Takut Dosa

Holy Adib* (Pikiran Rakyat, 13 Nov 2016)

Masih banyak masyarakat Indonesia, terutama yang muslim, bingung menggunakan kata serapan bahasa Arab. Mereka takut berdosa bila menulis kata serapan bahasa Arab tidak sesuai dengan makhraj dalam bahasa asalnya. Sebagai contoh, mereka menulis salat dengan shalat, kalbu dengan qalbu, ustaz dengan ustadz, dan Ramadan dengan Ramadhan.

Mereka beralasan bahwa makna kata bahasa Arab berubah kalau satu huruf saja ditulis berbeda. Misalnya, kalbu harus ditulis qalbu karena kalbu berasal dari kata kalb “anjing”. Menurut mereka, kalb menjadi kalbu kalau ditransliterasikan ke dalam bahasa Indonesia. Padahal, bahasa Indonesia menyerap k pada kalbu dari qalb (ق/qaf), bukan dari kalb (ك/kaf), meski bahasa Indonesia juga menyerap kata yang mengandung huruf kaf, seperti kitab, malaikat, dan takabur.

Seharusnya kita tidak perlu memperdebatkan hal seperti itu kalau kita meluruskan logika saat menggunakan kata serapan. Kita semestinya memperlakukan kata dari bahasa apa pun yang sudah diserap menjadi bahasa Indonesia, seperti kita memperlakukan kata dalam bahasa Indonesia. Cara kita memperlakukannya ialah memaknainya dengan logika bahasa Indonesia, bukan dengan logika bahasa asal kata yang diserap itu.

Pada pendahuluan buku Ilmuwan dan Bahasa Indonesia (ITB, 1988) diperikan, “Mengenai ketetapan arti, orang tahu pula bahwa kata hanyalah bunyi yang dipilih secara acak oleh penutur bahasa bersangkutan untuk melambangkan arti yang terdapat dalam diri penutur. Dengan kata lain, arti tidak terdapat pada kata, melainkan pada diri kita sebagai penutur bahasa.” Dari pendapat itu jelas bahwa tidak ada masalah perubahan makna jika kita menulis qalbu dengan kalbu, shalat dengan salat, ustadz dengan ustaz, dan Ramadhan dengan Ramadan.

Mengapa penulisan kata shalat, dzikir, dan Ramadhan merupakan bentuk yang salah dalam bahasa Indonesia? Sejak Ejaan Yang Disempurnakan (1972) hingga Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (2015), bahasa Indonesia cuma memiliki empat gabungan konsonan: kh, ng, ny, dan sy. Oleh karena itu, sh pada shalat, dz pada dzikir, dan dh pada Ramadhan tidak bisa digunakan. Selain itu, bahasa Indonesia juga tidak mengenal pengulangan atau penekanan huruf, seperti Dzulhijjah, Syawwal, sunnah, tayammum, dan ummat. Bahwa dalam bahasa Indonesia ada kata yang mengandung pengulangan huruf ss,seperti pada kata massa, itu kekecualian untuk membedakan masa ‘waktu’ dengan massa ‘sekumpulan orang’. Oleh karena itu, keliru kalau orang menulis massif—yang diserap dari massive—dalam bahasa Indonesia. Pedoman penulisan kata serapan dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia itu dapat dilihat pada SKB Menteri Agama No. 158/1987 dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0543/1987 tentang Pedoman Transliterasi Arab-Latin.

Dalam makalahnya, “Dari Ramadhan dan Sha(o)lat ke Ramadan dan Salat: Telaah Serapan Bahasa Arab” (2009)**, Abdul Gaffar Ruskhan, pakar bahasa Arab dari Badan Bahasa, mengatakan bahwa pada prinsipnya dalam SKB tersebut disepakati, setiap bunyi dilambangkan dengan sebuah huruf, kecuali yang sudah berlaku dalam EYD, seperti sy dan kh. Menurutnya, kesepakatan itu dilakukan, selain untuk menghindari kesalahan dalam mengucapan, juga untuk memudahkan penyerapannya ke dalam bahasa Indonesia. Atas dasar itu, kata seperti adzan, ashar,dan nazhar ditulis (dalam bahasa Indonesia) azan, asar, dan nazar agar tidak dibaca (disalahucapkan) ad-zan, as-har,dan naz-har.

