Duit Elektronik

Seno Gumira Ajidarma* (Majalah Tempo, 22 Agu 2016)

Suatu peristiwa kebahasaan telah menimpa saya ketika membeli sesuatu yang agak mahal, yang bagi saya itu berarti akan membayar dengan kartu kredit ataupun kartu debit. Artinya bukan uang kertas, karena dengan nilai uang yang menjadi harganya, kantong saya akan menjadi sangat gembung jika membawa uang kertas.

“Saya bayar pakai kartu kredit, ya,” kata saya.

Namun petugas di toko tersebut berkata, “Maaf, Pak, yang ini mesti cash.”

Tentu kemudian saya ganti bertanya, “Di dekat sini ada ATM?”

Pertanyaan itu saya sampaikan karena penafsiran saya mengenai istilah cash dari bahasa Inggris tersebut bagi saya berarti kontan, tunai, atau dalam bahasa Jawa disebut jreng, dan itu berarti juga saya harus membayar dengan uang kertas.

Ternyata tidak begitu. Petugas itu ganti bertanya, “Bapak punya kartu debit?”

“Lho, bisa dibayar pakai itu?”

“Bisa, Pak.”

“Katanya tadi mesti cash.”

“Lha, itu kan cash, Pak.”

“Bukan, ini saya bayar pakai kartu.”

Sang petugas tidak memikirkan masalah kebahasaan, jadi ia menjawab saja, “Pokoknya bisa, Pak.”

Sayangnya, “ilmu pokoknya” ini tidak berlaku bagi saya.

“Cash itu maksudnya tunai, kan?”

“Iya, Pak.”

“Lha, kok boleh pakai kartu?”

“Kan, kartu debit, Pak.”

Hmm. Jadi kartu yang tidak bisa dihubungkan dengan pengertian cash atawa jreng adalah kartu kredit. Petugas yang setiap hari bergaul dengan urusan jual-beli di toko itu tentu tidak keliru: menerima pembayaran dengan kartu kredit itu berarti belum menerima uang, karena toko tersebut masih harus meminta uang kepada bank kreditor; sedangkan menerima pembayaran dengan kartu debit berarti uang kontan “langsung masuk” bank sendiri.

Lawan kata tunai ataupun kontan dalam kamus ataupun tesaurus bahasa Indonesia memang adalah mengangsur ataupun mencicil. Klop. Namun kesalahan saya dalam penafsiran kata cash tadi ada pembelaannya: bahwa di toko itu, dan dalam kehidupan sehari-hari di pasar, antara uang kertas dan uang elektronik secara kebahasaan sama sekali tidak dibedakan. Padahal seharusnya iya: bukankah di ATM pun sudah ada pilihan antara uang tunai dan uang elektronik yang disebut e-money?

Seberapa jauh kamus telah menanggapi ini? Jika kita periksa, sudah ada surat elektronik sebagai kata ganti electronic mail yang disingkat e-mail, yang dalam alih bahasa ke bahasa Indonesia terdengar agak ajaib: surel. Kadang saya terkacaukan dengan kata surreal dalam bahasa Inggris, yang sama sekali tidak ada hubungannya.

Bagaimana kita mau mengalihbahasakan istilah e-money? Pengertian uang elektronik tentu sudah betul, tapi bagaimana dengan singkatan atawa kependekannya? Kalau ingat bagaimana mall menjadi mal sahaja, sangatlah dimohonkan agar jangan sampai e-money menjadi imani—tapi apakah itu berarti ungel sebagai kependekan uang elektronik lebih baik? Karena tidak mungkin juga menjadi unik, sedangkan jika “taat asas” maka besar kemungkinan akan disebut uel. Namun mereka yang suka bermukim di dapur tidak mustahil mengusulkan kata ulek.

Ini menjadi persoalan kebahasaan, tentu, karena kedua bentuk uang ini sama-sama hadir di dunia ini. Uang tanpa bentuk yang nilainya sama itu harus diberi nama yang membedakannya dengan uang kertas, seperti ada surel di samping surat kertas. Terjemahannya memang sudah ada, meskipun belum masuk kamus, tapi kependekannya belum ada, belum hadir, meskipun tampaknya—kecuali dalam kasus saya tadi—tidak menimbulkan kekacauan apa-apa. Sama seperti kita dulu tidak perlu menegas-negaskan apakah akan membayar dengan uang kertas atau uang logam. Nah, apa jadinya dengan “rumus” bahwa tiada yang bermakna di luar wacana?

Kiranya bukan rumusan tersebut yang tidak berlaku lagi, melainkan bahwa makna “uang” tidak lagi bergantung pada “benda-benda” seperti kertas merah bergambar Sukarno-Hatta atau koin logam dengan lambang negara Garuda Pancasila, melainkan suatu kontrak budaya tersepakati bahwa terdapat nilai finansial teralihkan, tepatnya terbayarkan tunai, ketika angka-angka tertentu diketik pada mesin gesek di meja kasir. Bagi kelompok sosial tertentu, kata-kata seperti “punya duit” dan “tidak punya duit” memang terhubungkan dengan fakta nominal akurat sampai ke titik-komanya—tanpa keterlibatan uang kertas ataupun uang logam secuil pun.

Dalam hal ini, kata uang jelas masih menjadi penanda bagi nilai finansial yang sama, tapi merupakan pergeseran bahasa pula betapa uangnya tidak (perlu) ada.

* Wartawan panajournal.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s