Minang Mart dan Kedai Minang

Holy Adib* (Haluan, 3 Agu 2016)

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Barat (Sumbar) berencana mengganti nama Minang Mart menjadi Kedai Minang. Menurut Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit, Minang Mart diganti karena merek itu sudah dipakai oleh pengusaha asal Minang di Bandung dan sudah didaftarkan ke Kemenkumham beberapa hari setelah Minang Mart diluncurkan di Padang (Harianhaluan.com, 31 Juli 2016).

Saya menyambut baik penggantian nama tersebut karena saya pernah mengusulkan penggantian nama Minang Mart menjadi Kedai Minang atau Warung Minang dalam artikel saya yang berjudul “Minang Mart dan Undang-Undang Bahasa” (Haluan, 19 Juli 2016). Dalam artikel itu, saya menerangkan bahwa penamaan Minang Mart tidak sesuai dengan UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, karena mart adalah kata dari bahasa Inggris. Dalam pasal 36 ayat 3 UU tersebut dicetuskan: Bahasa Indonesia wajib digunakan untuk nama bangunan atau gedung, jalan, apartemen atau permukiman, perkantoran, kompleks perdagangan, merek dagang, lembaga usaha, lembaga pendidikan, organisasi yang didirikan atau dimiliki oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia.

Akan tetapi, penggantian nama itu belum layak diapresiasi. Alasan Pemprov Sumbar mengganti Minang Mart menjadi Kedai Minang bukan karena kesadaran dan kepatuhan terhadap UU Nomor 24 Tahun 2009, melainkan karena nama Minang Mart sudah digunakan pihak lain. Itu alasan yang memprihatinkan.

Yang sangat saya sesalkan, Pemprov Sumbar bahkan berusaha mempertahankan nama Minang Mart. Upaya tersebut adalah membujuk pengusaha pengusaha Minang yang memakai nama Minang Mart untuk mencabut merek usaha itu di Kemenkumham agar nama Minang Mart bisa dipakai oleh Pemprov Sumbar. Sementara menunggu nama Minang Mart dicabut, Pemprov Sumbar mengajukan nama Kedai Minang sebagai nama alternatif (Antarasumbar.com, 19 Juli 2016).

Intinya, Pemprov Sumbar tak memedulikan UU Nomor 24 Tahun 2009. Sikap tersebut tidak elok dan tidak etis bagi Pemprov Sumbar yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah pusat. Padahal, UU tersebut diusulkan oleh pemerintah, lalu dibahas dan disetujui oleh DPR.

Sebenarnya, sebelum ada UU Nomor 24 Tahun 2009, ada Permendagri Nomor 40 Tahun 2007 tentang Pedoman Bagi Kepala Daerah dalam Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Negara dan Bahasa Daerah. Dalam pasal 2 Permendagri tersebut dituliskan: Kepala daerah bertugas melaksanakan: a. pelestarian dan pengutamaan penggunaan bahasa negara di daerah. Kemudian, dalam pasal 3 bagian b diperikan, “dalam melaksanakan tugas-tugas, sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 2, kepala daerah menerbitkan petunjuk kepada seluruh aparatur di daerah dalam menerbitkan bahasa di ruang publik, termasuk papan nama instansi/lembaga/badan usaha/badan sosial, petunjuk jalan dan iklan, dengan pengutamaan penggunaan bahasa negara.

Cukup dengan landasan Permendagri tersebut, seharusnya Pemprov Sumbar tidak menyematkan kata dari bahasa Inggris pada penamaan Minang Mart. Tapi, apa mau dikata, jangankan Permendagri, UU pun tak diindahkan oleh Pemprov Sumbar.

Satu hal lagi yang memprihatinkan dari penggantian nama Minang Mart tersebut adalah komentar sejumlah wartawan di grup Koalisi Wartawan Anti Kekerasan (KWAK) Sumbar, sebuah grup wartawan di WhatsApp. Beberapa oranng wartawan di grup itu mempertanyakan, kenapa hanya nama Minang Mart yang saya kritik. Padahal, banyak tempat usaha dan merek dagang lain di Sumbar yang juga menggunakan kata-kata bahasa Inggris, seperti nama perumahan, atau merek dagang, seperti Kentucky Fried Chicken, atau nama toko yang ada embel-embel supermarket, minimarket, dan plaza.

Kemudian, ada seorang wartawan yang berkomentar di grup itu bahwa penggunaan kata mart pada Minang Mart bisa jadi karena ada kajian unsur bisnis untuk menarik minat pembeli. Untuk hal-hal seperti itu, wajar penggunaan istilah asing.

