Autopsi

Samsudin Berlian* (Kompas, 24 Sep 2014)

Yang rajin mengikuti siaran langsung dari ruang pengadilan dalam minggu-minggu terakhir ini pastilah sudah akrab dengan kata autopsi. Kalau mau, boleh juga tulis otopsi. Sama seperti ada otomotif dan automotif, otomatis dan automatis, otonomi dan autonomi, otokritik dan autokritik. Kalau punya kamus, inilah saat baik mencari-cari dan bermain-main dengan kata-kata lain yang dimulai dengan oto- dan auto-. Menyenangkan, kok, belajar sendiri. Itu namanya otodidak atau autodidak. Apalagi kalau disusul dengan perdebatan sengit di warung tentang bentuk mana yang baku, sambil menyeruput kopi panas dengan mata membelalak dan jari menunjuk-nunjuk. Pun nikmat bila kehebohan dilanjutkan di forum-forum bahasa di Internet dan media sosial sehabis makan siang nanti.

Auto-, seperti sudah diserempet di atas, berarti ’sendiri’ atau ’diri sendiri’, dari kata Yunani autos yang berarti ’diri’. Kata Yunani optos atau opsis berhubungan dengan mata atau perlihatan. Di mana-mana di perkotaan selalu ada toko optik yang melayani pemeriksaan daya lihat dan menjual kacamata. Jadi, autopsi berarti ’melihat dengan mata kepala sendiri’. Apa yang dilihat sendiri?

Pada mulanya para cendekia yang memimpin autopsi menyebutnya dalam Latin—yang selama lebih dari 1.000 tahun adalah bahasa ilmu di Eropa—autopsia cadaverum. Cadaver berarti ’mayat manusia’. Percaya atau tidak, kadaver sudah masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pusat Bahasa, dalam arti khusus, yakni, ’mayat manusia yang….’ Yang apa? Boleh tebak, atau silakan pinjam kamus tetangga. Autopsia cadaverum dilakukan demi tujuan baik legal maupun ilmiah. Lama-lama istilahnya tersingkat menjadi autopsia saja. Sampai sekarang, sebagai istilah teknis, autopsi berarti pemeriksaan resmi atas tubuh manusia oleh dokter untuk menemukan sebab kematian, melalui prosedur operasi yang sangat khusus. Kaitan maknanya jelas. Sebab kematian tidak boleh disandarkan pada kata orang atau barangkali, karena itu harus dilihat sendiri lewat proses bedah mayat dengan teliti.

Karena yang dibedah mayat, kata nekropsi juga dipakai. Kata Yunani nekros memanglah berarti, tak lain tak bukan, ’mayat’. Jadi, melakukan nekropsi berarti melihat mayat (dengan saksama lewat teknik bedah). Akan tetapi, biasanya, nekropsi hanya dipakai bila yang dibedah adalah mayat binatang. Mungkin karena kasus dugaan pembunuhan binatang dengan racun kopi tidak sering terjadi atau jarang dibawa ke pengadilan, kita hampir tidak pernah menemukan kata ini di media massa atau media sosial.

Dahulu yang dipakai adalah obduksi dari kata Belanda obductie. Dari Latin obducere, artinya, ’membungkus’ atau ’menutupi’. Kata Inggris obduction tidak umum dipakai. Hanya kalangan medis yang memahaminya dalam arti khusus autopsi forensik. Kata sifat forensik berarti ’berkenaan dengan hukum atau pengadilan’, dari Latin forens dan akhiran -ic. Forens bentuk lain forum, yang pada zaman Romawi kuno berarti ’gedung pengadilan’. KBBI memberi kata forum tiga arti, hanya satu yang bisa ditafsirkan berkenaan dengan pengadilan. Apa sajakah ketiga arti itu? Ehm, kamus tadi belum dikembalikan ke tetangga, kan?

Istilah lain lagi adalah eksaminasi (entah mengapa, kata ini ada juga dalam KBBI) atau pemeriksaan post-mortem. Post- tentu saja berarti ’pasca-’ atau ’setelah’. Mortem berarti? Pernah dengar mortal atau mortalitas? Betul sekali, artinya ’mati’ jua. Dari Latin mors. Barangkali ada yang mau menggembar-gemborkan pascamaut? Yang mengherankan, kalau kita sebut pascahayat, artinya toh sama juga, bukan? Nah, ini bahan diskusi seru juga.

Kalau merasa pusing atau jengkel dengan semua istilah asing di atas, pakai sajalah bedah mayat. Namun, yakinlah, debat takkan usai. Sila habiskan kopi tanpa waswas.

* Penggelut Makna Kata

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s