Kenyam

Damiri Mahmud* (Kompas, 23 Jul 2016)

Dalam artikel “Lekat di Lidah, Sulit Dilupa” yang tersua di Kompas terbitan Minggu, 3 April 2016, ada kalimat “Pada setiap sesapannya, jejak kopi terasa mencuri dan mendominasi lidah.” Kemudian ada pula kalimat “Banyak pelanggan yang menyesap kopi sambil bermain catur.” Yang menarik perhatian pada kalimat itu adalah kata sesap serta bentukan sesapan dan menyesap.

Dalam kajian semiotika selalu diperhatikan betul masalah makna kata dan kalimat. Di kolom-kolom obituari tak pernah kita jumpai kata mati terhadap orang yang dikenang, melainkan meninggal dunia atau wafat. Sebaliknya untuk diri sendiri bisa kedengaran simpatik atau malah heroik: “Sekali berarti sudah itu mati,” kata Chairil Anwar.

Saya teringat Ayah ketika ngomong dengan Emak.

“Beri kucing itu baham!” kata Ayah.

“Eh, baham pulak,” sergah Emak. “Makan.”

Ayah menambahkan, “Kalau makan, itu untuk kita manusia. Kalau kepada binatang macam kucing itu, bilang baham. Sudah halus itu untuknya.”

Bagi pemakai bahasa Indonesia sebagai bahasa ibunya, kata sesap dan menyesap kurang enak didengar kalau ditujukan untuk orang. Kata itu memang khusus ditujukan kepada hewan. Memang boleh juga digunakan untuk manusia, tetapi kalimat seperti itu selalu disertai muatan moral atau perilaku. “Eka menyesap minumannya seperti kucing kehausan” atau “Seorang ibu kesal kepada anaknya karena selalu menyisakan minumannya. Siapa yang mau menghabiskan bekas sesapanmu itu?”

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV, kata sesap diartikan ‘isap’, sedangkan menyesap artinya ‘minum dengan mengisap (seperti burung atau binatang)’ yang boleh juga diartikan ‘menyusu’. Sesapan diartikan ‘tempat minum burung’ atau ‘pengisapan’.

Sebagaimana yang disarankan KBBI di atas, kata sesap lebih elok dipasangkan berkenaan atau bersangkut paut dengan kehewanan. Akan tetapi, kita toh tak pernah mendengar kalimat “Bayi sedang menyesap” seperti tertera dalam KBBI itu. Yang lazim adalah “Bayi sedang menyusu”.

Artikel di Kompas yang disebut di atas akan lebih tepat kalau berbunyi “Pada setiap irupannya,… ” dan “banyak pelanggan yang menghirup kopi”.

Atau, kalau sudah bosan dengan kata yang lazim, bagaimana jika kata sesap itu kita ganti dengan kenyam?

Kata kenyam mempunyai makna yang luas dan enak diucapkan serta didengar. Bukan saja bisa dipasangkan kepada kalimat bersifat lahiriah seperti di atas, seperti juga kepada hal yang bersifat batiniah atau abstrak. Misalnya mengenyam pendidikan; mengenyam kemanisan dan kegetiran hidup.

Terutama juga kata kenyam bisa menjadi padanan konsumsi. Dalam artikel “Telur Asin yang Kaya Rasa” ada kalimat berupa petikan “Khasiatnya antara lain rendah kolesterol jahat sehingga bisa dikonsumsi oleh orang yang berpantang kolesterol”. Kata dikonsumsi dalam kalimat itu bolehlah kita ganti dengan dikenyam.

Kata konsumsi dan bentukannya dewasa ini mulai mewabah, terutama di media cetak dan elektronik. Bukankah sudah disepakati bahwa dalam pembentukan istilah, lebih didahulukan atau diutamakan kata-kata yang berasal dari rumpun bahasa kita sendiri?

* Penyair, Esais

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s