Welkam Dring

André Möller* (Kompas, 12 Nov 2016)

Sekitar dua belas tahun yang lampau koran ini memuat tulisan saya berjudul ”Pakai Kes apa Kad?”. Di dalamnya saya antara lain membahas kosakata asing yang semakin sering masuk ke dalam bahasa Indonesia. Judulnya sendiri merupakan pertanyaan yang dilontarkan seorang petugas hotel yang berniat bertanya apakah saya mau membayar pakai kes atau kad. Sesungguhnya dibutuhkan beberapa saat dan bantuan dari sang istri sebelum orang kampung seperti saya mengerti bahwa kes itu adalah uang tunai, sedangkan kad adalah kartu. Ketika itu situasinya saya anggap lucu dan geli. Kini saya termasuk orang yang agak terperanjat menyadari bahwa kes sudah jadi lema resmi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat walau masih ditandai cak (yaitu merupakan ”kata ragam cakapan”). Kata lain, yang juga diberi label cak tapi tetap sudah masuk kamus akbar ini, adalah skedul (daftar perincian waktu yang direncanakan; jadwal) dan kensel (hapus, batal, tunda).

Izinkanlah saya mendongeng sesaat:

Dahulu kala tersebutlah sebuah keluarga por (miskin) yang terdiri dari seorang mada (ibu) dan kid-nya (anaknya) yang bernama Malin Kundang. Karena ayahnya telah meninggalkannya, sang mada pun harus bekerja keras sendiri untuk bisa menghidupi keluarganya. Malin adalah anak yang smart (pintar), tapi sedikit noti (nakal). Ketika dia beranjak dewasa, Malin merasa kasihan pada madanya yang sedari dulu bekerja keras menghidupinya. Kemudian Malin meminta izin untuk merantau mencari pekerjaan di siti (kota) besar.

Mada, saya ingin pergi ke siti. Saya ingin kerja untuk bisa help (bantu) mada di sini,” pinta Malin.

”Jangan tinggalkan mada, kid. Mada hanya punya kamu di sini,” kata sang mada menolak.

”Izinkan saya pergi, mada. Saya kasihan melihat mada terus bekerja sampai sekarang,” kata Malin.

”Baiklah kid, tapi ingat jangan lupakan mada dan vilej (desa) ini ketika kamu sukses di sana,” ujar sang mada berlinang air mata.

Keesokan harinya Malin pergi ke siti besar dengan menggunakan sebuah kapal. Setelah beberapa tahun bekerja keras, dia berhasil di siti rantauannya. Malin sekarang menjadi orang kaya yang bahkan mempunyai banyak kapal dagang. Dan Malin pun sudah merit (menikah) dengan wanita cantik di sana. Berita abot (tentang) Malin yang menjadi orang kaya sampailah ke madanya. Sang mada sangat senang mendengarnya. Dia selalu menunggu di bic (pantai) setiap hari, berharap anak si mata wayangnya kembali dan mengangkat derajat madanya. Namun, Malin tak pernah kam (datang).

Ah, sudahlah.

Pertanyaan baik atau tidaknya perkembangan ini (yaitu diizinkannya pelafalan keliru kosakata Inggris masuk KBBI) saya sepantasnya menyerahkan kepada para pakar bahasa yang pasti akan berbeda pendapat dan membahas masalah ini tanpa ada habis-habisnya. Di sini saya hanya ingin menggarisbawahi dua hal. Yang pertama adalah bahwa KBBI edisi-edisi berikutnya pasti akan terdiri dari sejumlah jilid kalau gairahnya masyarakat menggunakan kata-kata berbahasa Inggris mau ditampungkan di dalamnya. Yang kedua, saya ingin pertanyakan pemilihan kata yang masuk ke dalam kamus kebanggaan ini. Seperti sudah kita lihat, kes, skedul, dan kensel sudah terpilih dan diangkat. Melihat keadaan itu, saya menggaruk-garuk kepala seolah-olah masih punya rambut dan bertanya-tanya mengapa kata seperti miting (rapat), wiken (akhir pekan), welkam dring (minuman selamat datang), rison (akal), kad (kartu), dan tritmen (perawatan) belum diizinkan masuk. Atau, siti dan vilejnya si Malim Kundang.

* Penyusun Kamus Swedia-Indonesia, Tinggal di Swedia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s