Antara OK dan BH

Henry Bachtiar* (Media Indonesia, 12 Feb 2017)

Kata oke cukup familier di telinga kita. Kata itu cukup sering dipakai dalam percakapan sehari-hari. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), oke masuk ke dua kelas kata. Pertama, oke sebagai partikel (p), yakni ‘kata untuk menyatakan setuju; ya’. Kedua, oke sebagai verba yang artinya ‘setuju’. Oke berasal dari ragam cakapan (cak) dalam bahasa Inggris, okay atau OK.

Dalam Merriam-Webster Dictionary, kata okay merupakan varian atau bentuk alternatif dari singkatan OK seperti halnya tidak dan tidak dalam bahasa Indonesia. Bila KBBI mengelompokkan oke dalam dua kelas kata, yakni sebagai partikel dan verba, Merriam-Webster Dictionary dan Cambridge Dictionary memasukkan OK atau okay ke empat kelas kata (adverbia, adjektiva, nomina, dan verba).

Berikut beberapa contoh kalimat OK sebagai 1) adverbia, 2) adjektiva, dan 3) nomina yang penulis kutip dari Cambridge Dictionary. 1) Everything was going OK until the printer stopped working. Semuanya berlangsung baik-baik saja sampai akhirnya printer berhenti bekerja. 2) Is it okay if I bring a friend to the party? Apakah tidak apa-apa bila saya membawa seorang teman ke pesta itu? 3) He got the OK to go ahead with his project. Dia mendapat persetujuan untuk melanjutkan proyeknya. OK atau okay sebagai verba memiliki sejumlah bentuk yang dalam tata bahasa Inggris dikenal sebagai tenses, yakni OK’s atau okays, OK’ing atau okaying, dan OK’d atau okayed.

Berikut contoh kalimat dengan OK sebagai verba. Have the committee OK’d your proposal? Apa panitia sudah menyetujui proposalmu? KBBI mengakomodasi OK atau okay dengan menyerap cara eja atau pengucapan singkatan atau kata tersebut sehingga jadilah kata oke dalam entri. Di samping kata oke, dalam KBBI penulis juga menemukan ada kata beha yang berasal dari ragam cakapan (cak) dalam bahasa Belanda, bustehouder (BH). Beha memiliki arti kutang. Kata itu masuk entri di KBBI setelah diserap dari cara eja singkatan BH.

Singkatan OK (bahasa Inggris) dan singkatan BH (bahasa Belanda) sama-sama masuk entri dalam KBBI dengan mengalami perubahan sesuai dengan cara eja masing-masing. OK menjadi oke dan BH menjadi beha. Hanya, penulis ternyata juga menemukan singkatan BH di dalam entri KBBI. BH diberi label singkatan (sing) dan memiliki arti ‘beha; kutang; bustehouder’. Namun, singkatan OK tidak ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Merriam-Webster Dictionary ternyata memberikan keterangan mengenai asal mula singkatan OK. OK merupakan singkatan dari ‘oll korrect‘, yang sebenarnya merupakan pelesetan dari ‘all correct‘ (semuanya benar/beres). Bisa jadi KBBI tidak mengakomodasi singkatan OK untuk masuk ke entri lantaran singkatan tersebut berasal dari frasa pelesetan, oll korrect. Sekadar berandai-andai saja, seperti halnya penyerapan oll korrect (OK) menjadi oke atau bustehouder (BH) menjadi beha.

Sekiranya frasa pelesetan oll korrect tidak pernah ada, dan frasa all correct yang eksis, mungkinkah KBBI memasukkan kata ace/ase sebagai ragam cakapan dari bahasa Inggris all correct (AC)? Hal itu cukup masuk akal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s