Kamus Sinonim: Langka dan Lupa

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 30 Jan 2017

Eko Endarmoko dalam Tesaurus Bahasa Indonesia (2006) menjelaskan: “Dibanding dengan jenis-jenis kamus lainnya yang banyak beredar, tesaurus atau kamus sinonim dalam bahasa Indonesia tampaknya lebih langka, dan yang ada itu pun terasa kurang memadai.” Usaha membuat tesaurus berlangsung lama, berbekal keseriusan dan kesabaran. Dalam mukadimah, Eko Endarmoko berharap: “Demikianlah, tesaurus ini menyajikan sebanyak mungkin sinonim kata dan kelompok kata dalam bahasa Indonesia dengan harapan dapat sekaligus mengayakan kosakata serta membantu pemakainya mendapatkan ungkapan yang tepat untuk sesuatu konsep dan nuansa yang paling cocok dalam konteks tertentu.” Puluhan tahun sebelum penerbitan Tesaurus Bahasa Indonesia, Harimurti Kridalaksana telah mempersembahkan Kamus Sinonim Bahasa Indonesia. Kamus itu menjadi referensi Eko Endarmoko meski mendapat kritik “kurang lengkap” dan sajiannya belum sistematis.

Keinginan orang-orang mempelajari bahasa Indonesia dihambat kelangkaan buku. Tesaurus atau kamus sinonim masuk daftar buku langka. Kita menduga langka akibat tiada gairah memajukan bahasa Indonesia di kalangan peneliti, dosen, dan institusi kebahasaan bentukan pemerintah. Pada masa yang berbeda, terbit dua buku tentang sinonim. Kamus Sinonim Bahasa Indonesia terbit pada 1974. Semula, kamus itu disusun dalam rangka penelitian linguistik oleh Lembaga Riset Kebudayaan Nasional-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Penggarapannya mulai 1971. Kamus itu berhasil terbit dan berdampak. Harimurti Kridalaksana menerangkan: “…kamus ini mendapat sambutan baik, sehingga kami sadar bahwa kamus semacam ini mempunyai manfaat praktis dan berguna bagi pemakai bahasa yang ingin mengembangkan kekayaan kata-katanya.” Kamus itu memang berfaedah. Pengakuan pun diberikan Eko Endarmoko dalam mengerjakan Tesaurus Bahasa Indonesia.

Kekhasan muatan kamus susunan Harimurti Kridalaksana adalah “terbatas pada kata-kata bahasa Indonesia kini”. Sebutan “kini” tak memungkinkan pembaca menuntut kehadiran kata-kata yang berasal dari masa lampau dan kata-kata dari bahasa-bahasa daerah. Pembaca harus mengerti kamus itu memang bercap bahasa Indonesia meski berhak ragu bahwa pemilihan kata-katanya bersumber dari pelbagai bahasa di Indonesia. Keputusan menggarap dan menerbitkan Kamus Sinonim Bahasa Indonesia seperti melupakan keberadaan buku lawas, seratus tahun silam. Kamus sinonim berbahasa Jawa pernah terbit meski tak pernah dijadikan referensi di Kamus Sinonim Bahasa Indonesia dan Tesaurus Bahasa Indonesia. Barangkali buku lawas sengaja tak dipakai gara-gara berbahasa Jawa, bukan berbahasa Melayu atau Indonesia.

Pada 1916, Commissie voor de Volkslectuur menerbitkan Serat Pathi Basa susunan Ki Padmasusastra. Serat Pathi Basa dikerjakan mulai 1883. Penulisannya menggunakan bahasa dan aksara Jawa. Buku berusia tua gampang dilupakan dan hilang dalam halaman-halaman daftar kepustakaan untuk pelbagai buku kebahasaan di Indonesia. Kamajaya (1980) melakukan alih aksara dengan dana pemerintah. Buku itu dapat diterbitkan lagi, berbahasa Jawa dan beraksara Latin. Ia menganggap Serat Pathi Basa itu “satunggaling bausastra (kamus), isi tembung-tembung tunggil teges (sinonim) kanthi pitedah bedaning tembung satunggal-satunggalipun sarta pangagenipun, inggih punika pangetrapanipun ing ukara”. Kamus itu mengandung petunjuk penggunaan kata-kata yang sama arti dalam pelbagai pola kalimat.

Di Jawa, Ki Padmasusastra (1843-1926) terkenal sebagai pakar bahasa dan sastrawan modern. Ia membawa sastra Jawa ke corak prosa ketimbang puisi. Pembuktian terpenting tampak dalam penerbitan Serat Rangsang Tuban (1912), Serat Prabangkara (1912), dan Serat Kandha Bumi (1924). Buku-buku itu sudah memunculkan gejala penggunaan struktur novel modern di Jawa. Kerja sastra itu dibarengi ketekunan menggarap buku-buku kebahasaan saat Jawa mengalami zaman kemajuan pada abad XX. Penerbitan Serat Pathi Basa bukti keinginan memajukan bahasa Jawa bersaing dengan kegandrungan orang-orang di tanah jajahan berbahasa Melayu dan Belanda.

Ki Padmasusastra (1909) memberi penjelasan singkat mengenai pamrih mengerjakan kamus sinonim meski belum lengkap: “Pamanah kula sae kula wedalaken, pupungan sawujud-wujudipun, dene wonten turutanipun, kula sumanggakaken para marsudi tembung sapengker kula.” Kamus sinonim tetap terbit agar berfaedah dalam mempelajari bahasa dan sastra Jawa. Pengakuan bahwa kamus belum sempurna diharapkan mendapat penerus pada masa yang berbeda. Kamus itu memang masih terbaca pada 1980-an, tapi tak dipakai dalam pengenalan sejarah atau penjelasan tambahan dalam Kamus Sinonim Bahasa Indonesia dan Tesaurus Bahasa Indonesia. Harimurti Kridalaksana dan Eko Endarmoko mungkin tak ingin jadi ahli waris keilmuan bahasa dari Ki Padmasusastra. Ketiadaan Serat Pathi Basa dalam penggarapan kamus sinonim atau tesaurus tentu kelaziman, bukan perkara gawat.

* Pengelola Jagat Abjad Solo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s