Bahasa Waria

Holy Adib* (Pikiran Rakyat, 7 Agu 2016)

Dalam kehidupan sosial terdapat banyak komunitas atau kelompok, baik resmi maupun tidak resmi. Beberapa komunitas memiliki bahasa tersendiri untuk berkomunikasi antaranggota komunitas. Bahasa tersebut untuk memperkuat keakraban antaranggota atau sebagai bahasa sandi komunitas agar isi pembicaraan atau informasi yang dibincangkan dalam internal komunitas tidak diketahui oleh pihak di luar komunitas.

Komunitas waria (wanita pria) adalah komunitas yang memiliki bahasa tersendiri. Dalam opini bahasa berjudul “Bahasa yang Melindungi” (Majalah Tempo, 10 November 2008), Bambang Bujono (wartawan dan praktisi bahasa) mengatakan, bahasa waria lahir–tersimpulkan dari skripsi ini–dari bawah sadar, semacam survival of the fittest, untuk bertahan hidup. Bahasa ini lahir bukan di ruang aman suatu pergaulan antarwaria, melainkan di daerah “gelap” pelacuran waria. Dua kondisi mendorong lahirnya bahasa ini. Pertama, mereka, para waria yang menjajakan diri, takut dijahati oleh konsumen mereka. Kedua, bahkan sebelum Undang-Undang Pornografi ada, para waria menyadari bahwa berkaitan dengan seksualitas “menyimpang”.

Akikah (aku), berondong (laki-laki muda), belenjong (belanja), sutra (sudah), pecongan (pacaran), kassandra (kasar), bandara (bandar), dendong (dandan), doyok (doyan), hemaviton (homo), adalah beberapa contoh bahasa waria.

Dari beberapa kosakata waria, ada sejumlah kata yang merupakan nama orang. Nama orang ini terbagi dua. Pertama, nama orang biasa, antara lain, adinda (ada), diana (dia), amir nurdin (amat), hamidah (hamil), aminah (aman), andika (adik), ani (anak), anjani (Anda), bagaskara (bagus), mursida (murah), endang (enak), maharani (mahal), dan mawar (mau), dan nanda (nanti). Kedua, nama orang terkenal, misalnya, soraya perucha (sakit perut), titi dj (hati-hati di jalan), dan titi kamal (hati-hati kalau sudah malam), cucu cahyati (cucu), deddy dores (demikian), dhanny dahlan (dandan), garin nugroho (garing), dan putu wijaya (putus).

Ada lagi kosakata waria yang merupakan nama daerah. Nama daerah ini dibagi dua pula. Pertama, nama daerah di Indonesia, seperti ambarawa (ambil), makassar (makan), maluku (malu), mataram (mati), banjar (baru), buleleng (bule), bukit barisan (buka), grogol (grogi), kalimantan (kalian), salatiga (salah tidak pada tempatnya), samarinda (sama), dan minahasa (minum). Kedua, nama negara, antara lain, belanda (belum), belgia (bahagia), bosnia (bosan), philadelphia (pilek), kamboja (kampung), rusia (rusak), dan ukraina (ukuran).

Entah dari mana para waria mendapatkan dan menyepakati kosakata tersebut menjadi bahasanya. Entah bagaimana pula bahasa tersebut bisa dimengerti oleh semua waria. Adakah rapat atau seminar bahasa dalam komunitas waria?

Bahasa waria adalah bahasa prokem atau bahasa slang seperti bahasa alay. Saya pernah berdiskusi mengenai hal ini dengan Kepala Balai Bahasa Sumatera Barat, Agus Sri Danardana. Menurutnya, bahasa prokem boleh saja digunakan jika hanya digunakan oleh kalangan pemakai bahasa tersebut. Yang jadi masalah, ketika bahasa tersebut masuk ke dalam percakapan di luar kalangan pemakainya karena kosakata bahasa tersebut bukan bahasa Indonesia.