Berikut jawaban saya atas pertanyaaan dan komentar tersebut: Nama usaha apa pun yang berasal dari dalam negeri mesti mengutamakan penggunaan kata-kata dari bahasa Indonesia. Pengembang perumahan yang memakai nama bahasa Inggris itu jelas salah. Banyak nama perumahan yang menggunakan nama Indonesia dan perumahannya bagus, laris, dan terkenal. Hal ini pernah ditulis sebagai berita oleh Kompas pada 29 September 2009 dengan judul Konsumen Terpaksa “Mengunyah” Properti Bermerek Asing. Berikut saya kutipkan beberapa paragraf berita tersebut:

Penamaan merek berbau asing pada properti yang dibangun para pengembang kembali marak terjadi dalam satu setengah dekade terakhir. Menurut pengajar Bahasa Indonesia di berbagai instansi, Anwari Natari, membaca fenomena tersebut tak lebih sebagai kepentingan marketing belaka. Selain itu, para pengembang masih menganggap elegansi identik dengan bahasa asing.

Anwari menilai kembali maraknya penamaan produk barang dan jasa dengan bahasa asing, sangat memprihatinkan. Seolah-olah, istilah asing lebih keren dibanding istilah Indonesia. Padahal, kata Anwari, merek berbau Indonesia tak kalah elok. Bahkan, produk properti dengan nama lokal justru diburu orang. Sebut saja “Kota Baru Parahyangan” yang sukses merebut hati para investor, baik yang berdarah Sunda maupun nusantara.

Jadi, bukan soal saya tidak mengkritik nama perumahan, hotel, bangunan usaha, dan merek-merek produk yang memakai kata-kata dari bahasa Inggris, melainkan karena hal itu tidak memungkinkan untuk ditulis dalam satu artikel. Halaman artikel di koran untuk sekali terbit hanya bisa menampung 1.400 hingga 1.500 kata paling banyak. Saya akan membahas hal tersebut dalam satu artikel khusus.

Sementara itu, mengenai penggunaan merek produk berbahasa Inggris, seperti Kentucky Fried Chicken (KFC). Merek dagang KFC ialah merek dagang dari luar negeri, yang tidak mungkin diubah ketika masuk ke Indonesia. Hal itu juga berlaku bagi perumahan, hotel, atau produk lain yang berasal dari luar negeri.

Perihal nama toko yang ada embel-embel minimarket, supermarket, atau plaza, tiga kata tersebut sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia dan bentuk katanya sudah sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Minimarket dan supermarket diserap secara utuh, bukan sepenggal-sepenggal. Demikian juga dengan plaza yang sudah masuk KBBI.

Kata mart tidak bisa diserap ke dalam bahasa Indonesia karena ada padanannya dalam bahasa Indonesia, yakni pasar. Konsep pasar sudah lama ada dalam budaya masyarakat Indonesia. Sedangkan kata plaza, supermartket, dan minimarket diserap ke dalam bahasa Indonesia sebab Indonesia secara budaya tidak memiliki konsep plaza, minimarket, dan supermarket tersebut. Karena konsep pasar yang demikian diadopsi oleh pengusaha di Indonesia, dengan serta merta bahasanya juga diserap, kecuali kalau ada padanannya.

Tak ada alasan yang bisa dibenarkan dalam kacamata bahasa untuk menggunakan kata mart pada Minang Mart, termasuk komentar yang mengatakan bahwa penggunaan nama Minang Mart wajar saja karena ada unsur kajian bisnis untuk menarik pelanggan. Saya menduga kata mart dipakai oleh Pemprov Sumbar karena pengaruh terkenalnya nama Alfa Mart. Padahal, ada nama toko swalayan lain yang juga terkenal, yang memakai nama berbahasa Indonesia. Di Sumbar saja contohnya. Ada toko swalayan terkenal, yakni Citra Swalayan. Citra Swalayan merupakan salah satu toko swalayan terbesar di provinsi ini. Besar dan berkembangnya Citra Swalayan membuktikan bahwa nama yang menggunakan bahasa Indonesia menarik dari segi bisnis. Jadi, masalahnya bukan terletak pada nama, melainkan pada segi bisnisnya.

Simpulan dari semua hal di atas: ketika negara-negara lain mulai melaksanakan pengajaran bahasa Indonesia, di dalam negeri ada sejumlah orang yang malah tidak mau memartabatkan bahasa bangsa sendiri. Menurut Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, Dadang Sunendar,ada 233 lembaga internasional dari 35 negara yang melaksanakan pengajaran bahasa Indonesia, baik di universitas maupun lembaga pendidikan lainnya, dan jumlahnya mungkin terus meningkat. (Pikiran Rakyat, 17 Juli 2016).

* Wartawan Haluan, tinggal di Padang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s