Kata Berstatus Liar

Riko Alfonso (Media Indonesia, 15 Jan 2017)

Di DKI Jakarta, kita dapat bertemu dengan sekelompok masyarakat yang tinggal di pinggiran rel kereta, kolong jembatan, atau gubuk-gubuk sempit yang berdempetan. Mereka tinggal sudah bertahun-tahun, berbaur dengan masyarakat sekitar, sehingga sudah dianggap menjadi masyarakat asli daerah itu. Akan tetapi, secara administratif, status para penduduk itu ternyata bukanlah warga DKI Jakarta. Oleh petugas dinas sosial, para penduduk tersebut disebut penduduk liar. Status tak jelas meski telah lama hidup dan berbaur dengan masyarakat asli. Karena berstatus liar, nasib mereka pun menjadi tak diperhatikan.

Saya tidak ingin membicarakan lebih jauh penduduk liar tersebut. Namun, dalam bidang bahasa ternyata ada juga kata-kata yang bernasib persis seperti penduduk liar itu. Kata-kata itu ada sudah lama dan sering dipakai masyarakat untuk berkomunikasi, tetapi kita tidak sadar bahwa ternyata kata-kata itu tidak ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Nasib kata-kata itu sungguh menyedihkan. Meski sudah banyak membantu masyarakat, mereka tetap dianggap tak baku oleh lembaga bahasa hingga saat ini.

Contoh kasus, suatu ketika, kawan redaktur di kantor kami bertanya, mana yang baku, merangsek atau merangsak? Jika bicara kata baku, tentu tak ada rujukan yang lain yang kami ambil kecuali KBBI edisi teranyar. Mengejutkan, ternyata kata yang saya yakin sudah ada jauh sebelum saya lahir itu tak ditemukan dalam KBBI. Bagaimana mungkin kata verba merangsek yang bermakna ‘menyerang, menggedor’, atau mungkin juga ‘ofensif’ itu tidak diakomodasi dalam KBBI? Kawan redaktur saya pun turut tak percaya. Mengapa kata itu tidak dibakukan?

Ada yang berpendapat mungkin karena kata merangsek ini berasal dari bahasa Inggris, ransack, yang berarti ‘merampok, menggedor, menggeledah’, sehingga dianggap berbau asing. Akan tetapi, cara penulisan merangsek sudah jauh berbeda, bahkan juga definisinya di Indonesia, jika dibandingkan dengan kata aslinya dalam bahasa Inggris. Kata merangsek sudah mengalami perubahan menjadi kata yang berkhas.

Lalu mengapa kata ini tak pula dibakukan? Lalu ada pula kata ranking. Kata itu juga tidak ada dalam KBBI edisi teranyar. Padahal, itu sudah lama ada. Kata ranking tak dimasukkan ke KBBI tentu karena masih berbentuk sama dengan bahasa aslinya, Inggris. KBBI bahkan menawarkan padanan kata untuk ranking, yaitu peringkat. Namun, dalam perkembangannya, ranking dan peringkat sama-sama berkembang baik di masyarakat.

Bahkan ada kecenderungan, kalau bicara tentang peringkat di sekolah, masyarakat lebih memilih istilah ranking atau rangking daripada peringkat. Saya jadi teringat dengan kata muda gadget. Di awal-awal kemunculannya, kata gadget ditulis miring karena dianggap istilah asing.

KBBI bahkan menawarkan kata gawai sebagai padanannya. Akan tetapi, pada perkembangannya, masyarakat lebih menyukai memakai istilah gadget daripada gawai. Mungkin karena pertimbangan itulah, akhirnya kata gadget dimasukkan ke KBBI, tanpa mengubah cara penulisannya maupun penyebutannya.

Merangsek atau ranking merupakan kata-kata yang bernasib menyedihkan karena tak dilirik sedikit pun oleh lembaga bahasa. Mereka bahkan terkalahkan oleh derasnya istilah asing baru yang dengan mudahnya masuk dan dibakukan ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tanpa perlu diubah penulisan maupun penyebutannya. Alamak ….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s