Kaidah dan Istilah Asing

V. Sutarmo Setiadji*, Kompas, 6 Agu 2016

Dalam menganggit istilah untuk kata-kata yang berasal dari bahasa asing, ada beberapa ketentuan: yang dikeluarkan pemerintah, yang berpegangan pada selera pribadi, yang  memang sudah lama digunakan. Sayangnya, jarang yang memanfaatkan kaidah bahasa Indonesia yang asli.

Dahulu, untuk membuat istilah nama ilmu yang berasal dari bahasa asing, ada ketentuan dari pemerintah. Untuk ilmu yang berakhiran -cs, misalnya, -cs diganti dengan -ka. Physics, mathematics, dan mechanics menjadi fisika, matematika, dan mekanika. Namun, ternyata tidak semua menuruti ketentuan itu. Economics, statistics seharusnya menjadi ekonomika, statistika. Dahulu memang ada yang menggunakan ekonomika dan statistika, tetapi lama-lama istilah itu makin jarang digunakan. Sekarang yang lebih umum adalah ekonomi dan statistik saja. Dahulu ada lagi ketentuan, kata bahasa Inggris yang akhirannya -ty diserap menjadi -tas. Universitas, kualitas, realitas, dll. Namun, masih banyak yang lebih senang memakai realita, kuantita, dsb.

Saat ini ada ketentuan cara pembentukan istilah dari pemerintah untuk kata-kata yang berakhiran -cal: -cal diganti dengan -is. Jadi, medical menjadi medis. Ini pun tak semua mematuhinya.  Saat ini untuk biomedical, ada istilah biomedis, biomedika, dan biomedik. Pengguna masing-masing punya alasan sendiri.

Komisi Pembentukan Istilah Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang penulis menjadi anggotanya dari 1976 sampai 1994, dahulu mendapat bimbingan dari pakar bahasa Anton M Moeliono untuk istilah ilmu faal. Beliau menyarankan alternatif untuk membuat istilah semacam itu, yaitu menggunakan kaidah bahasa Indonesia asli. Dalam bahasa Indonesia, setiap kata benda asli dapat menjadi kata sifat atau kata keterangan tanpa memerlukan perubahan atau tambahan.  Misalnya, meja kayu berartinya ‘meja dari kayu’. Kalau ada meja yang rusak, kayunya dapat dibelah-belah menjadi banyak, timbul kayu meja yang artinya kayu yang asalnya dari meja. Banyak contoh untuk itu: biru langit, langit biru; biru bemo, bemo biru; dsb.

Menurut Anton M Moeliono, bila suatu kata asing sudah diterima sebagai kata Indonesia, maka kata itu dapat diperlakukan sama sebagai kata Indonesia asli. Kata molekul sudah umum diterima sebagai kata Indonesia. Maka, sewaktu penulis menjadi ketua modul Biologi Molekul di FKUI,  kata molekul sudah penulis gunakan untuk dipasangkan sebagai nama  modul Biologi Molekul. Namun, sesudah ketua berganti, nama modul itu menjadi Biologi Molekular atau Biologi Molekuler. Rupanya banyak yang masih menganggap aneh dan tidak tepat nama Biologi Molekul dan merasa lebih keren menggunakan kata-kata yang berbau bahasa Inggris, berbau bahasa asing. Itu merendahkan bahasa Indonesia!

Mengucapkan istilah asing masih banyak yang latah belaka. Latah berarti meniru ucapan orang lain seperti mengigau atau kurang menyadari. Dahulu ada seorang profesor yang mengucapkan WHO dengan we-ha-o karena dahulu  ketentuannya memang demikian. Namun, beliau dalam waktu yang sama mengucapkan ICCU dengan ai-si-si-yu. Kalau penulis mengucapkan i-ce-ce-u,  beliau menertawakan penulis. Padahal, orang Inggris mengucapkan singkatan kata bahasa Indonesia dengan cara mereka sendiri, mengeja seperti mereka mengucapkan huruf mereka sendiri. Sampai saat ini saya masih mendongkol kalau mengucapkan elpiji untuk singkatan LPG. Mengapa tidak dilafazkan el-pe-ge saja?

Membentuk istilah dengan mengambil kata Indonesia juga butuh perasaan. Dalam statistika, kata significant diganti dengan bermakna. Istilah ini tidak saja digunakan dalam statistika, tetapi dalam percakapan umum juga. Karena kurang disosialisasikan, ya, jarang yang menggunakan bermakna itu.

Saya kira semua rakyat Indonesia ingin bahasa Indonesia dapat dijadikan bahasa ilmu dan bahasa yang berkepribadian Indonesia. Untuk itu, semua komponen bangsa harus seia sekata bersama-sama membina bahasa Indonesia menjadi bahasa yang berkepribadian Indonesia. Berkepribadian Indonesia artinya kaidah-kaidah bahasanya juga digunakan secara bertanggung jawab dan benar. Peran lembaga bahasa Indonesia-entah Pusat Bahasa, entah Badan Bahasa-juga diperlukan. Sampai saat ini saya tidak tahu apakah lembaga bahasa Indonesia masih ada atau tidak karena saya tak pernah mendengar kiprahnya atau kegiatannya.

* Anggota Komite Pembentukan Istilah Kedokteran FKUI (1976-1994)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s