Artis Dari Hong Kong

Zen Hae*, Majalah Tempo, 13 Feb 2017

Mereka yang mengalami masa remaja sepanjang 1970-1980-an sangat mengenal artis berikut ini: Bruce Lee, Chen Kuan Tai, Chen Lung (kemudian menjadi Jackie Chan), Fu Shen, Erl Thung-shen, Ti Lung, dan Rosamund Kwan. Mereka adalah bintang film yang sebagian besar bermain dalam film silat produksi Shaw Brothers, yang berpusat di Hong Kong. Mereka biasa disebut “bintang film Hong Kong”—sebagaimana “bintang film India”, “bintang film Barat” (bukan Hollywood), dan “bintang film Indonesia”.

Lama sekali saya tidak mendengar sebutan “bintang film Hong Kong”—bahkan setelah generasi bintang film genre itu berganti dengan yang lebih baru. Kini, sebutan “artis” lebih sering digunakan ketimbang “bintang film”. Kita menyerap kata artis dari bahasa Inggris artist, yang artinya “seniman”. Sementara itu, di Indonesia, kaum seniman tentu saja menolak jika disebut “artis”—kecuali di seni rupa kita mengenal istilah “artisan” untuk orang yang mewujudkan ide/gagasan perupa ke dalam bentuk yang diinginkan sang seniman.

Masyarakat Indonesia hari ini menganggap sebutan “artis” lebih mentereng, lebih menyeluruh, ketimbang “bintang film”. Sebab, pekerjaan seorang artis tidak melulu bermain film, tapi juga bermain sinetron, ikut kuis, ikut kegiatan amal, dan seterusnya.

Sebenarnya, ada lagi satu sebutan baru yang jauh lebih menyihir, yaitu “selebritas”, yang secara salah kaprah diucapkan sebagai “selebritis”, karena diturunkan dari kata celebrity atau celebrities—sementara kita bisa mengucapkan aktivitas yang diturunkan dari activity atau activities. Sebutan terbaru ini adalah untuk seorang artis yang bermain dalam film atau sinetron tapi bisa juga tidak sama sekali.

Adapun sebutan “idol” juga digunakan untuk menyebut para juara atau peserta perlombaan menyanyi yang pernah menjadi sangat populer di banyak stasiun televisi—dan kita tidak menyebut mereka “idola”. Sebutan ini diserap mentah-mentah dari kata idol (Inggris), yang bermakna “pujaan” dan “berhala”. Sebenarnya ini sebutan lain untuk para penyanyi yang di masa lalu menjadi cemerlang lewat acara “Bintang Radio dan Televisi”.

Ketika media infotainment menjamur beberapa tahun lalu, seorang selebritas dikenal sebagai tokoh publik yang kerap membuat berita dengan berbagai kasus yang menghebohkan di banyak infotainment, meski ia belum pernah bermain sinetron, apalagi bermain film—paling banter bintang iklan. Jika tidak membuat berita heboh, nama mereka pelan-pelan akan hilang dan dilupakan pemirsa infotainment. Maka berlakulah adagium “aku bikin kasus, maka aku eksis”.

Ketika media sosial, terutama Twitter, meningkat pamornya di Indonesia, muncul pula sebutan “seleb tuit”. Artinya, mereka yang kerap mencuitkan sesuatu, bisa jadi polemis dan karenanya memancing perang tuit (tweet war). Atau, mereka yang kerap memajang swafoto (foto selfie) mereka di berbagai kesempatan dengan komentar sekadarnya. Yang pasti, mereka yang disebut “seleb tuit” punya pengikut (follower) yang banyak sekali—beberapa dari mereka mendapat tanda “contreng biru”, sebagai tanda pengikut mereka sudah di atas ratusan ribu.

Serangkaian sebutan seperti “artis”, “selebritis”, atau “idol”, meski mentereng dan kekinian, sebenarnya tidak menggantikan apa-apa yang hilang dari status bintang film di masa silam. Ketika dunia film Indonesia pernah berjaya, bintang film adalah mereka yang benar-benar jagoan dalam seni peran. Bahkan, pada masa revolusi dan sesudahnya, banyak dari mereka adalah jebolan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) di Jakarta dan Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi) di Yogyakarta, atau keluaran dari rombongan tonil/sandiwara yang sudah bangkrut. Atau, jika bintang film silat, sebagaimana bintang film silat Hong Kong, mereka benar-benar menguasai ilmu bela diri.

Tanpa mengecilkan mereka yang memang benar-benar berkualitas dan punya rekam jejak yang panjang dan mengagumkan, kini jalan menjadi artis atau selebritas tampaknya bisa disederhanakan. Dengan kata lain, orang bisa lebih mudah mendapatkan sebutan “artis” atau “selebritas”. Namun jangan sekali-kali kita mau disebut “artis dari Hong Kong”. Apa pasal?

Terutama dalam ragam percakapan, ungkapan “artis dari Hong Kong” digunakan orang untuk menyatakan ketidakpercayaan seseorang atas sebuah kabar atau peristiwa. Ungkapan ini kurang-lebih bermakna bahwa yang dimaksud bukanlah benar-benar artis, artis gadungan, artis yang hanya mengaku-aku.

Sebagai ungkapan untuk menyangkal sebuah pengakuan, “artis dari Hong Kong” ternyata bisa digunakan untuk menyangkal hal lain. Jika seseorang menjawab pertanyaan “Kamu sudah punya pacar?” dengan “Pacar dari Hong Kong!”, itu artinya yang bersangkutan sebenarnya tidak punya pacar alias jomblo.

Mengapa Hong Kong sebagai keterangan tempat dalam ungkapan itu memberi makna penyangkalan atas kabar bohong alias hoax? Saya belum bisa menjelaskannya—lain kali mungkin. Semoga sebutan ini tidak mencemarkan nama baik bintang film atau artis Hong Kong yang sebenarnya. Sejatinya, Donnie Yen atau Gong Li adalah “bintang film Hong Kong” atau “artis Hong Kong”, tapi kita tidak bisa meneriaki mereka dengan sebutan “artis dari Hong Kong!”

* Penyair dan kritikus sastra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s