Pepanah?

Yanwardi* (Kompas, 10 Sep 2016)

Sebagian besar orang agaknya sudah mengetahui bahwa nomina berawalan ”pe(N)-” umumnya diturunkan dari verba berawalan ”me(N)-D”, seperti pembunuh dari membunuh, peninju-meninju, pencuri-mencuri, dan pengajar-mengajar. Di sisi lain nomina berawalan ”pe-D” sebagian besar diturunkan dari verba berawalan ”ber-D”, misalnya peternak dari beternak, petani-bertani, dan petinju-bertinju.

Akan tetapi, apa yang membedakan pemunculan awalan ”pe(N)-” dan ”pe-”? Nominalisasi dengan ”pe(N)-” terjadi pada subyek pelaku dalam kalimat aktif transitif yang berpredikat verba, ”me(N)-D”: ia membunuh ular, mengambil nominalisasi ”pe(N)-D”: pembunuh. Sebaliknya, nominalisasi dengan ”pe-” terjadi pada subyek pelaku dalam kalimat aktif intransitif berpredikat verba ”ber-D”: ayah bertani—petani.

Nominalisasi lainnya yang memunculkan ”pe-” terjadi jika argumen menjadi pasien/sasaran, bukan yang mengendalikan perbuatan, misalnya petatar dan pesuruh dalam kalimat transitif ”me(N)-D”: Pak Dede sedang menatar murid baru dan Ayah menyuruh anak itu. Konstituen murid baru dan anak itu adalah pasien. Sebab itu, muncul nominalisasi ”pe” menjadi petatar dan pesuruh. Anggota kelompok nomina ini sangat sedikit.

Kini ada bentukan nomina dengan ”pe-” yang keterterimaannya masih diragukan, yakni pepanah. Bentukan ini ditemukan dalam media daring nasional untuk merujuk pada atlet cabang olah raga panahan. Di manakah posisi pepanah dalam nominalisasi ”pe-” dan mengapa sampai muncul bentukan itu?

Selain kelompok nominaliasi ”pe-” yang telah dijelaskan di atas, ada nominalisasi dengan ”pe-” lainnya, yang terjadi langsung dari pengimbuhan, yakni ”pe-” + D nama cabang olah raga: pebasket, peboling, pebola voli, pebulu tangkis, pejudo, petembak, peterjun, dll. Makna gramatikal pengimbuhan ini adalah ’atlet D (dasar)’ (atlet boling, dst). Hampir semua atlet cabang olah raga berasal dari nominalisasi dengan ”pe-”. Hanya ada beberapa yang berbeda pola, misalnya karateka, binaragawan, dan lifter. Ini menarik juga untuk dikaji secara kebahasaan, tetapi bukan tujuan tulisan ini.

Dalam paradigma nomina ”pe-D” ini, ada yang memiliki padanan verba aktif berawalan ”ber-”, seperti berenang, bergulat, bersilat, dan berjudo; ada pula yang tidak seperti bola voli, basket, bulu tangkis, dll.

Akan halnya kata pepanah, dia tidak memiliki padanan verba berawalan ”ber-”; tidak ada berpanah dengan makna melakukan perbuatan. Ini salah satu sebab mengapa pepanah terasa janggal bagi penutur. Namun, tidak hanya itu. Bentukan petembak dan peterjun juga tidak memiliki padanan bentuk verba aktif ”ber-D”, tapi masih bisa diterima, minimal tidak sejanggal pepanah. Lalu, apa masalahnya? Sebab utamanya bentuk pepanah karena mengandung dua bunyi /p/ berdekatan, harus mengambil disimilasi, sebagaimana dalam pemroses dan pemrasaran (bukan pemproses atau pemprasaran, padahal verbanya memproses dan memprasarani). Hal ini lazim dalam bahasa Indonesia: muncul disimilasi jika ada bunyi yang sama berdekatan. Lantaran sistem bahasa bergerak dengan prinsip kerja sama yang ketat, dalam pepanah, terjadilah kejanggalan pada intuisi penutur.

Sebagai penutup, saya menyarankan untuk nominalisasi ”pe-” + panah yang merujuk atlet panah digunakan bentuk pemanah. Ada sistem dalam bahasa Indonesia yang mengatur gejala itu, bukan soal ketakajekan. Soal ketaksaan makna (misal, ambigu dengan pemanah yang bukan atlet) bisa hilang melalui konteksnya.

* Editor pada Yayasan Obor

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s