Pesan Konatif dari Mekah

Suprianto Annaf* (Media Indonesia, 22 Jan 2017)

Lain lubuk lain ikannya. Pepatah lama ini relevan saat kita berada di negara orang lain. Cara dan budaya tidak sama, termasuk bahasa. Tentu saja kitalah yang harus menyesuaikan dengan segala perbedaan itu. Namun, bagaimana bila negara yang kita kunjungi itu yang ‘menyesuaikan’ dengan diri kita? Tentu hal ini memunculkan sikap dan perasaan yang berbeda: serasa kita berada di negara sendiri. Hal itulah yang pertama saya rasakan ketika menginjakkan kaki di Bandara Jeddah. Deretan hologram bertuliskan ‘Selamat Datang’ di terminal kedatangan internasional menyapa dalam bahasa Indonesia.

Rasa kagum mulai memunculkan tanya: kenapa menggunakan bahasa Indonesia, ya? Itu yang pertama terlontar saat membacanya. Belum lagi, iklan bank dari negara sendiri ikut menghiasi dinding-dinding bandara. Rasa kagum itu tidak terhenti di situ saja. Saat melewati staf bandara, tak jarang interaksi dalam bahasa Indonesia. Mereka menyapa, “Haji Indonesia, lewat sini!” Ada pula ujaran, “Haji … Haji … cepat jalannya!” Rupanya begitu familier bahasa Indonesia di negeri ini. Dalam perjalanan menuju hotel di Mekah, analisis teks ujaran memunculkan praanggapan beraneka rupa. Analisis yang paling sederhana tentu saja interaksi bahasalah yang menjadi penyebabnya. Bukankah di Arab Saudi ini banyak tenaga kerja dari Indonesia sehingga menjadi penutur yang tak sengaja memengaruhi pendengarnya (warga Arab Saudi)? Bisa pula jemaah haji dan umrah dari negara kita yang membuat mereka bertutur dalam bahasa Indonesia. Jemaah dalam jumlah terbesar tentu berkorelasi dengan peluang bisnis bagi mereka. Praanggapan itu cukup menjawab rasa penasaran saya.

Interaksi bahasa memang dilandasi banyak tujuan. Selain sebagai sarana komunikasi, laras bahasa lisan dan tulisan digunakan untuk ekspresi diri, untuk keperluan bersatu, dan untuk tujuan bisnis (salah satunya dalam jual beli). Dalam komunikasi, kesepahaman antara penutur dan penerima didasari kode bahasa yang sama. Kode itu membawa makna sehingga komunikasi berlangsung koheren. Bila salah satu kode tidak dipahami pemberi atau penerima pesan, tentu komunikasi macet. Pemberi kode (warga Arab Saudi) hanya mengirim pesan-pesan konatif: imperatif dan vokatif.

Kedua pesan itu mengirim kode berupa seruan, perintah, arahan, panggilan, dan petunjuk. Bukan pesan deskriptif dan eksploratif yang memang memerlukan pemerian yang berstruktur. Tak jarang saya mendengar petugas di Masjidil Haram melontarkan pesan konatif ‘Cepat jalan’, ‘Jangan berhenti’, dan ‘Hai, haji Indonesia, sini, sini’. Begitu pula dalam hal jual beli, pedagang begitu antusias bila jemaah Indonesia datang. Suara lantang logat Arab akan segera menyapa, “Ini halal, ini murah, jemaah Indonesia baik-baik.

“Praanggapan kembali muncul tatkala melihat toko-toko di sekitar Pasar Balad berhias dengan kata ‘murah’, semisal Toko Ali Murah dan Toko Zaenal Murah. Pelabelan kata ‘murah’ pada deretan toko itu tak lain sebagai pemanfaatan bahasa untuk kepentingan bisnis dan daya tarik. Kata yang begitu lumrah di Indonesia itu sengaja dijadikan kunci dalam menggaet pembeli. Oh, ternyata bahasa Indonesia (dan Melayu) begitu biasa diujarkan penduduk asli Arab Saudi, baik di Mekah maupun Madinah. Bukankah di sana juga ada jemaah India, Pakistan, Tiongkok, dan Jepang? Kenapa hanya bahasa Indonesia yang lebih banyak terdengar? Ya, faktor bisnislah jawabannya!

* Redaktur Bahasa Media Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s