aksen juga sering dilafalkan salah. Misalnya kata senjang. Dalam KBBI perdana hingga KBBI IV kata tersebut harus dilafalkan ”senjang” dengan tanda aksen pada aksara ”e”. Namun, jarang sekali orang melafalkan kata itu dengan benar. Bahkan, jika kata yang berasal dari Minangkabau ini kita lafalkan dengan benar, mungkin ada yang menganggap kita menggunakan dialek regional dalam ragam cakapan.

Inkonsistensi dalam berbahasa memang terdapat juga dalam bahasa asing. Ejaannya boleh sama, tetapi melafalkannya berbeda. Contohnya kata dull dan pull dalam bahasa Inggris. Tiga aksara terakhir pada kedua kata tersebut yaitu ull tidak membuat lafalnya sama.

Yang terjadi dalam bahasa kita tampaknya juga seperti itu. Ejaan yang berubah seharusnya membuat cara melafalkannya juga berubah. Namun, yang sering terjadi, ejaan yang berubah tidak membuat orang mengubah lafalnya pula karena telah terbiasa dengan lafal terdahulu.

Alangkah baiknya jika perubahan yang terjadi dalam ejaan tidak membuat orang bertengkar karena perubahan cara melafalkannya. Ini pernah terjadi antara dua orang teman saya. Yang menarik, banyak di antara kita yang tidak mengubah ejaan produk, tetapi melafalkannya prodak. Ini sering kali terjadi dalam percakapan dan wawancara baik di media elektronik maupun media cetak. Siapa tahu dalam KBBI V nanti, lafal tersebut dianggap baku. Bisa saja, bukan?

* Cerpenis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s