Nama dan Rezeki

Dodi Ambardi* (Majalah Tempo, 29 Agu 2018)

Kita mengenal pepatah lama “nama membawa rezeki”. Karena itu, pada masa silam, orang tua memilih nama untuk anaknya yang memuat doa agar kelak sang anak menjadi orang yang makmur. Lalu kita mengenal nama-nama yang bermakna kekayaan, kesuksesan, atau keberuntungan: Suharto, Sugiharto, Sri Rejeki dengan variasi bahasa Arab, Rizki; Adrian (Latin, kaya raya), Asher (Ibrani, beruntung), Edmond (Inggris, makmur), Yasir (Arab, kaya raya), Zarifa (Arab, sukses).

Pengusaha juga memendam keinginan yang sama. Ketika memilih nama, sang pengusaha membayangkan bahwa perusahaannya kelak membawa keberhasilan. Dari itu kita mendengar nama PT Podomoro, Bank Artha Graha, Karoseri Langgeng, dan PT Toba Sejahtera. Secara berurutan, arti nama ini masing-masing adalah [pembeli] ramai berdatangan, rumah uang, [usaha yang] abadi, dan tentu PT Toba yang mendatangkan kesejahteraan.

Namun, dalam dua dekade terakhir, pola penamaan usaha tampaknya mengalami pergeseran drastis, setidaknya dalam jagat kulinari. Serbuan waralaba asing di bidang kulinari mungkin bisa kita tuduh sebagai penyebab pergeseran itu. Reaksi yang muncul di kalangan pebisnis kulinari pun terbelah menjadi dua: yang pertama adalah kelompok epigon atau pembebek dan yang kedua kelompok pengendara tradisi. Sementara kelompok pertama memilih cara penamaan asing, kelompok kedua melakukan revivalisasi nama lokal-tradisional.

Dulu kita dengan mudah menemukan Depot Eco, Rumah Makan Padang Untuang, Warung Lumayan, dan Kedai Kopi Barokah. Sekarang kita lebih gampang menjumpai nama asing seperti Mister Burger, Hoka-hoka Bento yang diringkas menjadi Hokben, Fish & Co., Olive Fried Chicken, Chicago Fried Chicken, dan yang jauh hadir lebih dulu California Fried Chicken dan belakangan diringkas menjadi CFC saja. Pemilik dan tukang masak di bisnis kulinari ini adalah orang Indonesia, dan mayoritas konsumennya bisa dipastikan adalah konsumen berlidah Indonesia.

Yang jelas, nama-nama itu tidak lagi memuat doa atau harapan tentang peruntungan usaha di masa depan. Semua nama itu sekadar deskriptor yang memberikan informasi tentang jenis makanan atau tipe sajian atau cara memasak yang digoreng, direbus, dibakar, dikukus, atau ditumis dengan kaldu yang berlainan.

Penggemar kulinari jenis ini layaknya adalah lapis kelas menengah dengan lidah kosmopolit, yang kini jumlahnya membengkak. Meskipun memuat bahan yang semula asing seperti keju, aneka saus Eropa dan Amerika, kaldu berbasis kedelai yang khas Jepang, serta adonan tepung gandum krispi pelapis daging ayam, aneka sajian asing tersebut dioplos dengan sejumlah bumbu yang akrab dengan lidah Melayu. Karena itu, nama-nama dan menu asing tersebut tetap bisa menjangkau mayoritas konsumen domestik.

Tapi mengapa bahasa asing? Rupanya, nama-nama asing tersebut menyuntikkan sebentuk martabat karena sebagian besar menu itu ditawarkan di restoran dengan ruang berpendingin dan memberikan asosiasi impor. Tak ada salahnya jika kita kemudian memodifikasi pepatah lama di atas menjadi, “nama membawa gengsi”. Fried chicken tak lain adalah ayam goreng. Bumbu bisa sama, renyah dan gurihnya pun mirip belaka. Yang berbeda adalah gengsi yang melekat atau dilekatkan pada penamaan asing. Spekulasi ini masuk akal ketika waralaba kulinari asing menyerbu Indonesia secara masif, dan—yang lebih penting lagi—laris. Konsumen pun bisa berpamer foto sajian makanan lewat media sosial dengan latar belakang interior restoran yang berkelas.

Kontras dengan pola penamaan asing dan “modern”, sebagian pebisnis kulinari enggan membebek, dan justru menoleh ke masa silam dengan cara melakukan revivalisasi menu dan nama-nama lokal-tradisional. Lantas muncullah nama-nama berikut: Gudeg Yu Djum, Gudeg Bu Tjitro, Gudeg Bu Amad, Ingkung Mbah Cempluk, Soto Seger Mbok Giyem, dan Soto Bening Boyolali Yu Moel.

Semua label warung dan restoran itu menonjolkan nama sajian Jawa, atau lebih spesifik lagi menu Yogya. Namun yang menarik justru pilihan kata ganti “bu”, “mbah”, “mbok” dan “yu” yang diletakkan di depan nama pemilik atau pendirinya. Semua kata ganti ini aslinya adalah kata ganti jelata. Pada masa silam semua kata ganti itu digunakan kalangan bawah. Tapi revivalisasi tradisi ini menyepuhkan elemen baru pada aneka kata ganti itu: eksotisme tradisi. Bu Amad tak lagi semata menunjukkan nama pemilik dan warungnya, tapi tawaran resep otentik makanan khas gudeg yang diwariskan turun-temurun. Demikian juga Mbah Cempluk. Ia mewakili tradisi kuliner lokal yang mengendap lama, yakni cara memasak ayam utuh dengan rendaman santan dan rempah sebelum diungkep dalam kuali gerabah berwarna tanah. Kini menu-menu eksotis itu menjangkau kelas menengah.

Strategi revivalisasi ini tak terbatas pada tradisi Jawa saja. Daftar eksotisme tradisi juga muncul di berbagai sajian dan wilayah Nusantara yang lain: Restoran Mang Engking, Dapur Sunda, Bengong Jeumpa, Bale Bengong, Konro Karebosi, dan tentu kita tak melewatkan Duo Sakato. Nama, ternyata, membawa pembeli.

* Dosen Fakultas ilmu sosial dan ilmu politik Universitas Gadjah Mada

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s