Logika Bahasa

Samsudin Berlian* (Kompas, 29 Okt 2016)

Bahasa memiliki logika yang unik. Ada banyak macam logika. Biasanya sehari-hari kita bergulat di dalam logika informal atau logika formal yang tidak begitu ketat. Logika formal yang ketat misalnya logika filosofis. Ada pula, yang sangat zakelek, logika matematis, yang termasuk logika simbolik. Logika bahasa termasuk logika informal. Kebenaran bahasa … maaf. Begini awalnya. Logika berasal dari kata Latin logica ‘akal budi’. Secara khusus berarti cabang ilmu filsafat yang mempelajari proses-proses dan bentuk-bentuk pemikiran, dan terutama sangat bermanfaat dalam menentukan hukum-hukum penarikan kesimpulan secara benar atau keliru. Makna ini diambil dari ungkapan Latin ars logica, terjemahan dari ungkapan Gerika he logike tekhne “seni/ilmu akal budi”, yang ditarik dari kata logos, yang sekarang kita pakai dalam semua cabang ilmu yang berakhir dengan potongan kata -logi.

Bahwa bahasa tidak mengikuti logika formal yang ketat dan taat asas tampak dalam berbagai wujud yang menjengkelkan para polisi bahasa. “Pulang pergi”, “turun naik”, dan “keluar masuk” sudah lama hadir dan terpakai luas dalam masyarakat. Namun, mana bisa, sih, pulang sebelum pergi; turun sebelum naik; keluar sebelum masuk? Maka, ada saja pakar bahasa yang merasa gerah dan menuntut bentuk “logis” sesuai dengan urutan kronologis: “pergi pulang, “naik turun”, dan “masuk keluar”. “Menggali lubang” dan “menanak nasi” juga membuat sebagian orang berkeringat. Sudah lubang digali? Bikin sumur? Sudah nasi ditanak? Bikin bubur?

Ada yang mengamuk membaca berita koran yang, katanya, ditulis pewarta perusak bahasa: “Begal-begal mau dibasmi polisi” atau “Koruptor itu berhasil ditangkap basah KPK”. Mana ada begal mau dibasmi? Tertangkap basah kok dibilang berhasil? Tak bisalah mereka terima dalih bahwa, secara logika bahasa, “mau” berkawan dengan “polisi” dan “berhasil” berdempet dengan “KPK”. Ikuti hukum SPK! Kata yang menjelaskan harus diletakkan sedekat mungkin dengan kata yang dijelaskan! Tidak boleh … sudahlah. Masih ada dua lusin hukum lain yang terlanggar, tapi lain kali saja, kapan-kapan, kalau ada waktu dan tenaga dan kesempatan, kita bahas. Apa? Anda tidak tahu arti SPK? Ck ck ck. Jangan sampai ketahuan tetangga. Malu. Yang bagus itu permalukan tetangga. Tunggu sampai si tetangga ngomong “hujan mau turun”, atau “bayi mau keluar”; nah, langsung sikat: Emang hujan dan bayi bisa mikir?

“Adalah merupakan”, “oleh karena”, “namun demikian”, “meski …, tapi …” adalah keborosan, kata pelurus bahasa. Mubazir. Salah satu sudah cukup. Sama seperti penulis satu ini boros pada paragraf di atas dengan “Masih … lain”; “Masih” dan “lain” di situ berfungsi sama. Dasar amatiran ngaku penulis!

Logika bahasa mengandalkan intuisi, tidak konsisten. Kalau rasanya benar, ya, benarlah. Kalau dirasakan artinya harus itu bukan ini, ya, itulah. Begitulah bahasa dari dahulu sampai sekarang. Kecuali yang sudah mati, baik berkubur dan bernisan maupun tidak, semua bahasa melanggar hukum-hukumnya sendiri tanpa henti. Setiap hari membawa serta pelanggaran baru, pergeseran baru, dan dengan demikian makna baru, cakrawala baru, dan keindahan baru. [Keburukan juga, tapi untuk itulah kita perlu polisi bahasa yang rajin.] Dari sinilah lahir kompleksitas bahasa dan pikiran. Bahasa yang 100 persen taat hukum tidak memungkinkan penafsiran majemuk dan tidak akan melahirkan pemikiran baru serta keindahan poetik.

Kebenaran bahasa bertolak belakang dengan, misalnya, kebenaran undang-undang. Kebenaran undang-undang ditetapkan terlebih dahulu secara logis dan kronologis. Berdasarkan itu, atau sesudah itu, suatu kejadian, misalnya, tindakan kriminal, diuji. Sifatnya normatif. Kebenaran bahasa sebaliknya. Bahasa lahir dan berkembang begitu saja. Setelah itu, atau berdasarkan itu, para pelajar bahasa menarik hukum-hukum bahasa. Jadi, hukum bahasa sejatinya deskriptif.

Bila ada perilaku kebahasaan yang melanggar hukum dikatakanlah oleh pakar bahwa itu kekecualian, kesalahan yang terpaksa diterima sebagai kebenaran. Sayang, atau untung, penghidup bahasa biasanya bandel dan berprinsip “anjing menggonggong, kafilah berlalu”, sebab, secara logika bahasa, baik kebiasaan maupun kekecualian adalah sama-sama kebenaran. Itulah seni bahasa.

* Penggumul Makna Kata

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s