Kepimpinan Kondusif

Samsudin Berlian* (Kompas, 26 Nov 2016)

Definisi kondusif, walaupun dilabel kata sifat, di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dimulai dengan kata kerja: ”memberi peluang pada hasil yang diinginkan yang bersifat mendukung”. Tak apa-apa, sih. Banyak kata yang bentukannya kerja dipakai untuk menjelaskan sifat. Contoh: ”Ini penulis yang menyenangkan dan menenangkan”; atau ”Itu penulis yang menyebalkan dan mengesalkan”.

Nah, yang juga menyebalkan dan mengesalkan, definisi KBBI itu, selain bertele-tele, tidak dengan tegas menyatakan bahwa apa yang didukung itu sebagusnya disebutkan. Dengan kata lain, apabila kondusif langsung ditutup dengan titik, ia tidak menjelaskan apa-apa selain kesan positif. ”Keadaan politik sekarang kondusif” hanya berarti ”keadaan politik sekarang baik”. Kan sayang sebab kondusif sejatinya memiliki makna lebih spesifik daripada kata generik baik. Potensi makna spesifik itu akan mengaktual apabila kondusif langsung diikuti ”bagi” atau ”untuk”.

Kata Latin dux atau ducis berarti ’pemimpin’. Para penggila keluarga-kerajaan Kerajaan Serikat (United Kingdom) pasti kenal istilah Duke dan Duchess, apalagi Duchess of Cambridge Kate Middleton, putri popular yang diharapkan pada suatu hari akan menjadi ratu dan kemudian hidup bahagia sampai selama-lamanya. Ducere berarti ’memimpin’. Pemimpin adalah orang yang memiliki kekuasaan atau pengaruh untuk menggalang daya upaya banyak orang, bangsa, atau rakyat untuk mencapai suatu tujuan. Baik tidaknya pemimpin ditentukan oleh baik tidaknya proses dan isi tujuan. Pemimpin yang seorang diri atau secara sepihak menentukan tujuan, entah baik entah buruk, disebut otoriter atau diktator. Pemimpin yang menentukan tujuan berdasarkan kehendak banyak orang adalah pemimpin demokratis. Inilah cita-cita kepimpinan di dalam peradaban modern.

Karena awalan com- atau con- berarti ’bersama’, kata kerja conducere berarti memimpin bersama atau mengumpulkan bersama (untuk mencapai tujuan tertentu). Karena ada kebersamaan, tujuan yang diharapkan dengan sendirinya baik bagi banyak orang. Terjadilah pembalikan makna: kepimpinan menjadi kelayanan. Maka, setelah mengalami proses penyifatan mengikuti tatabahasa Inggris, conducive lalu berarti menyumbang kepada sesuatu atau membuat sesuatu tercapai. Si pemimpin (yang baik) telah menjadi si pelayan (yang setia). Persis seperti nasihat bijak dari masa dua milenia lalu, bahwa apabila seseorang ingin menjadi pemimpin yang terutama, hendaklah ia menjadi pelayan yang terendah bagi semua orang.

Begitulah sekarang kondusif secara resmi di dalam kamus lalu kira-kira berdefinisi memiliki fitrah atau sifat berguna untuk mencapai tujuan atau hasil tertentu. Misalnya, ”kepimpinan yang transparan serta jujur dan profesional kondusif bagi pembangunan manusia”; atau ”tutur kata sopan dan sikap merendah serta beberapa mobil mewah kondusif untuk pemikatan hati calon mertua”. Penyunting koran ini tentu tidak bisa berbuat apa-apa ketika mengutip banyak pejabat dan politisi serta pemangku keamanan yang mengobral kata kondusif tanpa menjelaskan tujuan atau hasil yang diharapkan. Namun, pastilah dia bisa mengetok kepala pewartanya sendiri yang terlalu malas untuk mengikutkan kata ”bagi” atau ”untuk” setelah kondusif.

Dalam bentuk lain, dari akar yang sama, kita kenal kata konduite (asal Prancis), artinya kelakuan, yang di Indonesia hanya dipakai untuk evaluasi pegawai, tapi sebetulnya bisa punya arti umum. Certificat de bonne conduite, misalnya, adalah istilah dan instrumen yang suka dipakai pemimpin otoriter ala Orde Baru untuk mengontrol rakyat bandel: ”Surat Kelakuan Baik”.

Bisalah kita katakan bahwa kepimpinan seorang pemimpin negeri yang bersikap pelayan dari dasar hatinya, transparan, jujur, dan profesional adalah kondusif bagi perluasan pembangunan ekonomi yang pro-orang miskin dan bagi pertumbuhan kebangsaan dan kemanusiaan jangka panjang yang adil dan berkebebasan, serta pada akhirnya akan memiliki konduite yang baik berdasarkan penilaian rakyatnya sendiri.

* Penggumul Makna Kata

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s