Saya teringat obrolan dengan Pak Danar itu saat mengetahui bahwa beberapa kosakata waria sudah dipakai masyarakat umum, meski sering dipakai dalam tataran lisan. Beberapa contoh kosakata waria yang digunakan masyarakat umum, antara lain berondong, titi dj, bodrex (bodoh), capcus—kadang disingkat cus–(pergi), cucok (cocok), dugem (dunia gemerlap), ember (memang), gicu (gitu), icu (itu), jayus (lelucon tak lucu), jijay (jijik), jutek (judes), lebai (lebih), lesbong (lesbi), sami (sama), samisami (sama-sama), tulalit (tidak menyambung-kalau bicara), ya amplop (ya ampun). Beberapa kosakata tersebut mungkin diserap oleh waria dari bahasa pergaulan sehari-hari di luar komunitas waria, seperti kata dugem, jutek, dan lebai. Mungkin juga kata-kata itu memang milik kalangan waria, yang diadopsi oleh masyarakat umum.

Saat saya menyadari banyaknya bahasa waria masuk dalam petuturan sehari-hari masyarakat umum, saya segera membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Saya khawatir kalau para penyusun kamus kecolongan memasukkan kosakata tersebut. Setelah saya cek, beberapa kosakata tersebut terdapat dalam KBBI, tapi artinya berbeda dengan pengertian dalam dunia waria. Berondong, misalnya. Dalam KBBI, berondong artinya butir-butir jagung yang digoreng tanpa minyak sehingga mengembang dan pecah. Saya lantas bersyukur karena kosakata waria tidak mencemari KBBI.

Beberapa kosakata waria dipakai masyarakat umum mungkin karena pengaruh acara televisi yang menampilkan karakter waria. Saya senang saat membaca berita bahwa Komisi Penyiaran Indonesia melarang karakter waria ditampilkan di televisi. Jika para waria diberi panggung di televisi, kosakata bahasa waria semakin populer di masyarakat umum.

Kemungkinan lainnya adalah akibat pergaulan. Waria bergaul tidak hanya dengan sesama waria, tetapi juga bergaul dengan masyarakat umum.

Menurut Bambang Bujono, bahasa waria digunakan oleh kalangan di luar dunia waria, itu karena kata tersebut masuk ke dalam bahasa gaul yang digunakan para remaja.

Lalu, apa masalahnya kalau bahasa waria digunakan oleh masyarakat umum? Persoalan berbahasa tidak sesederhana bahwa bahasa bersifat manasuka (arbitrer). Bahasa membawa makna dan filosofi tersendiri, yang berasal dari asal bahasa tersebut. Menurut Bambang Bujono, sebagian besar bahasa waria berkonotasi seks dan pelacuran, kata-kata yang hanya digunakan di tempat, waktu, dan oleh kalangan terbatas, contoh kelewong (keluar, orgasme), esong-isabela (seks oral), aida-aida mustafa (hati-hati, AIDS).

Demikianlah. Menyerap bahasa dari sebuah kalangan ke dalam bahasa yang digunakan oleh umum (termasuk anak-anak), tidak sesederhana yang dipikirkan orang, apalagi bahasa dari kalangan waria. Pantaskah kata-kata kotor itu diadopsi ke dalam bahasa pergaulan sehari-hari?

Dengan beredarnya kosakata waria dalam petuturan masyarakat umum, pengaruh buruk apa yang ditimbulkan oleh hal tersebut? Sejauh ini belum ada pengaruhnya. Akan tetapi, dengan diterimanya bahasa waria oleh masyarakat umum, apakah masyarkat kita sudah menerima waria sebagai bagian dari masyarakat tanpa memandang mereka sebagai kelompok menyimpang? Bisa jadi begitu. Setidaknya, penerimaan itu sudah dimulai penerimaan kosakata bahasa mereka. Mungkin selanjutnya masyarakat akan menerima hal lain dari kebiasaan mereka.

* Wartawan, tinggal di Padang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s