Bahasa Lisan di Media Baru, Siapa Takut?

Rainy M.P. Hutabarat*, Kompas, 3 Sep 2016

Kehadiran media baru semakin mengukuhkan bahasa lisan dilengkapi puluhan kode emosi berupa gambar-gambar. Bahasa formal perlahan-lahan bergeser ke wilayah media lama (buku, majalah, jurnal ilmiah, surat kabar cetak). Aplikasi yang tersedia menunjukkan bahwa media dan jejaring sosial dirancang untuk komunikasi yang melibatkan emosi-emosi manusia. Di situs berita daring, misalnya, tersedia sederet kode emosi untuk mengekspresikan reaksi pembaca seusai membaca. Anda tinggal pilih rasa suka, lucu, sedih, takut, takjub, kaget, dan seterusnya. Di jejaring sosial (Facebook, Twitter, Whatsapp, dll) tersedia aplikasi kode emosi yang lebih kaya, termasuk gestur.

Bahasa media baru jauh berbeda dengan bahasa media lama. Para pengguna memindahkan bahasa lisan ke dalam tulisan sebagai komentar atau catatan panjang. Belakangan situs-situs berita daring ikut menuliskan judul berita dengan bahasa lisan. Simak beberapa contoh: “Istri Pergoki Suami Cekek Bayi Sambil Duduk, Kejam!”, “Kasihan, Paus Nyangkut di Kapal Motor”, Sering Kena Marah, Tontowi: Cik Butet Galak”, “Teman Ahok: PDIP Malu-maluin Jika Beri Dukungan Syarat”. Ada pula situs opini daring yang tidak menabukan bahasa lisan bercampur aduk dengan bahasa formal. Berita-berita tentang pesohor pun belakangan mengutip komentar tertulis netizen yang sudah pasti berupa bahasa lisan dari ragam Betawi, bahkan disingkat-singkat. Iklan-iklan ikut menyuburkan bahasa lisan demi mendongkrak daya tarik produk: “Nggak ada loe nggak rame”, “Kalo gue dingin, kenapa loe panas?”, “Masih banyak celah, kok nyerah?”, “Taat cuma kalo ada yang liat”, dst.

Walter J Ong mengatakan bahwa kelisanan merupakan bahasa yang kaya matra yang melampaui aspek kata sebab komunikasi terjadi secara tatap muka. Suara, tempo, kontak mata, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh lainnya menjadi bagian dari pesan yang disampaikan dan ikut memperkaya pemaknaan. Karena itu, penafsiran dalam komunikasi langsung tak semata-mata pada kata-kata verbal, juga melibatkan ekspresi tubuh yang timbul. Ong tidak setuju dengan hierarki yang menempatkan bahasa lisan lebih rendah dibanding dengan bahasa tetulis. Menurut Ong, kelisanan dan keaksaraan masing-masing telah menghasilkan pola pikir dan budaya tertentu.

Di kancah bangsa-bangsa, masyarakat kita belum tergolong masyarakat literasi. Menurut sebuah sumber, orang Indonesia rata-rata membaca 0-1 buku setahun, sementara negara-negara anggota ASEAN lainnya 2-3 buku setahun. Rasio penerbitan buku berbanding penduduk juga rendah, sekitar 30.000 judul per tahun, termasuk yang diterbitkan oleh individu, partai politik, instansi pemerintah, dan komunitas lainnya.

Apakah gejala pemindahan bahasa lisan ke bahasa tertulis perlu dicemaskan? Tampaknya tidak sebab bertentangan dengan sifat bahasa itu sendiri sebagai organisme yang hidup dan berubah. “Hukum alam” mengharuskan kita menerima kelisanan tertulis bersanding dengan bahasa formal. Lagi pula, bahasa lisan yang sebenarnya bahasa gaul bersifat sementara, timbul dan hilang karena dinamika pergaulan sosial terutama di kota-kota besar. Apalagi bahasa lisan tak pernah menjadi bahasa resmi di sekolah, perguruan tinggi, dan organisasi mana pun. Jadi, siapa takut dengan bahasa lisan di media baru?

* Cerpenis, Pekerja Media

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s