Para Hadir

Samsudin Adlawi* (Majalah Tempo, 12 Sep 2016)

“PARA hadirin yang berbahagia ….”

Pada acara seremonial, simposium, hingga hiburan, inilah kalimat pembuka dari master of ceremony (MC) atau pembawa acara. Para pejabat juga mengucapkan kalimat serupa dengan variasi: “Para hadirin yang saya hormati ….”

Sekilas, kalimat pembuka yang diucapkan MC dan pejabat itu tidak ada masalah. Bisa jadi karena seringnya diberondong kalimat pembuka semacam itu, daun telinga kita kehilangan kepekaan. Sesungguhnya ada kesalahan serius dalam ucapan salam tersebut, yakni kesalahannya terdapat pada frasa “para hadirin”. Kata “hadirin” merupakan serapan dari bahasa Arab dari akar kata “hadara”, yang artinya menghadiri. “Hadirin” sendiri merupakan ism fa’il (kata benda pelaku) berbentuk jamak (plural). Bentuk tunggalnya hadir (seorang yang hadir/menghadiri). Ketika orang yang (meng)hadir(i) lebih dari dua atau bahkan tak terhingga, sebutan untuk mereka adalah hadirin atau hadirun.

Dalam kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, penulisan ataupun pengucapan kata jamak tidak boleh diawali dengan kata “para”. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebutkan, sebagai preposisi lema “para” merupakan kata penyerta yang menyatakan, pengacuan ke kelompok. Contoh: para tamu mulai berdatangan.

Kata “para” di awal kalimat itu menunjukkan tamu yang berdatangan tidak hanya satu, tapi banyak jumlahnya. Karena “para” merupakan kata penyerta yang mengacu pada kelompok, jadi salah kaprah jika kita mengucapkan: “para tamu-tamu mulai berdatangan”. Namun kalau lidah kita sudah terbiasa mengucapkan “tamu-tamu” sebenarnya tidak jadi masalah. Syaratnya kita harus mulai membiasakan diri membuang kata “para” lebih dulu, sehingga kalimatnya menjadi “tamu-tamu mulai berdatangan”.

Sayang sekali, banyak MC dan pejabat yang kurang paham. Mereka masih saja menyapa undangan dengan kalimat sapaan yang salah kaprah: “Para bapak-bapak dan para ibu-ibu yang saya hormati ….” Seharusnya mereka mengucapkannya seperti ini: “Para bapak dan ibu yang saya hormati …” atau “Bapak-bapak dan ibu-ibu yang saya hormati …”. Sedangkan kalimat “Para hadirin yang saya hormati …” seharusnya diucapkan “Para hadir yang saya hormati …”. Atau kalau alergi dengan kata “para”, langsung saja mengucapkan: “Hadirin yang saya hormati ….”

Kesalahan yang juga masih sering kita dengar dari mulut panitia atau pejabat saat menyampaikan sambutan dalam sebuah acara adalah penyebutan kata “ulama”. Lazimnya, sebelum pembicaraan memasuki materi utama pidato, para pejabat lebih dulu menyapa semua pengunjung dengan menyapa para tokoh formal dan informal. Salah satu kalangan informal yang mendapat giliran pertama adalah “ulama”.

“Almukarramun para ulama ….” Atau dalam versi lain: “Yang terhormat/yang saya hormati/yang saya muliakan para ulama …”. Penyebutan kata “para” dalam kalimat itu juga tidak tepat. Kasusnya sama dengan penyebutan kata “para” di depan kata “hadirin”. Kata “ulama” yang diserap dari bahasa Arab merupakan bentuk jamak dari kata “alim” (orang berilmu). Karena itu, kata “ulama” yang berarti “orang-orang yang berilmu” tidak perlu diawali dengan kata penyerta “para” karena jika diterjemahkan “para ulama” sama dengan “para orang-orang yang berilmu”. Seharusnya kita cukup mengucapkan dengan kalimat “para alim” (bentuk tunggal) atau langsung saja: “ulama yang terhormat/ulama yang saya hormati/ulama yang saya muliakan”.

Tentu karena tak terbiasa, mengucapkan kata pembuka “para hadir” dan “para alim” atau “ulama yang saya hormati/muliakan” terasa dan terdengar tidak nyaman. Dalam urusan bahasa, lebih baik menggunakan kaidah yang benar sekalipun kurang biasa di telinga. Daripada berbahasa dengan ungkapan yang akrab di telinga tapi salah kaprah.

Tapi mereka yang mengucapkan “para ulama” dalam pidato tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Sebab, Kamus Besar Bahasa Indonesia yang menjadi rujukan dalam penggunaan bahasa Indonesia baku kali ini menyebutkan “ulama” sebagai kata tunggal. Lema “ulama” oleh KBBI diartikan sebagai “orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam”. Dari pengertian itu kita langsung paham bahwa versi KBBI kata “ulama” bukanlah bentuk kata jamak atau plural. KBBI mendefinisikan “ulama” sebagai “orang”, bukan “orang-orang”. Hal itu dipertegas dengan contoh yang digunakan KBBI: ia seorang ulama besar pada zaman kebangkitan Islam. Kata yang dicetak tebal itu jelas menunjukkan kata tunggal.

Kita bisa memulai koreksi ucapan ini menjadi “para hadir” atau “para alim”, karena pada dasarnya bahasa adalah sebuah kesepakatan dan kebiasaan.

* Wartawan Jawa Pos

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s