Cara Berpikir Penutur: Guru Pembelajar

Yanwardi*, Kompas, 5 Nov 2016

Kata bentukan sering dalam pemakaiannya tidak sesuai dengan pendapat ahli bahasa. Kata pembelajar, misalnya, ketika saya tanyakan kepada beberapa penutur bahasa Indonesia, cenderung ditafsirkan sebagai ’siswa’, atau ’orang yang belajar’. Pendapat beberapa ahli bahasa, Anton M Moeliono misalnya, bertolak belakang dengan penafsiran itu. Menurut Anton, makna pembelajar adalah ’pengajar’ atau ’yang membuat orang jadi belajar’. Dasar argumen ini adalah pembelajar diturunkan dari verba membelajarkan yang bermakna ’membuat orang jadi belajar’. Pemikiran morfologis ini sah saja.

Mengapa penutur cenderung memaknai pembelajar dengan ’orang yang belajar’? Tidak mungkin suatu gejala bahasa yang dipakai sebagian besar penutur terjadi begitu saja. Bahkan, ketika era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, ada istilah guru pembelajar. Makna guru pembelajar, meskipun istilah ini kurang komunikatif, merujuk kepada ’guru yang belajar’. Jadi, maknanya setara dengan makna pembelajar sebagaimana ditafsirkan oleh sebagian besar penutur.

Meskipun kini sebagian ahli bahasa dan pengamat bahasa mulai menganggap bahwa makna ’orang yg belajar’ untuk pembelajar salah kaprah, ada ahli bahasa yang berpendapat lain: Fuad A Hamid dan M Umar Muslim. Pemaknaan mereka senada dengan penutur, yakni ‘‘siswa’, atau ’orang yang belajar’ (learner dalam bahasa Inggris).

Kembali kepada penutur. Penutur bahasa dalam memaknai suatu bentukan bahasa, dalam hal ini pembelajar, selalu bergerak dengan cara berpikir mereka, yaitu dengan pola yang ada dalam benaknya. Terkait dengan bentukan kata pembelajar, ada pola yang begitu dominan dalam bahasa Indonesia, yakni nomina ”pe(N)D-” sebagian besar bermakna ’orang/yang D’ (D di sini kata dasarnya). Ketika menjumpai nomina ”pe(N)-D”, seperti pembelajar, penutur hampir pasti memaknai secara berurutan: (1) orang yang D; (2) orang yang me(N)-D. Bahkan, untuk kata bentukan ”pe-D”, misalnya, petani dan pekebun, polanya tetap sama, yakni ’orang yang ber-D’. Setelah itu, ada pola-pola lainnya hanya lebih jarang, seperti ’orang yang di-D’ (petatar, pesuruh) atau ’orang yang suka/bersifat’ (pemarah, pemabuk). Jadi, pola dalam benak penutur ketika menafsirkan makna nomina ”pe(N)-D/pe-D” selalu mengaitkan dengan klausanya, dan D sebagai predikatnya. Bila D-nya sudah bisa membentuk predikat, seperti malas, berani, makan, riang, dan bicara dalam pemalas, pemberani, pemakan, periang, dan pembicara, penutur langsung memaknai bentukan nomina ”pe(N)-” ini dengan makna ’orang yang D’: orang yang malas/berani/makan/ riang/bicara.

Demikian pula ketika penutur menjumpai kata pembelajar. Mereka cenderung menafsirkan maknanya dengan menerapkan pola yang dominan tadi: ’orang yang D atau orang yang belajar’. Cara berpikir penutur bahasa tidak serumit ahli bahasa yang mengaitkan bentukan tersebut, misalnya, dengan suatu verba. Mereka secara spontan dan intuitif menerapkan cara berpikir dengan pola yang ada dalam benaknya. Secara kebahasaan, jika dianalisis, makna pembelajar ’orang yang belajar’ tercipta dari analogi bentukan yang sudah ada, seperti penyabar, pemberani, dan pemalas, bukan hasil dari verba ”me(N)-D”. Sebagian ahli bahasa boleh saja berbeda pendapat dengan penutur bahasa. Namun, itu bukan berarti makna yang hidup dalam masyarakat ”salah”. Ada sudut pandang lain yang bisa menjawab kecenderungan makna penutur itu. Keterterimaan suatu bentukan bahasa adalah masalah sosial, bukan gramatikal.

* Editor pada Yayasan Obor

Iklan

One thought on “Cara Berpikir Penutur: Guru Pembelajar

  1. Ping-balik: Metode Pendidikan | Rubrik Bahasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s