Mengatasnamakan ’Atas Nama’

Edy Sembodo* (Majalah Tempo, 5 Sep 2016)

Proklamasi
Kami Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Jakarta, 17 Agustus 1945
Atas nama bangsa Indonesia
Soekarno-Hatta.

Teks proklamasi, pada satu saat, pasti harus kita hafal saat duduk di sekolah dasar. tapi kini saya tertarik untuk membahas kata majemuk ”atas nama” dalam teks itu. Akhir-akhir ini gabungan kata itu mengalami perkembangan yang mengherankan, kalau tidak bisa dibilang aneh. Gabungan kata hubung (atas) dan kata benda (nama) ini sejak awal memang membingungkan. Dalam kamus yang saya temukan, tak ada contoh penggunaan yang mendekati makna dalam teks proklamasi yang saya singgung sebelumnya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi keempat, dikatakan bahwa atas nama berarti menggunakan nama atau memakai nama. Lalu cobalah hubungkan dengan teks proklamasi. Apakah tepat makna itu? Kalau kita ganti ”atas nama” dengan ”memakai nama” di situ, kita akan membacanya begini, ”memakai nama bangsa Indonesia/Soekarno-Hatta.” Aneh, bukan?

Penjelasan dalam kamus ini sama sekali tak memuaskan. Padahal ini hanya satu contoh kasus, belum yang lain. Lagi pula teks ini adalah teks wajib yang diperdengarkan setiap tahun dan isinya terekam dengan baik di kepala banyak orang. Jadi akan lebih masuk akal pula kalau kita dapat merasakan makna ”atas nama” yang tepat di dalamnya.

Jadi apa makna tepatnya? Jika Anda menjawab ”mewakili”, saya sependapat. Tak akan janggal rasanya saat mengganti atas nama dengan ”mewakili” di situ. Bukankah Sukarno dan Hatta bermaksud mewakili bangsa Indonesia dalam menyatakan kemerdekaan? Ya, bukan berarti arti ini mutlak yang paling tepat. Tapi setidaknya ada kejelasan mengenai makna ”atas nama” di sini.

Namun, entah mengapa, penggunaan kata majemuk ini bergeser dan seakan-akan memiliki makna lain. Apakah gabungan kata ini sudah mengalami perluasan makna? Rasanya tidak. Sebab, bila digunakan dalam karya sastra atau orasi, maknanya tak beranjak jauh dari ”mewakili”.

Untuk sekadar melihat seperti apa kekeliruan itu, kita bisa melihat dalam petikan berita dari salah satu situs berita on­line berikut ini. ”Tersangka atas nama Wabdi Sihombing (22) sekarang sudah diamankan polisi, tapi kenek Metromini berhasil melarikan diri,” ujar Kanit Laka Satlantas Jakarta Timur, AKP Agung Budi Leksono. Dalam kutipan itu, seorang polisi menyebutkan nama seorang tersangka dengan menggunakan ”atas nama”. Kita akan mendapatkan makna yang agak aneh bila mencoba memahami perkataan sang polisi.

Apakah itu berarti sang tersangka ”mewakili” Wabdi Sihombing, sementara nama sang tersangka sendiri tak diketahui? Sebenarnya akan lebih praktis untuk mengatakan: ”tersangka bernama Wabdi Sihombing”? Dengan begitu, kita tak perlu terjebak dalam ketakpraktisan yang justru akan mengaburkan pesan yang disampaikan itu sendiri.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga dan keempat, lema ”atas nama” diartikan sebagai ”dengan nama”. Adapun lema ini memiliki sublema mengatasnamakan. Mengatasnamakan diartikan sebagai ”menggunakan nama” atau ”memakai nama”.

Sebenarnya agak terasa janggal bila ”atas nama” diartikan sebagai ”dengan nama”. Penggunaan kata tugas ”dengan” akan memunculkan masalah lain. Kata tugas ”dengan” dapat dipertukarkan dengan kata tugas atau partikel lain seperti dan, oleh, atas, serta sambil. Jadi pengartian ”dengan nama” hanyalah pengalihan kata tugas, bukan arti kata. Adapun partikel ”dengan” rentan akan pemaknaan ganda karena fungsinya yang dapat menggantikan banyak partikel lain (silakan tengok KBBI). Jadi pemaknaan ini akan menimbulkan masalah baru. Sebab, seharusnya makna dari suatu gabungan kata itu lebih rinci dan khusus, bukannya memunculkan penafsiran lain.

Karena itu, dengan mengatasnamakan atas nama itu sendiri, saya mempertanyakan, atau bahkan menggugat, penyalahgunaan kata majemuk tersebut. Jangan sampai penyalahgunaannya meluas dan mendesak arti asli atas nama itu sendiri. Perluasan makna kadang kala diterima dan terekam dalam KBBI. Namun, alih-alih menambah makna baru untuk entri lama, akan lebih baik kalau KBBI yang ada saat ini segera diperbaiki lebih dulu.

* Staf redaktur Bahasa Tempo

Iklan

One thought on “Mengatasnamakan ’Atas Nama’

  1. Ping-balik: Atas Nama Lagi | Rubrik Bahasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s