Tanda Mata dari Langit

Rainy M.P. Hutabarat* (Kompas, 19 Nov 2016)

anak-anak kecil/bermain di jalan-jalan/kehilangan tanah lapang/pohon tumbang/tembok didirikan/kiri kanan menyempit/ anak-anak terhimpit/anak-anak itu anak-anak kita/ingatlah ketika kau mendirikan rumah/ingatlah ketika kau menancapkan pipa pabrik ….

Cuplikan sajak ”Anak-anak” karya Wiji Thukul itu menggambarkan dunia yang tidak ramah anak. Orang-orang membangun kampung, kelurahan, kecamatan, atau kota tanpa mengingat bahwa anak-anak adalah juga warga yang harus diperhitungkan. Anak-anak kehilangan tempat bermain-main yang aman dan sehat sehingga mereka bermain alip berondok atau bermain tali atau bermain bola di jalan-jalan. Lingkungan kota juga dikepung berbagai spanduk iklan yang bunyinya tidak memperhitungkan kehadiran anak sebagai warga kota. Dalam sebuah kota yang penuh dengan mal, gedung jangkung, dan jalan-jalan yang siang malam riuh dengan kendaraan bermotor, tempat bermain anak telah dikemas atau dipaketkan di play station dan berbagai tempat rekreasi lainnya.

Dunia yang tidak ramah anak, itulah yang menghentak kita ketika membaca sajak Wiji Thukul. Ketika kita membaca berita tentang Yuyun yang diperkosa 14 lelaki dan dibunuh di Bengkulu. Ketika kita membaca berita tentang ibu tiri yang menyiksa bocah Dafa Mustaqim, 7 tahun, di Ciledug. Ketika kita menyaksikan foto Omran Daqneesh, 5 tahun, bocah korban perang Suriah, yang diam seribu bahasa dan tanpa air mata. Ketika kita membaca empat anak Sekolah Minggu di Samarinda yang tengah bermain di pekarangan gereja menjadi korban bom molotov yang dilemparkan seorang lelaki tanpa hati. Ketika kita membaca pada akhirnya, Intan Marbun, 2,5 tahun, salah seorang korban dengan 80 persen tubuh terbakar, meninggal dunia setelah 12 jam berjuang untuk bertahan hidup.

Sapardi Djoko Damono pernah mengatakan, ”Anak adalah tanda mata dari langit bahwa kita manusia istimewa, ketika bintang menghiasi angkasa, anak menghiasi dunia.” Tanda mata dari langit artinya karunia Sang Ilahi. Kerap pula kita menyebut anak sebagai ”titipan Tuhan”. Jika langit dihiasi bintang gemintang di waktu malam, maka anak-anak menghiasi dunia sehingga berwarna-warni pelangi.

Tanda mata dari langit adalah anak-anak kepada siapa kita harus peduli dan berjuang bersama untuk menegakkan hak-hak mereka khususnya hak atas kehidupan yang aman dan damai. Hak atas dunia yang ramah anak, sebagaimana diingatkan Wiji Thukul: Anak-anak kecil berdesakan/sepak bola di jalan-jalan/bila jendela kacamu berantakan/tenggoklah anak-anak itu/pandanglah pagar besimu/sungguh luas halaman rumahmu. Kita—meminjam Kahlil Gibran—adalah ”busur-busur sosial” yang melesatkan anak-anak panah menuju kehidupan mereka dengan bijak bestari dan gagah perwira.

Satu tanda mata dari langit, Intan Marbun, kini tak lagi meramaikan dunia kita dengan keriangan, keingintahuan, dan kejenakaannya. Ia anak panah yang hangus oleh ledakan bom molotov. Tiga teman bermain Intan Marbun mengalami luka bakar yang parah di sekujur tubuh mereka, dan terus berjuang di rumah sakit di Samarinda. Kepergian Intan Marbun menjadi intan yang bersinar, penanda bangunnya kesadaran kita bahwa kita harus bekerja lebih keras lagi untuk menciptakan dunia yang ramah anak. Bahwa di mana-mana di dunia ini, di Samarinda atau di Suriah, kekerasan bersenjata yang dibalut kebencian dan permusuhan kerap mengorbankan anak-anak, sang tanda mata dari langit.

Satu anak panah patah, cukup!

* Cerpenis dan Pekerja Media

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s