Jadi, jangan hanya karena takut berdosa dalam menuliskan kata serapan bahasa Arab, lalu mencari solusi lain, seperti yang dilakukan teman saya yang seorang wartawan. Dia menuliskata serapan bahasa Arab sesuai dengan makhraj dalam bahasa asalnya. Agar tidak berdosa dan tidak menyalahi kaidah bahasa Indonesia, dia memiringkan kata serapan itu, seperti yang tampak pada kutipan berikut ini.

Ummat Islam di Indonesia akan berpuasa mulai Senin (6/6). Berdasarkan hasil hisab hakiki wujudul hilal, PP Muhammadiyah menetapkan awal puasa Ramadhan 1437 Hijriyah pada Senin (6/6) dan 1 Syawwal 1434 pada Rabu (6/7). Ijtima’ jelang Ramadhan 1437 terjadi pada Minggu (5/6), sedangkan ijtima’ jelang Syawwal terjadi pada Senin (4/7).

Jika demikian, dia akan kesulitan ketika menulis kata serapan bahasa Arab yang bertebaran dalam bahasa Indonesia. Akibatnya, dia akan kesulitan menulis kata serapan bahasa Arab karena harus mengetahui bentuk kata tersebut sesuai dengan makhraj dalam bahasa asalnya.

Ada lagi teman saya yang berpikiran aneh. Karena takut berdosa, dia tetap menulis kata, seperti shalat, qalbu, dzikir, dan Ramadhan. Dia yakin bahwa kaidah bahasa Indonesia saat ini salah, terutama soal aturan empat gabungan konsonan. Menurutnya, konsonan rangkap, seperti sh, dz, dan dh, harus dimasukkan kedalam kaidah bahasa Indonesia. Dia percaya bahwa nanti konsonan rangkap itu menjadi bagian bahasa Indonesia, karena menurutnya, kaidah bahasa bisa berubah, seperti halnya undang-undang yang diamendemen. Dia lalu mencontohkan bahwa dulu kata Jum’at ditulis memakai // ain (ع),sesuai SKB Pedoman Transliterasi Arab-Latin. Lalu, karena pedoman itu berganti, Jum’at berubah menjadi Jumat. Ternyata, dia belum tahu bahwa SKB Pedoman Transliterasi Arab-Latin itu belum berubah sampai kini.

Lantas, kenapa Jum’at ditulis Jumat? Karena sejak EYD hingga PUEBI, // ain (ع) di awal suku kata menjadi a, i, u, seperti aja’ib menjadi ajaib dan do’a menjadi doa.Sedangkan // ain (ع) di akhir suku kata menjadi k, seperti mu‘jizat menjadi mukjizat dan ni‘mat menjadi nikmat.

Dalam bahasa Indonesia, tanda baca (‘) disebut apostrof yang berfungsi menunjukkan bagian huruf atau angka yang dihilangkan, seperti 99 (1999), lah (telah), dan kan (akan).

Satu hal lagi. Transliterasi berbeda dengan kaidah bahasa Indonesia. Kata hasil transliterasi harus ditulis miring karena merupakan kata asing, sedangkan kata serapan bahasa Arab dituliskan sebagaimana kata dalam bahasa Indonesia, sebab bukan lagi kata asing. Karena itu, meski Jum’at mengandung tanda baca /’/ dalam pedoman transliterasi, kata itu mesti ditulis Jumat (lurus/tidak miring) sebab sudah diserap menjadi bahasa Indonesia.

* Wartawan, tinggal di Padang

** Disampaikan Abdul Gaffar Ruskhan pada Seminar Forum Bahasa Media Massa di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Tarumanegara, Jakarta, 8 September 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s