OK OCE?

Ridha Kusuma Perdana* (Media Indonesia, 8 Jan 2017)

Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2017 tidak lama lagi akan mencapai puncak. Setelah berbagai polemik mewarnai perjalanannya, pilkada yang paling santer dibicarakan di Tanah Air itu akan segera dilaksanakan. Karena itu, ketiga pasangan calon pun semakin giat mempromosikan program-program mereka. Ada pasangan nomor urut satu, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, dengan 10 program unggulan mereka, di antaranya bantuan langsung kepada golongan miskin dan kurang mampu serta pengurangan pengangguran dan penciptaan lapangan kerja. Lalu program dari pasangan calon nomor urut dua Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, mengenai reformasi birokrasi. Yang terakhir, ada program dari pasangan calon nomor urut tiga, Anies Baswedan-Sandiaga Uno, yaitu One Kecamatan One Center for Entrepreneurship.

Seluruh program ketiga pasangan itu menarik memang. Terlebih tiap-tiap calon mempunyai program yang menurut mereka paling tepat diterapkan untuk mengatasi peliknya masalah di Jakarta.

Mereka dengan yakin dan mantap mengatakan program mereka akan berjalan dengan baik dan dapat diimplementasikan terhadap kompleksnya penduduk Ibu Kota. Namun, pembahasan mengenai hal itu tidak akan dibicarakan pada kesempatan ini.

Dalam tulisan ini penulis hanya ingin memfokuskan bahasan pada masalah kebahasaan dari program itu. Terlebih program itu tentu disimak banyak kalangan, baik warga DKI, akademisi, mahasiswa, politikus, maupun masyarakat Indonesia pada umumnya. Dari ketiga program pasangan calon tersebut, satu nama program yang mengusik pikiran penulis ialah milik pasangan calon nomor urut tiga, yaitu program One Kecamatan One Center for Entrepreneurship atau bisa disebut OK OCE.

Program yang menargetkan dapat mencetak 200 ribu wirausaha dalam lima tahun itu baru saja diluncurkan Anies dan Sandi. Program itu berisi pelatihan, pemberian dana, dan mentoring kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di tingkat kecamatan di Ibu Kota.

Jika dibaca secara sekilas, tidak ada masalah memang dengan nama program tersebut. Namanya cepat dihafal dan mudah terekam dalam benak siapa pun. Namun, jika nama program itu dicermati, ada satu hal yang perlu diluruskan, yaitu penggunaan bahasa Indonesia yang tercampur dengan bahasa Inggris. Pencampuran antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris itu terasa tidak pas karena kurang mencerminkan rasa bangga terhadap bahasa Indonesia. Terlebih, objek program tersebut ialah UMKM yang dilakukan warga Jakarta, bukan warga negara asing. Nama program itu pun sebenarnya masih sangat bisa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Tentu, jika nama program itu ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia, itu akan lebih baik.

Hal tersebut pun akan dapat menunjukkan sikap positif politikus terhadap bahasa Indonesia, yang sangat jarang terlihat, terlebih salah satu dari mereka ialah akademisi. Penggunaan bahasa Indonesia dalam program-program seperti itu pun secara tidak langsung dapat memberikan edukasi kepada masyarakat tentang kebanggaan menggunakan bahasa persatuan ini.

Menurut penulis, sebenarnya ada beberapa opsi nama dalam bahasa Indonesia untuk mewakili program tersebut, misalnya, program itu dapat dinamai dengan Satu Kecamatan Satu Sentra untuk Ekonomi atau mungkin bisa juga Satu Kecamatan Satu Sentra untuk Wirausaha. Dengan begitu, tidak bercampur kode bahasa!

* Tim Bahasa Media Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s