Chicano dan Melayu

Dodi Ambardi*, Majalah Tempo, 16 Jan 2017

Sudah lama para antropolog memakai bahasa untuk menentukan batas virtual kelompok budaya. Batas virtual bahasa ini kadang melampaui batas geografis sehingga sebuah bahasa bisa bersitumbuk dengan bahasa lain dalam kehidupan sehari-hari. Walhasil, tumbukan identitas dan bahasa ini sering menjadi sumber ketegangan sekaligus sumber humor.

Rumpun Chicano di Amerika Serikat bisa menjadi contoh. Chicano adalah warga keturunan Meksiko yang tinggal di bagian barat-selatan Amerika Serikat yang berbatasan dengan Meksiko. Aslinya, mereka berbahasa Spanyol dan masuk geografi Negara Meksiko. Tapi, setelah kalah dalam perang dua tahun,1846-1848, Meksiko menyerahkan sebagian teritorinya kepada Amerika Serikat, yang kelak menjadi Negara Bagian California, Arizona, New Mexico, dan Texas. Sejak itu, warga Chicano menjadi bagian dari bangsa Amerika Serikat yang berbahasa Inggris dan mereka seolah-olah menjadi warga migran di Amerika Serikat. Kelompok inilah yang menumbuhkembangkan sejenis Spanglish atau Inggris-Spanyolan yang unik.

Ketegangan berbasis identitas sering muncul dalam pertandingan sepak bola antara tim Meksiko dan tim Amerika Serikat. Sumbernya, banyak warga Chicano yang malah mendukung tim Meksiko dalam Piala Dunia dan Piala CONCACAF. Cercaan “huuu…” justru dialamatkan ke tim Amerika Serikat, bukan tim Meksiko. Akibatnya, sebagian warga dan media di Amerika Serikat mempertanyakan nasionalisme para “migran” Chicano yang mencari makan di Amerika Serikat tapi hatinya malah diberikan kepada tim Meksiko.

Atas tuduhan itu, warga Chicano memberikan dua jenis reaksi. Reaksi yang serius mengatakan, “Kami tidak mengejek Negara Amerika Serikat, tapi meledek tim sepak bolanya.” Respons yang jenaka muncul dalam sebuah laga Piala Dunia, ketika seorang warga yang diwawancarai media memberikan dalih kocak: “Kami bukan migran yang melintasi batas negara Amerika Serikat, tapi batas negara itulah yang melintasi kami yang sejak dulu tinggal di sini.”

Di wilayah bahasa, warga Chicano mengadopsi istilah atau julukan Spanyol, seperti chicarito, yang disematkan pada pencetak goal Meksiko saat itu, Javier Hernandez, karena warna matanya yang berpendar hijau chicarito atau hijau kacang kapri. Mereka mencetak kata-kata khas yang menyimpang dari akar asli bahasa Inggris ataupun bahasa Spanyol.

Mereka menciptakan kata actualmente, contohnya. Kata yang bermakna “sesungguhnya” ini bukan kata Inggris, yang memiliki istilahnya sendiri, yakni actually. Namun ia juga bukan kata Spanyol, karena kata itu seharusnya diganti dengan en realidad. Libreria yang dipakai dalam komunitas Chicano juga bukan ejaan resmi Inggris, library. Ia bukan juga kata Spanyol, karena orang-orang Semenanjung Iberia menggunakan kata biblioteca untuk padanan perpustakaan.

Kata-kata pinjaman yang diformat secara lokal juga berserakan di khazanah Spanglish Chicano: azeguranza (insurance), biles (bills), chorca (church), marqueta (market), troca (truck), dan banyak lagi. Kata-kata ini bukan ekspresi kultur asli Chicano karena kata-kata itu adalah produk mutakhir temuan teknologi dan temuan sosial kehidupan modern.

Agak berbeda tapi masih bisa diperbandingkan adalah rumpun Melayu yang tersebar di Semenanjung Melayu dan sebagian Sumatera. Rumpun ini dibelah kekuatan kolonial Inggris dan Belanda sejak abad ke-17, yang lantas menghasilkan dua negara dengan akar bahasa yang sama: Malaysia dan Indonesia. Mirip dengan Chicano, batas geografis negara mendatangi dan membelah warga Melayu menjadi dua.

Dalam urusan fanatisme sepak bola memang Chicano dan Melayu tidak terlalu mirip. Umumnya, etnis Melayu kokoh membela tim negara masing-masing. Kesamaan akar kemelayuan tidak selalu menghasilkan keramahan satu sama lain di lapangan bola. Dalam urusan bahasa, kelompok Melayu di negara masing-masing juga mengembangkan keunikan kosakatanya sebagaimana kelompok Chicano mengembangkan keunikan bahasa Inggris.

Tengoklah tiga kata berikut ini: wayang, senang, dan bual. Wayang bagi warga Indonesia adalah lembaran boneka pipih yang terbuat dari kulit. Bagi warga Malaysia, wayang adalah film yang diputar di bioskop. Senang di Indonesia berarti gembira, sementara di Malaysia senang berarti mudah. Bagi orang Indonesia, bual memiliki konotasi buruk karena ia adalah selinap kebohongan. Sedangkan bagi orang Malaysia, bual bersifat netral saja, yang artinya obrolan.

Di saat lain, rumpun Melayu di negara masing-masing juga bisa ramah dengan saling mengadopsi ekspresi tetangganya. Sampai 1980-an, kita di Indonesia tidak mengenal ekspresi berjaya yang banyak digunakan di Malaysia. Kini kata tersebut dipakai dalam percakapan resmi dan sehari-hari di Indonesia.

Akhirnya, tumbukan dua subkultur bahasa itu juga menghasilkan banyak humor yang kini bertaburan di dunia maya. Konon, di Malaysia, Kementerian Agama dinamai Kementerian Tak Berdosa, sementara padanan Angkatan Darat di Malaysia adalah Laskar Hentak-hentak Bumi. Keduanya tentu saja humor. Sebab, di situs resmi pemerintah Malaysia, Kementerian Agama tidak tercantum, sementara Angkatan Darat di sana disebut Tentera Darat Malaysia.

* Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s