Dari “Kuppuru” (2)

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 11 Feb 2017

Dalam bahasa Ibrani, beragam arti k-p-r termasuk membersihkan, mengalihkan, mewakili, mengganti-rugi, menebus, menutupi, menyangkali. Secara ritual, k-p-r mengacu pada tindakan melepaskan dosa dan akibat dosa dari manusia. Kata kipper secara positif berarti menutupi, menyembunyikan, yakni perihal dosa atau kenajisan dari pandangan Allah. Karena Tuhan mahamelihat, itu berarti dosa bukan hanya tersembunyi, tapi memang sudah lenyap. Tuhan berhenti marah. Maka, timbul pula arti mendamaikan (antara Allah dan manusia), yang menjadi makna ritual yang utama. Kefira sebaliknya berarti ajaran yang tidak sesuai dengan dogma umum agama Yahudi. Kofer berarti ganti rugi atau tebusan, dalam rangka membayar utang dosa kepada Tuhan. Tapi, kofer juga berarti orang yang menutupi kebenaran, jadi dipakai sebagai label untuk orang Yahudi yang tidak percaya kepada Taurat atau yang menolak iman Yahudi.

Orang Yahudi, bahkan yang tidak beragama Yahudi, merayakan hari raya paling utama mereka, Yom Kippur, Hari Pendamaian dan Pertobatan—ketika manusia mengadakan ritual untuk berdamai dengan Allah—pada bulan ketujuh kalender Yahudi, sama dengan saat upacara Kuppuru pada kalender Akkadia, dengan mempersembahkan korban dan sebagai hari penyucian. Yom Kippur selalu jatuh pada hari sabat, dari Jumat saat matahari terbenam sampai Sabtu saat yang sama. Dunia mengenal istilah Yom Kippur sebagai perang, yang dimulai pada hari raya itu, antara koalisi Arab lawan Israel 6-25 Oktober 1973. Karena terjadi pada bulan puasa, disebut juga Perang Ramadan. Adalah ironi bahwa orang Yahudi biasa berpuasa total selama 25 jam pada Yom Kippur sambil berpakaian serba putih. Ramadan adalah bulannya bulan, Yom Kippur adalah sabatnya sabat. Itulah perang di antara orang-orang yang sama-sama sedang berpuasa dan berdoa.

Dalam bahasa Arab, kafara berarti menutupi. Dalam dunia pertanian kata itu lalu berarti menanam, yakni menutupkan tanah di atas biji atau benih. Alkuffar bisa juga diterjemahkan petani. Kafr juga berarti desa, tempat tinggal petani, sama dengan kfar dalam Ibrani. Dalam hukum, kaffarat berarti ganti rugi, analogis dengan penebusan ritual. Karena apa-apa yang ditutupi menjadi tak terlihat, timbullah arti menyembunyikan. Dari pengertian menyembunyikan kebenaran, seperti kegelapan malam menutupi cahaya ilahi, berkembanglah makna menyangkal, menolak, tidak percaya, menutup hati, tidak bersyukur. Inilah yang kini menjadi makna utama kata kafir di seluruh dunia—orang yang tidak percaya kepada atau menolak Allah.

Dalam bahasa Indonesia, sejak dulu kita kenal kata makian keparat, yang juga berarti kafir, tapi biasanya dipakai tanpa acuan religius. Pada saat ini kafir telah menjadi kata kontroversial yang dipakai atau ditolak-pakai dengan berbagai alasan keagamaan, sosial, dan politik. Ada yang menembakkan kafir ke segala arah kepada siapa pun yang tidak bersetuju dengannya. Ada yang rajin melakukan takfir. Ada yang tidak mau melabelkan kafir kepada siapa pun dan apa pun. Karena takfir sangatlah sensitif dan berpotensi menimbulkan gejolak sosial, otoritas negara kadang-kadang diminta atau terpaksa turun tangan. Undang-Undang Dasar Tunisia, misalnya, melarang fatwa takfir.

Agama Kristen lahir dari rahim Yahudi dan pada awalnya secara lisan memakai bahasa Aram yang juga termasuk rumpun Semit. Tapi, secara tertulis bahasa utama kitab dan surat Perjanjian Baru adalah Yunani, yang tidak termasuk Semit, karena itu secara linguistik etimologis kata hilasmos dan eksilasetai (keduanya berarti pendamaian) tidak memberikan sumbangan baru kepada konsep kipper yang diterjemahkannya. Lembaga Alkitab Indonesia menggunakan kafir beberapa kali dalam terjemahannya.

* Penggelut Makna Kata

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s