Stagnasi Sekuler

Arianto A. Patunru* (Majalah Tempo, 11 Jul 2016)

Kata sekuler atau sekular biasanya dihubungkan—atau dilawankan—dengan hal-hal yang berkonotasi agama. Umumnya, ia adalah sifat kebendaan atau duniawi. Tapi kata itu mempunyai arti yang lain, yaitu sifat yang mengacu pada keberlangsungan yang lama sekali atau pada kecenderungan yang menjadi stabil dalam jangka panjang, untuk membedakannya dengan siklikal (musiman) atau struktural (terkandung dalam sistem).

Dalam ranah ekonomi, kata sekuler dalam pengertian kedua itu kembali menyeruak sejak ekonom Larry Summers mengingatkan publik tentang stagnasi sekuler, terutama di negara-negara maju. Dalam ceramahnya di Forum IMF menjelang akhir 2013, Summers memberikan prediksi—tepatnya kekhawatiran—yang kelam bahwa krisis keuangan dunia yang dimulai pada 2007 masih akan terus bersama kita untuk waktu yang lama. Perekonomian akan mandek (lebih dari jumud: stagnan). Dan ia bakal mandek dalam rentang waktu yang bisa sangat lama (sekuler). Inilah stagnasi sekuler, secular stagnation. Ia bukan sekadar pertumbuhan yang melambat, ia adalah kemandekan yang bandel.

Istilah “stagnasi sekuler” sendiri sebenarnya ada sejak dulu. Ekonom Alvin Hansen (sering disebut sebagai Keynes-nya Amerika) dalam ceramahnya di American Economic Association pada 1938 (75 tahun sebelum Summers) memperkenalkan istilah secular stagnation sebagai masa yang ditandai oleh “upaya pemulihan yang gagal dan mati muda, depresi yang memangsa dirinya sendiri, mewariskan pengangguran yang sungguh sulit diperbaiki”. Betapa gelap.

Untungnya Hansen keliru. Prediksinya bahwa Depresi Besar yang dimulai pada 1929 itu akan terus menggerus perekonomian untuk waktu yang sangat lama meleset. Setahun setelah ia menyuarakan kekhawatirannya, praktis perekonomian dunia telah pulih. Beberapa faktor yang mampu menahan keterpurukan lebih jauh, seperti perkembangan teknologi dan pertumbuhan demografi yang pesat, luput dari skenario Hansen.

Tapi belakangan ini hantu “SecStag”—nama kecil stagnasi sekuler—muncul lagi. Bekas Kepala Federal Reserve Ben Bernanke tidak sekhawatir Summers. Ia skeptik atas anggapan bahwa perlambatan ekonomi saat ini akan berlangsung lama, sekuler. Menurut dia, sudah ada tanda-tanda pemulihan, investasi akan kembali lagi, dan dimensi internasional memungkinkan modal dari satu tempat mengalir ke tempat lain, mematikan kemungkinan stagnasi sekuler. Menjawab Bernanke, Summers berkata ia tentu akan gembira jika, seperti Hansen, ia terbukti salah. Bahwa ekonomi tidak akan terus meluncur ke jurang yang dalam. Namun ia bergeming. Lihat saja bagaimana hampir semua prakiraan pertumbuhan ekonomi terus dikoreksi ke bawah, katanya. Ini bukan cuma sisa-sisa krisis finansial global, tapi memang ada masalah struktural jangka panjang yang serius. Kita harus siap bahwa kebijakan ekonomi yang kita pakai sekarang tidak mempan, tambahnya. Kita perlu melakukan ekspansi investasi besar-besaran, baik oleh pemerintah maupun oleh swasta. Dan kita butuh koordinasi global yang efektif. (Mekanisme stagnasi sekuler dan artinya bagi Indonesia ditulis apik oleh M. Chatib Basri di Kompas, 5 Oktober 2015.)

Terlepas dari debat Summers dan Bernanke—yang juga diimbuhi banyak ekonom lain itu—kita sadar: wacana ekonomi memang penuh jargon. Bukan hanya publik yang sering bingung, ekonom sendiri pun suka gamang. Barry Eichengreen bilang bahwa SecStag itu semacam tes Rorschach—tes bercak tinta yang sering digunakan dalam psikologi: ia bisa punya arti yang lain di mata orang yang berbeda (Kupu-kupu? Burung? Entahlah).

Dan ekonom memang doyan istilah-istilah bombastis. Adakah yang iseng menghitung berapa banyak great (besar yang mega) dalam ekonomi? Periode malaise 1929-1939 kita sebut Great Depression. Ketika dunia dilanda inflasi besar-besaran pada 1970-an, muncul istilah Great Inflation. Lalu negara-negara berangsur pulih pada 1990-an: Great Moderation. Yang terakhir, era krisis 2007-2009 kita sebut Great Recession. Dari semuanya, yang terdengar positif di telinga hanya moderation. Yang lain—depression, inflation, recession, dan tentu saja: secular stagnation—terasa muram. Apa boleh buat. Namanya juga dismal science.

* Peneliti di Australian National University

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s