Ingin Kebelet

Eko Endarmoko* (Kompas, 10 Des 2016)

Perempuan periang kawan saya lebih dari tiga puluh tahun silam itu pada satu hari yang rada heboh tampil di layar televisi. Sayang, saya tidak melihat langsung, melainkan hanya menonton rekamannya lewat internet. Namun, di mata saya di menit itu ia masih saja menawan. Ingin saya cium dahi atau ubun-ubunnya, tapi tidak boleh, dalam hati saya bergumam.

Pesona dia sudah membutakan saya. Itu kentara sekali, bagi saya, pada bangun kalimat di dalam hati saya tadi. Inilah kasus kebahasaan yang sanggup membuat saya alpa, meski cuma barang sebentar, pada si perempuan periang. Tata kalimat ini lebih mengundang saya memandangnya lebih dekat lagi. Apa istimewa kalimat yang sedikit menggelora itu?

Pertama-tama rasa saya perlulah kita periksa kata kuncinya. Ingin mewakili dorongan yang bergolak dalam hati atau pikiran akan terwujudnya suatu perbuatan atau keadaan yang sebenarnya potensial, masih berdiam dalam benak subyek. Artinya, perbuatan atau keadaan itu belum mengejawantah, belum terlaksana di dalam kenyataan. Spektrum makna kata yang antara lain punya kesamaan arti dengan hendak dan akan ini merentang dari angan dan cita-cita di awang-awang sampai kebelet di depan pintu luar kamar kecil. Hendak atau berangan-angan menjadi lembu hanya ada dalam imajinasi. Dan kebelet kencing tentulah sangat kuat dorongan itu sekalipun belum sampai mencurah keluar seluruh air seni seseorang. Bakal berbuah, ingin minum bandrek, hendak tamasya, mau muntah, berharap anda dapat hadir, akan membangun pabrik sabun, mencita-citakan kedamaian di tanah Nusantara—semua pernyataan ini menggambarkan hal-hal yang belum ada, belum terjadi.

Demi menegaskan premis yang rada kerap saya utarakan bahwa tak ada dua kata atau lebih yang persis sama, kita tengoklah sebentar arti kata akan di medan makna ingin. Kata ini, dalam lingkungan senarai sinonimnya (ingin, hendak, mau), beririsan makna di satu ruang yang sama-sama berisi pengertian ”dorongan yang bergolak dalam hati atau pikiran akan terwujudnya suatu perbuatan atau keadaan yang sebenarnya potensial”. Artinya, ia berada dalam kesadaran dan dapat dikendalikan oleh subyek. Tapi, akan di satu titik menyempal dari ruang makna bersama itu, yakni dalam hal ia membawa serta unsur ketidaksadaran dan tak terkendalikan (oleh subyek). Rumah ini akan dijual tentu saja menyiratkan rumah tersebut tidak punya kesadaran, tidak punya keinginan. Atau ini: Tampaknya akan hujan badai. Di dalam pengertian begitu, akan kita lihat lebih dekat ke bakal daripada ke ingin. Menjadi semakin teranglah bahwa ingin sepenuhnya berada dalam kesadaran, dan di bawah kendali, sang subyek.

Subyeklah yang punya kuasa atas kata putus apakah ingin itu dilaksanakan atau tidak. Sebentar kita kembali ke perempuan periang di atas. Bila tiga kata terakhir tapi tidak boleh saya tanggalkan, apakah keinginan saya menjadi pupus, batal? Tidak, sudah pasti tidak. Hanya, ingin itu tetap tinggal menjadi keinginan belaka—selama apa yang saya inginkan tidak saya kerjakan. Tiga kata yang menegasikan, yang membawa larangan bagi pernyataan sebelumnya, di situ tak punya makna atau fungsi apa-apa alias mubazir. Tetapi, bila saya mewujudkan ingin itu (dengan kehadiran tiga patah kata terakhir), yang kita dapati kemudian adalah sebuah paradoks. Sadar tidak boleh, namun dikerjakan juga.

Dalam bentuk tindak ujaran, misalnya, Ingin saya katakan orang itu anjing, tapi tidak boleh, tiga kata terakhir justru membawa tanda tanya sangat besar sebab apa yang tidak boleh itu betapapun sudah diujarkan, tidak membatalkan kehadiran ujaran saya mengatakan (katakan) orang itu anjing dalam kenyataan. Maka, kata ingin di awal kalimat itu sama sekali tak membawa peran atau pesan apa-apa. Dibuang ke tempat sampah pun tak mengapa.

* Penyusun Tesamoko, Tesaurus Bahasa Indonesia Edisi Kedua

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s