EYD

Kurnia J.R.*, Kompas, 3 Des 2016

Memang asyik membaca narasi yang disesaki argumentasi dengan hasrat merobohkan sebuah kultus persona yang diberi label diktator. Berbagai hal yang melekat pada dirinya dan sejarah bangsanya selama era kediktatorannya dikuliti dengan gaya serbacela, curiga, dan mendakwa. Begitulah esai Benedict Anderson tentang Soeharto dalam New Left Review 50 (Maret 2008), ”Exit Suharto: Obituary for a Mediocre Tyrant”, yang secara umum ditelan mentah-mentah oleh intelektual Indonesia.

Dari semua aspek mengasyikkan itu ada yang dia sebut national amnesia. Sebagai warisan budaya yang bermotif menghapus relasi memori dan jembatan pengetahuan ke era sebelum Orde Baru, Ben dengan tandas menyebut EYD. Dia bilang, sebetulnya, motif di belakang pemberlakuan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) pada 1972 adalah pemisahan tegas antara tulisan era kediktatoran Soeharto dan tulisan dari era sebelumnya.

Supaya lebih menjurus ke gaya narasi spionase-ilmiah yang seru, Ben menyatakan, ”Orang cukup lihat judulnya saja untuk mengenali apakah buku atau pamflet itu modern ataukah ampas era Sukarnoisme, konstitusionalisme, revolusi, atau kolonial.” Lantas dia melanjutkan, ”Minat kepada bahan bacaan dengan sistem ejaan lama dengan sendirinya mencurigakan.”

Benar jika dia katakan bahwa EYD membawa perubahan besar sehingga generasi baru mendapati bacaan ”lama” susah dibaca dan, sebagai akibatnya, mereka enggan menyentuh sejarah yang ditulis dalam ”bahasa lama”. Mereka hanya memperoleh masukan sejarah dari bacaan yang memakai—menurut istilah Ben—Suharto spelling, ejaan Soeharto. Hasilnya adalah amnesia sejarah.

Sebetulnya tesis Ben Anderson tentang EYD sebagai rekayasa budaya rezim Soeharto menyalahi sejarah. Dia berfantasi sedang membedah rekayasa politik Orwellian menciptakan apa yang dalam novel George Orwell, 1984, disebut Newspeak, Bahasa Baru. Di novel itu Kementerian Kebenaran-nya Bung Besar menciptakan Bahasa Baru yang mereduksi kosakata secara radikal, menciptakan frase dan akronim yang mengerdilkan makna sebatas keperluan indoktrinasi, membekuk daya kritis, dan memegat rantai pengetahuan ke era sebelum rezim totaliter Oceania.

Rezim Soeharto memang menciptakan eufemisme buat mengelabui rakyat; contoh: ”kenaikan harga” dibilang ”penyesuaian harga”; ”disita”, ”ditangkap” jadi ”diamankan”. Sedangkan kronologi historis EYD, lepas dari purbasangka Ben, bisa dirunut hingga era rezim Sukarno.

Gagasan ”menjempurnakan edjaan bahasa Indonesia” muncul dari keprihatinan Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Mr Muhammad Yamin atas pemakaian bahasa yang ”belang-bonteng”. Pada 1954 diadakan Kongres Bahasa di Medan yang bertujuan melakukan pembakuan dan standardisasi ejaan, tata bahasa, dan peristilahan. Pada 1957 tim Prof Dr Prijono dan E Katoppo menghasilkan konsep pembaruan ejaan, yang dikaji ulang oleh panitia baru pada 1967. Setelah melalui diskusi, seminar, dan polemik di surat kabar, pada 16 Agustus 1972 ejaan baru itu, EYD, diresmikan pemakaiannya oleh Presiden Soeharto menggantikan Ejaan Soewandi yang berlaku sejak 19 Maret 1949.

Bahasa mana pun tak mungkin stagnan dalam berbagai seginya. Berlebihan menuduh EYD jadi sarana menghapus pengucapan sejarah pra-Orde Baru, atau memasung kelincahan narasi sastra. Gaya para novelis Tionghoa peranakan dengan Melayu Pasar era Balai Pustaka atau narasi Idrus bisa ditandingi oleh kefasihan khas Mahbub Djunaidi yang menulis di era EYD. Bahkan, kecemerlangan syair Chairil Anwar mendahului gagasan yang 30 tahun kemudian melahirkan EYD. Berlalunya Ejaan van Ophuijsen dan Ejaan Soewandi adalah keniscayaan sejarah yang wajar.

Bahwa dewasa ini muncul lagi fenomena ”belang-bonteng” di tengah masyarakat, itu juga wajar. Bahasa akan terus berubah bersama penuturnya.

* Pujangga

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s