Om, Telolet, Om …

Bagja Hidayat*, Majalah Tempo, 2 Jan 2017

TELOLET menyatukan dunia. Bunyi trompet bus ini begitu terkenal dalam beberapa pekan terakhir karena anak-anak merekamnya lalu mengunggahnya ke situs video YouTube. Dari “pengoplos lagu” (DJ) terkenal hingga klub sepak bola Inggris, Tottenham Hotspur, menulis “om, telolet, om” di akun media sosial mereka.

Telolet menyatukan dunia karena Internet begitu merajalela. Di zaman ini orang hanya menyalin-tempel apa yang sedang populer di dunia maya. “Telolet” pun menjadi onomatope (penulisan kata berdasarkan bunyinya) di seluruh dunia, tak hanya di Indonesia. Sebelum ada Internet, jangankan di dunia, di Indonesia saja kita berbeda menamai kokok ayam.

Di Bandung, orang Sunda menyebut “kongkorongok”, sementara orang Jawa “kukuruyuk” dan orang Prancis “cocorico”. Orang Sunda bahkan punya sembilan jenis onomatope untuk kata “jatuh”: tikusruk, tisoledat, dst. Sementara ayam adalah onomatope untuk suara, “tikusruk” dan lain-lain itu onomatope berdasarkan tindakan. Orang Jepang menyebutnya gitaigo, untuk membedakan onomatope giongo.

Barangkali karena sebelum zaman informasi tersebar begitu mudah, orang-orang lokal mencari dan membuat onomatope sendiri berdasarkan bahasa dan budaya mereka, yang mengakibatkan suara ayam yang sama dinamai berbeda.

Kita mengenal banyak jenis ketawa yang dituliskan. Orang Indonesia menuliskannya dengan “hahaha”, belakangan menjadi “wakakaka”, atau “hehehe” untuk tertawa yang tak terlalu “ngakak”. Sementara itu, orang Spanyol menulis tertawa dengan “jajajaja”, orang Brasil “huehuehue”, orang Bulgaria “xaxaxa”. Perbedaan-perbedaan onomatope ini, sekali lagi, dibuat dan muncul jauh sebelum Internet ditemukan dan jadi alat komunikasi antarmanusia kini.

Maka “telolet” tak punya perbedaan di mana pun. Penulisan bunyi trompet ini sama dengan pengucapannya yang merujuk pada bunyinya. Orang Indonesia dari Sukaraja atau Mulyajaya, bangsa Amerika dari Arizona ataupun Iowa, atau orang Rusia punya telinga dengan daya tangkap tonal yang sama dengan bunyi trompet bus ini. Mereka tak menciptakan onomatope sendiri dengan, misalnya, “dorodot-dorodot”.

Internet memudahkan penyebaran mimikri, tiru-tiruan yang segar dan lucu. Maka ada yang meramalkan dunia kelak kian seragam karena budaya dan bahasa tersatukan mengikuti bahasa yang dipakai secara populer. Agaknya fenomena “telolet” mulai menunjukkan kebenaran ramalan itu: dunia kian seragam dan bahasa tak lagi arbitrer dari benda yang diterangkannya.

Fenomena “telolet” sejatinya sudah ada sejak 20 tahun lalu, ketika ekonomi yang tumbuh mendorong pembangunan infrastruktur sehingga pemilik modal mendirikan perusahaan otobus yang mengakibatkan urbanisasi meningkat. Anak-anak pantai utara Jawa akrab dengan bunyi-bunyian ini.

Untuk menarik minat penumpang, para sopir bus—terutama bus-bus dari timur Jawa Barat—memodifikasi klakson dengan bunyi trompet yang besar. Penumpang senang dan para sopir merasa gagah bisa memoles bus dengan aneka rupa gambar hingga suara.

Persaingan bunyi klakson di jalan pun tak terhindarkan. Anak-anak yang senang melihat mobil besar, karena membayangkan menaiki atau kelak menyopirinya, meminta para sopir membunyikan trompet itu. Para sopir dengan sukacita memenuhinya.

Bunyi telolet pun jadi semacam identitas. Bus ke Pulogadung pukul 15.00 diketahui sudah mendekat dari bunyi trompet yang dibunyikan sopir dari jarak satu kilometer dari terminal di Kuningan. Nadanya berbeda dengan bus yang akan menuju Lebak Bulus atau Kampung Rambutan.

Jika kini bunyi “telolet” itu menjadi terkenal ke seluruh dunia, Internet yang membantunya hingga sampai di Gedung Putih di Washington, DC. Atau anak-anak muda di New York kian menyebarkannya lagi dengan mengunggah video “om, telolet, om…” dengan gembira.

Ada yang menyebut “telolet” mencerminkan kurangnya ruang publik bagi anak-anak di Indonesia sehingga mereka turun ke pinggir jalan atau mengejar bus untuk bersaing dan pamer video di YouTube. Mungkin ini kesimpulan ceroboh. Sebab, kini orang-orang tua, remaja, hingga orang dewasa juga merekam bus yang tengah membunyikan trompet besar itu.

Barangkali memang bahagia terbentuk oleh hal-hal sederhana. Telolet yang hanya demikian adanya membuat dunia bersukacita. Terutama di media sosial hari-hari ini. Ketika pertikaian yang membosankan belum kunjung terlihat ekornya, telolet membuat dunia maya kembali menyenangkan untuk dijelajahi.

* Wartawan Tempo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s