Remaja Putri

Damiri Mahmud* (Kompas, 1 Okt 2016)

Dalam bahasa Arab ada kelas kata muzakkar (maskulin) dan muannas (feminin). Salah satu cara mengenal kelas kata muannas ialah dengan menambahkan huruf ta-marbutah ke dalam kata itu. Misalnya ’abid untuk maskulin dan ’abidah untuk feminin, amin menjadi aminah. Di negeri kita penanda itu telah dilekatkan salah kaprah. Seorang lelaki yang baru pulang dari melaksanakan ibadah haji diberi gelar Haji, misalnya Haji Abdullah, sementara perempuan disebut Hajah Siti Aminah. Padahal, di negeri Arab sendiri kata hajah tidak dikenal, sementara kata haji adalah kelas kata verba, bukan nomina.

Kasus seperti di atas rupanya sudah lumrah dalam bahasa kita. Kata pemuda, misalnya, dianggap maskulin, maka untuk kelas kata feminindipasangkan kata pemudi. Ketika tahun 1928 dicetuskan Sumpah Pemuda atau Ikrar Pemuda sudah tercakup kaum lelaki dan perempuan. Dalam tiga butir ikrar tersebut dikatakan”Kami putera-puteri Indonesia…” Nah, dengan acuan putera-puteri inilah kita membuat pasangan kata pemuda-pemudi. Namun, kata saudara yang dalam bahasa Sanskerta berarti ’satu perut’ tidak mempunyai pasangansaudari seperti yang telah menular ke bahasa kita. Begitulah, kita mengenal pasangan siswa-siswi,teruna-teruni, seniman-seniwati, wartawan-wartawati, sastrawan-sastrawati.

Sebaliknya, kata remaja yangadalah feminin punya pasangan kata, yaitu belia, untuk maskulin. Namun, dalam perkembangannya kata belia telah menjadi arkais. Dalam artikel ”Surabaya Taman Bermainku” (Kompas, 31 Juli 2016) ada kalimat ”Dengan keberadaan sirkuit itu, Risma berharap para remaja di Surabaya tidak lagi menggelar balap liar di jalan raya.” Idiompara remaja dalam pengertian itu tentu mencakup remaja-belia atau putra-putri.

Akan tetapi, kata remaja ini dalam tangan penulis berita ada kalanya menjadi rancu. Dalam kolom politik ”Andai Bung Masih Ada” (Kompas, 14 Mei 2016) tertera idiom remaja-putri dua kali. Dalam kolom berita ”Kekerasan Seksual: Perppu Masih dalam Proses Finalisasi” (Kompas, 14 Mei 2016) ada pula kompositum remaja laki-laki.

Melirik ke negeri jiran, Malaysia, yang bahasanya sama-sama berasal dari bahasa Melayu, kata belia jauh lebih populer daripada kata remaja. ”Akhbar-akhbar” tetangga itu selalu ada kolom ”Belia dan Sukan”. Koran Kompas, kita lihat, sudah selalu memakai istilah sukan, tetapi belum melirik kata belia.

Apabila kata belia bisa difungsikan lagi, maka kompositum remaja putri cukup ditulis remaja saja sehingga tak perlu menjadi hiperkorek. Namun, remaja laki-laki yang salah kaprah harus diganti belia. Sebaiknya idiom remaja masjid harus ditambah menjadi belia dan remaja masjid atau teruna masjid saja mengacu kepada karang teruna”.

* Penyair, Esais

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s