Pelan Kebakaran

Sapardi Djoko Damono*, Majalah Tempo, 6 Feb 2017

Perlukah kita menerjemahkan karya sastra kita ke dalam bahasa Malaysia? Pertanyaan itu muncul ketika ada keraguan apakah bahasa Indonesia “sama” dengan bahasa Malaysia. Para pakar bahasa boleh saja berdebat tanpa ada kesudahannya tentang asal-usul kedua bahasa itu, tapi pandangan yang selama ini berlaku adalah bahwa keduanya berasal dari bahasa Melayu yang konon mula-mula dikembangkan oleh orang Melayu di Riau. Saya pernah berpandangan bahwa tidak usahlah karya sastra kita diterjemahkan ke dalam bahasa Malaysia dan sebaliknya karena kita toh memahami bahasa Melayu yang berkembang di negeri jiran itu-sampai pada suatu hari tahun lalu, ketika menginap di sebuah hotel, saya menjadi sadar bahwa sudah seharusnya kita pertimbangkan kembali gagasan “tidak usah diterjemahkan” itu.

Selama ini sering kita menjadi “repot” kalau mengeja kata yang, meskipun kita pahami maksudnya, tidak jarang menyebabkan berpikir mengapa ejaannya begitu atau begini. Kita menggunakan kata “karena” tapi rekan kita di Malaysia menulis “kerana”-itu jelas tidak menimbulkan masalah pemahaman yang serius. Tapi, ketika mendengar mereka mau “menjemput” kita dan sesudah sekian lama tidak ada yang muncul di hotel atau di mana, kita bertanya-tanya mengapa, dan baru memahami masalahnya ketika diberi tahu bahwa “menjemput” dalam bahasa Malaysia berarti “mengundang” dalam bahasa kita. Itu gurauan lama, tapi bisa dipergunakan sebagai contoh masalah “penejermahan”.

Dalam bahasa Indonesia, kata gunung dieja dengan “gunong” dalam bahasa Malaysia. Konteks kata itu dalam kalimat tidak akan menimbulkan masalah pemahaman, tapi dalam puisi yang penting tidak hanya ejaan tapi juga-dan mungkin terutama-pelisanannya. “Gunung” dan “gunong” akan dilisankan berbeda dalam bahasa kita, dan kalau hal itu menyangkut rima masalah akan muncul. Di Indonesia kita naik bis atau kadang-kadang bus, di Malaysia kita naik “bas” ejaan yang boleh dikatakan tidak kita jumpai di Indonesia, meskipun kata busway tidak kita lisankan menjadi “biswe” tapi “baswe”.

Beberapa contoh itu menunjukkan bahwa bahasa Melayu telah mengalami perkembangan yang berbeda antara lain karena yang berpengaruh terhadap bahasa dua bangsa itu berbeda, yakni Belanda dan Inggris. Di samping itu, bahasa Indonesia telah dipengaruhi juga oleh bahasa-bahasa lain, yakni bahasa Inggris dan bahasa-bahasa daerah. Itulah yang menyebabkan kata television menjadi “televisi” di sini dan “televisyen” di sana. Bahkan, meskipun ejaan kita sudah “disempurnakan” alias “diseragamkan”, kalau dilisankan bisa menjadi sangat berbeda karena pengaruh penyampaian lisan dalam berbagai bahasa daerah. Penyampaian lisan itu penting sebab pada hakikatnya bahasa adalah bunyi, aksara hanyalah upaya untuk menyimpannya agar awet dan bisa diwariskan kepada generasi yang berikutnya.

Mungkin karena itu, pada pintu hotel tempat saya menginap ditempelkan semacam pengumuman bagi penghuni kamar, dalam bahasa Malaysia dan bahasa Inggris. Ada kata “legenda” dalam tempelan itu, ada juga “pengesan asap”, “lonceng kecemasan”, “gegulung hos”, dan “pancur basah”. Seandainya tidak ada istilah aslinya, saya akan bingung membacanya, istilah aslinya adalah legend, smoke detector, fire alarm, hose reel, dan wet riser. Tempelan di pintu itu judulnya “Pelan Kebakaran” – istilah yang pasti membuat saya bingung menafsirkan artinya seandainya tidak ada bahasa aslinya. Bayangkan saja apa yang bisa saya mengerti dari “pelan kebakaran” itu. Di bawah judul itu ada bahasa aslinya, “Fire Evacuation Plan”. Kata plan rupanya diterjemahkan menjadi “pelan”. Terjemahan itulah yang menjadi inti tulisan ini.

Sama sekali tidak ada yang meleset dalam penerjemahan itu, yang keliru adalah kebiasaan saya dalam membaca bahasa “lain” yang saya anggap sama dengan bahasa Indonesia. Nah, kalau masalah serupa ini muncul dalam sebuah karangan yang tidak ada penjelasan dalam bahasa Indonesia, tentu akan menimbulkan kebingungan. Kata-kata semacam itu mungkin tidak banyak, tapi kalau merupakan konsep yang menjadi kunci karangan masalah tentu akan muncul. Pengalaman membaca petunjuk di hotel itulah yang menyebabkan saya berpikir ulang tentang perlu-tidaknya kita menerjemahkan karya sastra kita ke dalam bahasa Malaysia meskipun mungkin hanya sebatas pengubahan ejaan.

* Guru, sastrawan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s