Betul … tapi …

Samsudin Berlian* (Kompas, 31 Des 2016)

“Tidak” sebagai jawaban atau tanggapan adalah anathema bagi sebagian besar pemakai bahasa Indonesia. Sangat banyak … apa? Tema apa? Oh, maaf. Anathema tidak berarti ”tema saya”. Aslinya ia berarti ”hal yang diabdikan atau dipersembahkan”, misalnya, kepada Ianus, Dewa Awal dan Akhir. Kabarnya, dari namanyalah sampai kepada kita hari ini Bulan Ianuarius. Setelah zaman Romawi berlalu anathema dipakai dengan makna negatif selama berabad-abad dalam arti ”hal yang diabdikan untuk (sesuatu yang dianggap) keburukan”, misalnya, untuk melayani Iblis atau Setan. Sekarang, dalam pemakaian di zaman sekular, ia berarti hal yang sangat tidak disukai karena bertentangan dengan keyakinan, termasuk keyakinan nonreligius. Sangat banyak orang yakin bahwa menjawab ”tidak” adalah kurang ajar, terutama terhadap orang tua; bertentangan dengan tradisi leluhur; melanggar kebudayaan adiluhung. Karena itu, anathema. Tapi, manalah mungkin berkomunikasi dengan efektif kalau semua permintaan dijawab ”ya”. Jadi, macam-macam konstruksi kata dan ungkapan serta perilaku pun diciptakan dalam masyarakat kita secara kreatif untuk menyatakan ”tidak” tanpa (terlalu) menyinggung perasaan pihak yang ditidaki.

Setelah belasan tahun tak bersua, Anda undang sahabat kental satu SMA datang berkunjung pada akhir tahun untuk menikmati sate terlezat di dunia resep ciptaan sendiri sambil mau pamer istri yang dulu pernah diam-diam ditaksir si sahabat. ”Ya, ya, pasti aku datang,” jawabnya dengan semangat menggebu-gebu seperti dubuk lapar. Lima menit sebelum waktu, ”Maaf, anakku bawel tak mau makan. Istriku panik berat. Terpaksa aku bawa mereka ke dokter langganan kami di Tokyo.” Itulah contoh kreasi perilaku yang dianggap lebih sopan dan beradab daripada secara langsung mengatakan ”tidak”.

Tentu saja tidak semua penghindaran dari jawaban ”tidak” berujung pada keretakan sosial. Justru sebaliknya. Anggota masyarakat sejak balita belajar menangkap mana ”ya” sejati mana ”ya” yang sejatinya ”tidak”. Toleransi masyarakat kita sungguh besar, ehm, dalam hal ini.

Juga ada cara-cara verbal mengatakan ”tidak” tanpa mengucapkannya. Tanpa efek samping yang terlalu parah pula. Salah satu alat efektif yang paling sering dimanfaatkan adalah kata penghubung ”tapi”. Dengan kreatif ia dipakai sedemikian rupa sehingga bukan hanya ia tidak menghubungkan kedua bagian kalimat sebelum dan sesudahnya, bahkan keduanya saling bertolak belakang. Mungkin contoh paling terkenal adalah ungkapan ”begitu ya begitu tapi ya jangan begitu”.

Dalam ungkapan-ungkapan yang tidak sepuitik itu, bentuk-bentuk singkat, termasuk ”Betul … tapi …”, ”Ya … tapi …”, ”Memang … tapi …”; atau dengan penekanan dan pengulangan ”Sebetulnya anda memang betul sekali … tapi …”, ”Persis! Tepat sekali yang anda katakan itu … tapi …”. Varian lain termasuk contoh yang sempat heboh sesaat lalu ”Aku ingin mengatakan … tapi tidak boleh”. Di sini kreativitas subtil sangat dihargai. Kreativitas itu bergantung pada kemahiran anda bertanam tebu di bibir. Tebu tidak begitu mudah ditemukan di kota. Jadi berpoles sakarin juga sudah dianggap sah, asal tidak berlebihan karena bisa menimbulkan rasa mual.

Dalam hal bertapi-tapi, janganlah kita terlalu tegang. Itu adalah salah satu upaya kesopanan dalam masyarakat yang sangat menghargai kesantunan. Bos yang baik, misalnya, selalu mengkritik anak buah bukan dengan ancaman, tapi dengan ”tapi”—”Memang maksudmu baik … tapi …”; ”Perbuatanmu sudah betul … tapi …”. Yang perlu diwaspadai adalah pernyataan politik bertapi. Mengapa? Karena dalam konteks itu, ”tapi” biasanya berarti ”tipu”. Penulis ingin memberikan contoh, tapi takut.

* Penggelut Makna Kata

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s