Bahasa Benar

Samsudin Berlian* (Kompas, 30 Jul 2016)

Sudah puluhan tahun slogan konyol ”bahasa yang baik dan benar” merajalela di seantero jagat Nusantara. Tak terdengar protes bergaung. Iyalah. Masa, baik dan benar dilawan? Siapa, sih, yang mau buruk dan salah, selain politisi yang gemar menciptakan kebenaran tanpa fakta dan etika? Baiklah. Yang baik kita terima saja. Tak usah dipermasalahkan. Tapi, ”yang benar” sungguh problematik. Benar dalam arti apa? Bagaimanakah menentukannya? Siapa yang menentukan?

Benar biasanya dipakai dalam dua arti yang tidak saling berhubungan. Pertama, benar dalam arti sesuai dengan yang ada, faktual. Kedua, benar dalam arti sesuai dengan yang seharusnya, ideal, etis. Kalimat ”memang benar dia telah bertindak tidak benar” mempertentangkan perbedaan itu dengan tajam—sungguh terjadi dialah yang bertindak, tapi tindakannya itu tidak sesuai dengan yang seharusnya, tidak patut. Kedua makna ini masing-masing bergantung pada fakta atau prinsip etika, yang menjadi acuan di dunia nyata. Kalimat itu benar apabila fakta dan prinsip etika, yang berada di luar kalimat itu, membuktikannya.

Nah, bahasa itu termasuk benar faktual atau benar etis? Tidak dua-duanya. Mengapa? Sebab yang diacu sebetulnya bukan kebenaran melainkan kesepakatan, konsensus.

Bahasa yang ”benar” adalah bahasa yang ”dinyatakan atau diakui benar”.

Di dunia material, kebenaran faktual dan kebenaran etis selalu harus dibuktikan secara substansial dan logis. Di dunia bahasa tidak demikian halnya. Kebenaran bahasa, baik isi maupun bungkus, baik makna kata maupun tata bahasa, hanya perlu pengakuan dari pemakai-pemakainya. Asal sepakat, jadilah benar. Misalnya, apakah garuda itu burung mitologis, burung sungguhan, lambang negara, maskapai peterbangan, atau kacang olahan, sepenuhnya berada di tangan mereka yang menyampaikan dan menerima komunikasi. Urutan subyek-predikat-obyek mengikat hanya sejauh kesediaan si pemakai bahasa untuk diikat. Pesyair dan pembaca atau pendengar syair misalnya sering kali sepakat untuk melanggar tata bahasa baku kapan saja mereka suka.

Sifat kesepakatan sama sekali sewenang-wenang, sesuka hati.

Apa yang disepakati kemarin bisa diubah hari ini. Begitu kesepakatan berubah, yang dianggap atau disebut baku itu pun berganti. Bentuk huruf, bunyi huruf, pengejaan, makna kata, tata bahasa—semua bisa, dan sepanjang sejarah memang telah selalu, berubah.

Tata atau hukum bahasa bukan hukum alam faktual dan bukan hukum pidana etis, melainkan lebih mirip peraturan lalu-lintas yang ditentukan asal ada demi kelancaran transportasi. Kendaraan meluncur di sebelah kiri atau kanan jalan ditetapkan begitu saja. Yang menetapkan hukum lalu-lintas, tentu saja, adalah kementerian perhubungan dan kepolisian. Tapi, siapakah yang menetapkan hukum bahasa demi kelancaran komunikasi? Tentu saja pemakai. Lebih tepat, kelompok pemakai. Lebih pas lagi, kelompok-kelompok pemakai.

Ada petinggi dan pejabat bahasa yang diangkat negara. Ada pula ahli dan peneliti bahasa. Ada aktivis bahasa. Biasanya suara dan pandangan mereka dianggap berbobot. Pejabat bisa menentukan kesepakatan baru—misalnya, mengubah ejaan. Aktivis bahasa cenderung memuliakan bahasa sendiri dan tidak suka pengaruh bahasa asing. Ada juga yang cepat menghakimi ”kesalahan” bahasa orang lain. Petulis berpengaruh lewat gaya dan popularitas. Petulis besar bergaya baru bisa menggerakkan kesepakatan baru. Organisasi dan individual juga menciptakan perubahan dan perombakan. Bahasa yang hidup mengalami ketegangan kreatif ketika kelompok-kelompok pemakai saling rebut pengaruh.

Sebagian kelompok garis keras berlagak sebagai polisi dan hakim bahasa.

Kesepakatan terjadi kurang lebih universal ketika suatu bahasa nasional ditetapkan atau dipermaklumkan. Namun, tidak ada bahasa yang disepakati segala aspeknya tanpa kecuali. Selalu ada kesepakatan geografis lokal yang muncul dalam wujud dialek dan preferensi bahasa. Ada kesepakatan temporal seiring lahir dan matinya kata dan frasa. Ada kesepakatan terbatas bahasa ”rahasia” atau ”misterius” kelompok-kelompok gender, remaja, saintis, teknolog, agama, organisasi, maling, koruptor. Ada kesepakatan teknis bahasa media sosial yang serba-singkat dan berikon. Kesepakatan bisa terjadi di lingkup luas atau sempit, pada rentang waktu lama atau sebentar. Bahasa hidup bertumbuh-kembang dan beranak-pinak.

Kebenaran bahasa itu sekaligus liar dan teratur, bebas dinamis, tidak statis.

* Penggelut Makna Kata

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s