Metode Pendidikan

Damiri Mahmud* (Kompas, 17 Des 2016)

Saya setuju dengan kesimpulan Yanwardi dalam rubrik ini yang terbit pada Sabtu, 5 November 2016: ”Keterterimaan suatu bentukan bahasa adalah masalah sosial, bukan gramatikal.” Kasus kata bentukan pembelajar itu hampir sama dengan membawahi-membawahkan dan mengatasi-mengataskan yang digulirkan oleh ahli bahasa beberapa waktu sebelumnya sehingga ramai juga dibicarakan. Akhirnya tenggelam sendiri. Bahkan, media cetak yang cepat menerima hal-hal baru tampak kebingungan menggunakannya. Sebabnya ya, itu tadi, dalam masyarakat kita telah mengakar istilah membawahi dan mengatasi, tak dijumpai membawahkan dan mengataskan. Memang benarlah bahwa suatu bentukan bahasa merupakan masalah sosial.

Demikian juga halnya dengan istilah pembesar yang diganti dengan petinggi. Dalam perkembangannya istilah petinggi ini hanya muncul dan dipakai oleh media cetak atau koran belaka. Dalam kalangan masyarakat istilah pembesar masih tetap hidup. Bentukan petinggi tak bisa diurai secara konstruksi morfologis. Istilah petinggi yang dimaksud pengganti istilah pembesar tak cocok diurai menjadi orang tinggi dan tertinggi sebab dalam budaya masyarakat kita, kata tinggi selalu negatif. Misalnya tinggi hati adalah sombong atau angkuh, demikian juga istilah meninggi. Ada pula ”tinggi gunung seribu janji” dan ”setinggi-tinggi terbang bangau”.

Saya juga pernah mengusiknya dalam rubrik Bahasa ini secara singkat (14 November 2015). Kata bentukan pembelajaran konon berkaitan dengan metode-metode pendidikan yang diadaptasi dari Barat. Metode CBSA, misalnya, salah satunya berisi diskusi kelompok. Akan tetapi, kita berbeda budaya dan kurang persiapan. Masyarakat Barat dikenal individualistis, sementara kita egaliter. Mereka memang tak suka berkelompok-kelompok. Segala sesuatunya mereka lebih puas menyelesaikannya sendiri. Sebaliknya kita adalah masyarakat gotong-royong mangan ora mangan asal ngumpul. Tak perlu disuruh diskusi kelompok pun para siswa kita itu sudah dulu-dulunya mempraktikkannya meski dengan pengertian negatif: nyontek! Perkara nyontek ini dalam dunia pendidikan kita sudah tak ketulungan karena semua perangkat didiknya terlibat di dalamnya.

Kedua, kita kurang persiapan. Umumnya sekolah kita, pada tahun 1980-an ketika diadopsinya metode CBSA itu, bahkan hingga kini pun hampir tak punya ruang laboratorium yang memadai. Banyak sekali sekolah yang tak mempunyai ruang laboratorium sama sekali. Mereka merekayasa lokalnya masing-masing sedemikian rupa sehingga terjadi ”huru-hara”. Meja-meja diangkat dan disusun, bangku-bangku diatur yang menimbulkan suara riuh-rendah. Hal ini mengasyikkan siswa, tetapi waktu telah terbuang percuma. Jadi, metode baru yang menelurkan bentukan kata pembelajar-pembelajaran itu tidak efektif sama sekali, bahkan membingungkan para pemakai bahasa.

Kata bentukan pembelajar-pembelajaran baru muncul sekitar tahun 2000. Sebelumnya kata bentukan yang berasal dari kata dasar ajar ini adalah belajar, mengajar, pelajar, pengajar, pelajaran, pengajaran, mempelajari, mengajari, mengajarkan. Kalau pembelajar itu dimaksud oleh ahli bahasa atau kamus sebagai guru, pengajar, atau yang membuat orang jadi belajar, maka kata bentukan pengajar sudah mencakup semuanya.

Pada sisi lain secara sosial pun kata bentukan pembelajar ini masih asing dan membingungkan. Kalau memang dimaksudkan atau dimaknai sebagai siswa atau orang yang belajar, maka kata bentukan pelajar sudah cukup dan sudah sangat memasyarakat.

* Sastrawan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s