Orisinal Versus Standar

Dodi Ambardi* (Majalah Tempo, 3 Okt 2016)

Dua hari menjelang pesta perkawinan Chelsea Clinton, putri mantan Presiden Amerika Serikat Bill dan Hillary Clinton, pada 1 Agustus 2010, Presiden Barack Obama tampil di stasiun televisi ABC dalam talk show The View. Salah satu co-host di acara itu bertanya kepada Presiden Obama apakah ia akan menghadiri pesta perkawinan Chelsea Clinton.

“I was not invited,” jawab Obama. Ketika dikejar, ia menambahkan penjelasan tentang absennya undangan itu, “Anda pasti tak menginginkan dua presiden hadir bersamaan pada sebuah pesta pernikahan. [Coba bayangkan kerepotannya] jika saja tim sekuriti presiden bergentayangan [di pesta perkawinan], lalu setiap tamu yang datang harus melewati detektor logam, dan petugas keamanan mesti membuka semua bingkisan tetamu undangan.”

Presiden Obama tidak sedang mengekspresikan kegetiran. Ia sedang berjenaka saat seorang co-host memaksa sang Presiden memberi penjelasan tidak datangnya undangan ke pesta seharga tiga juta dolar itu. Prosedur tetap keamanan seorang presiden dan mantan presiden pastilah akan membikin repot tuan rumah pesta perkawinan, dan Presiden Obama justru mendramatisasi protap itu menjadi humor. Kutipan jawaban itu lantas menyebar ke berbagai media dan publik menyukainya.

Adalah kelaziman bahwa media memiliki laman khusus untuk quotable quotes—kutipan yang layak pampang. Tak sekadar memberi ilham bagi publik, kutipan-kutipan itu kadang memberi kejutan, menggedor akal sehat, menyingkap kepandiran, dan menampilkan kelucuan. Karena itu, rubrik pendek kutipan selalu menghibur.

Majalah Time dan Newsweek punya rubrik pendek yang berisi kutipan para pembuat berita: Verbatim dan Newsweek Quotes. CNN online edisi Amerika juga memiliki rubrik Top 10 Celebrity Quotes, yang hadir rutin pada laman digital. Reader’s Digest telah lama memelihara rubrik Quotable Quotes. Sebagian media yang menghentikan edisi cetaknya memindahkan rubrik itu ke laman online. Di Indonesia, Tempo pun, baik koran maupun majalah, memilikinya. Di koran, kutipan itu ditempatkan di pojok kiri-bawah halaman kedua, sedangkan di majalah ditempatkan di lembar Album.

Ucapan dan jawaban orisinal selebritas politik yang menjadi sumber pemberitaan umumnya muncul dari pemikiran dan pengalaman otentik mereka. Jika lihai mengeksplorasinya, wartawan akan menemukan kutipan-kutipan yang orisinal dan enak didengar. Kita lihat kutipan lain….

Akhir Desember 2015, ketika seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat menuduhnya menjadi beking Joost Lino, yang saat itu menjabat Direktur Pelindo II, dan dituduh melakukan korupsi, Jusuf Kalla memberi jawaban menarik saat ditanya wartawan tentang tuduhan itu, “Kalau membekingi itu di belakang. Nah, saya di depan.” (Tempo, 3 Januari 2016).

Kutipan itu menarik karena mendemonstrasikan kelihaian sang Wakil Presiden menghadapi wartawan. Dalam wawancara, ia segera menyelakan sepotong permainan kata yang seolah-olah mengoreksi tuduhan itu dengan mengatakan bahwa justru ia berada di depan. Dengan begitu, ia menghindari sergapan wartawan untuk memberikan bukti bantahan seraya meneruskan bahwa ia berada di depan untuk mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi mengusut kasus Joost Lino.

Namun tidak semua kutipan yang menarik mencerminkan kelihaian.

Wali Kota Tangerang Arief Wismansyah memberikan kutipan layak pampang pada awal Maret lalu: “Karena orang tua sibuk bekerja, anak-anak diberi susu kaleng dan makanan instan. Tidak mengherankan jika akhir-akhir ini banyak LGBT.” (Tempo, 6 Maret 2016). Logika kutipan ini menarik tapi kacau. Banyak juga anak yang minum susu kaleng dan makan makanan instan, dan mereka tidak menjadi sosok LGBT.

Kontras dari kutipan menarik dan orisinal adalah kutipan-kutipan yang klise dan standar yang menyebabkan kantuk: “O, itu dinamika internal,” atau, “Itu hanya wacana,” atau, “Jika publik menghendaki…,” dan banyak lagi. Ini adalah ragam jawaban standar ketika pejabat atau politikus ditanya tentang konflik di organisasi atau ketika maju sebagai kandidat politik. Jawaban standar pasti bukanlah hasil pemikiran dan pengalaman otentik seseorang. Celakanya, yang standar dan klise ini lebih banyak berhamburan di media. l

* Dosen Fakultas ilmu sosial dan ilmu politik Universitas Gadjah Mada

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s