Lalia atau Celoteh

Damiri Mahmud* (Kompas, 15 Okt 2016)

Menurut penyelidikan para antropolog, tidak ada satu bukti pun bahwa manusia prasejarah hingga periode manusia Neanderthal dapat berkomunikasi atau mengekspresikan dirinya dengan bahasa. Menurut catatan para ahli, suara atau komunikasi yang dapat mereka ucapkan hanya pada tingkat lalia, kata dalam bahasa Yunani yang berarti ‘berceloteh’ atau ‘mengoceh’. Lalia itu tidak bisa digunakan untuk berbicara atau bertukar pikiran;  hanya untuk mendorong perbuatan atau mengisyaratkan suatu kejadian penting dalam kehidupan kelompok.

Pada sisi lain, hingga zaman Palaeolitikum Akhir, kesenian telah berkembang pesat dengan karya-karya indah dalam bentuk ukiran, patung, dan lukisan di dinding gua. Di dinding gua Altamira, Spanyol, tersua lukisan-lukisan yang sangat indah dan bernilai seni tinggi. Namun, mengapa mereka tidak mampu berekspresi dan berkomunikasi dengan bahasa menunjukkan bahwa bahasa tidak dapat diperoleh sendiri, tetapi harus diajarkan.

Kemungkinan besar, dalam bahasa kita apa yang dikatakan dengan lalia atau celoteh itu masih tersisa: nah, wah, waw, ya, au, oi, kah, tah, lah, nyah, ah, uh, ih, cih, cis, uf, dsb. Semua bunyi itu, kalau kita uji, tidak dapat digunakan untuk berkomunikasi satu sama lain dan, apabila disusun, tidak akan menjadi satu kalimat yang dapat dipahamkan. Dia berguna hanya untuk mendorong satu pekerjaan atau sebagai suatu isyarat belaka.

Dalam bahasa Inggris kita mengenal pula sejenis morfem atau partikel seperti ugh, wow, lo, ye, o, oh, yang mungkin dapat digolongkan ke dalam lalia itu. Kalau diselidiki pada bahasa kuno seperti di Indian, Negro, Mongolia, Tibet, akan banyak ditemukan apa yang disebut dengan lalia itu. Begitu juga dalam bahasa daerah kita: Nias, Badui, Batak, Bugis, Dayak, Papua.

Selain itu, apa yang kita kenal sekarang sebagai kata, mungkin sekali mulanya adalah tiruan bunyi, celoteh, atau lalia seperti dentam, dentum, denting, banting (bunyi tam, tum, dan ting). Begitu juga kata tambur, sembur, debur, keletak, keletuk, batuk, tampar, gempar, gelepar, lempar, lapar, tempik, pekik, tampik, sing-sing, pusing, gasing, bising, langsing, asing, gembung, tembung, lambung, sorak, serak, gerak, porak. Kemudian muncul pula bunyi yang berselang-seling: selang-seling, bolak-balik, kutak-katik, mundar-mandir, puntang-panting.

Boleh jadi, nenek moyang kita manusia prasejarah itu, ketika melihat hewan buruannya kena tombak lalu berteriak kesenangan: par, par! Mungkin maksudnya hewan itu dilempar lalu terkapar. Pada tahap berikut mereka mulai berkias. Perut yang belum diisi dipukul-pukul dengan teriak par, par mengisyaratkan lapar, barangkali merasakan dalam perut cacing-cacing menggelepar.

Ada anekdot dari Medan. Satu peleton calon bintara asal Medan sedang melakukan latihan tembak di Bandung.  Instrukturnya  berasal dari Solo. Sang Pelatih memberi aba-aba: “Tembaaakkk!” Namun, tak terdengar suara letusan. Dia mengulang. Tak juga ada satu suara. Seorang rekan yang lewat dan kebetulan asal Medan menghampiri wong Solo itu, membisikkan sesuatu. Lalu Sang Instruktur mengulangi perintahnya:  “Tembaklaaahhh!” Benar, selang sedetik terdengar bunyi peluru berhamburan. Memang orang Medan suka dengan celoteh lah, kah, tah, oh, hoi, dan sebagainya itu. Makanlah, singgahlah, siapakah, manatah, oi mak jang.

Pada syair nyanyian anak-anak juga masih tersisa isyarat-isyarat dengan bunyi itu. Ada syair nyanyian anak-anak berbunyi begini: leng kalileng, kalileng cina buta, awas-awas anak keleng, ditangkap cina buta. Tak kutel lewe-lewe, tak kutel lewe-lewe. Ada lagi nyanyian seperti ini yang kita tak paham benar artinya: pak along-along, keriting inyang-inyang, ketapang bolak-balok arak-arik minyak wangi, pecah telur sebiji, horeee. Tentu masih sangat banyak syair nyanyian anak-anak seperti ini, bahkan yang jauh lebih rumit dan lebih mengasyikkan bunyinya.

Teristimewa pada mantra bunyi-bunyi yang, sebagai bahasa, tak berarti itu, tetapi bagi sang pawang sangat berfungsi untuk memusatkan perhatiannya sehingga mencapai trans. Lebih jauh, bagi seorang  pawang  kata-kata tidaklah sepenting bunyi. Bunyi itu digunakan semaksimal mungkin untuk mencapai trans tadi. Trans berguna bagi pawang untuk sampai ke tingkat ekstase.

Dalam mantra kita dapati  berbagai bunyi sebagai isyarat: hong, long, hi, puhh, puah, puss,  ooo, sing, ping, ting, nging, ling, we-we, tu, e, eng, hei, huff, huss, wow, dan sebagainya.

* Penyair, Esais

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s