Badjoe

Bandung Mawardi* (Majalah Tempo, 21 Nov 2016)

Pada 1917, terbit buku tebal berjudul Encyclopaedia van Nederlandsc-Indie dengan redaksi J. Paulus. Segala hal yang berkaitan di tanah jajahan mendapat pembahasan ringkas dan jelas. Di halaman 101, ada istilah “badjoe”. Penjelasan mengacu ke asal bahasa: Persia dan Sanskerta. Di tanah jajahan, pelbagai etnis memiliki sebutan berbeda untuk baju. Di Jawa, baju itu klambi atau rasoekan. Di Sunda, baju berarti raksoekan. Di adab Melayu, baju biasa mendapat sebutan kabaja. Segala keterangan pendek dan tak terjamin benar meski sudah menghuni ensiklopedia buatan sarjana Belanda. “Badjoe” itu dianggap penting dalam memahami identitas, adab, dan estetika di tanah jajahan.

Sebelum ensiklopedia berbahasa Belanda sampai ke pembaca, Raden Sasrasoeganda mendahului memberi arti “badjoe”. Pengertian dimuat dalam Baoesastra Melajoe-Djawa, terbitan Commissie voor de Volkslectuur, 1916. Badjoe berarti klambi. Sasrasoeganda memberi sekian contoh: klambi belah banten, klambi koeroeng, klambi rangkepan, klambi koetoengan, dan klambi takwa. Pembaca diajak berimajinasi sekian wujud baju sesuai dengan pengertian di kamus. Sejak awal abad XX, urusan baju mungkin semakin rumit dengan daftar panjang kemunculan baju berasal dari puluhan adat dan baju bersumber dari peradaban Eropa, Tiongkok, Arab, dan India. Di tanah jajahan, orang-orang memiliki selera baju bereferensi warna kulit, agama, pekerjaan, dan usia.

Ensiklopedia dan kamus dari masa lalu teringat saat penulis membaca buku berpenampilan molek berjudul Kamus Mode Indonesia (2011) susunan Irma Hadisurya, Ninuk Mardiana Pambudy, dan Herman Jusuf. Kamus memuat dua sambutan dari pihak pemerintah: Menteri Perdagangan dan Menteri Perindustrian. Dua menteri tak cerewet memberi sambutan mengenai mode. Dua tulisan hadir justru ingin mengesankan bahwa mode sangat penting bagi kemajuan perdagangan dan perindustrian di Indonesia. Konon, kamus itu diharapkan “turut memajukan industri nasional” dan “panduan bagi para desainer mode Indonesia”. Kamus mengarah ke warta pekerjaan dan uang ketimbang bahasa dan perkembangan makna, dulu sampai sekarang.

Para penulis memiliki maksud berbeda dalam penerbitan Kamus Mode Indonesia. Mereka tak berlaku sebagai pejabat atau pelaku industri. Kamus diharapkan memberi faedah bagi siapa saja. Mereka sempat membuat daftar: pengajar dan siswa sekolah mode, desainer, penulis, perajin, pengusaha, dan produsen. Pakar bahasa mungkin tak termasuk. Penulis bisa saja mencakup orang tekun menulis puisi, cerita, dan novel. Kamus itu terbit “terlambat” andai kita ingin mencari faedah kamus dalam gubahan puisi mengenai celana oleh Joko Pinurbo (1999). Kamus semakin “terlambat” terbit andai kita membaca dua novel bergelimang istilah mode dalam Mata Gelap (1914) dan Student Hidjo (1919) garapan Mas Marco Kartodikromo. Dua novel itu rujukan penting dalam mengenang sejarah dan perkembangan mode di Indonesia.

Apakah novel-novel lawas jadi bacaan dalam penggarapan Kamus Mode Indonesia? Di halaman 300, berjudul “Daftar Pustaka”, pembaca tak bakal menemukan novel, puisi, dan drama sebagai bacaan kesejarahan dalam bahasa dan makna. Kamus memang tak wajib memiliki lema berasal dari fiksi atau buku sastra. Kemunculan Kamus Mode Indonesia pada abad XXI bukan bermisi sebagai buku pelajaran sejarah atau kumpulan kata berimajinasi masa silam. Kemauan menghimpun keragaman baju ada meski tak memiliki kaitan dengan ensiklopedia dan kamus lawas. Di halaman 20-22, pembaca menemukan keterangan tentang baju bodo, baju boro, baju cele, baju contoh, baju hangat, baju jadi, baju koko, baju kurung, baju labbu, baju olahraga, baju pantai, baju renang, baju rompas, dan baju tidur. Kamus itu memuat satu gambar agar pembaca mengenali baju kurung.

Kita menduga Kamus Mode Indonesia bakal menjadi tebal andai ada perbaikan berupa penambahan lema dan gambar. Buku-buku sejarah, antropologi, sosiologi, biografi, dan sastra pantas jadi referensi. Kita mengusulkan agar buku berjudul On the Subject of “Java” (1994) garapan John Pemberton jadi referensi untuk mengetahui cara raja, bangsawan, seniman, dan elite terpelajar di Jawa dalam memenuhi selera baju, sejak abad XIX sampai XX. Novel-novel sejak masa 1910-an perlu jadi bacaan untuk mengerti mode para tokoh dan kepekaan pengarang dalam mencatat perkembangan mode di tanah jajahan. Usul-usul itu mungkin memberatkan dan membuat Kamus Mode Indonesia jadi amburadul akibat “cerewet” dalam penjelasan. Begitu.

* Pengelola Jagat Abjad Solo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s