Merdekalah, Wartawan!

Kurnia J.R.*, KOMPAS, 18 Feb 2017

Jumat pagi 2 Desember 2016, yang populer dengan kode 212, beberapa jam menjelang demonstrasi salat Jumat di Lapangan Monumen Nasional, Jakarta, tersiar berita tentang orang-orang yang “diamankan” di Markas Brimob dengan dugaan makar, atau polisi “mengamankan” sejumlah orang yang diduga makar. Reporter dan penyiar TV rupanya kompak memakai kata diamankan dan mengamankan pada berita itu, sedangkan sebagian besar teks di media sosial dan situs berita internet tegas menggunakan ditahan, ditangkap, menahan, menangkap. Saya rasa mayoritas lebih suka diksi yang kedua sebab lebih pas dengan dunia-masa-kini dan tidak memerangkap mereka dalam anakronisme.

Sejak media sosial dan media berita di dunia maya dicemari perilaku sembrono menebar umpatan, pemutarbalikan fakta, dan berbagai kata kotor, rupanya televisi, radio, dan surat kabar tertentu menjaga jarak terhadap ragam bahasa agak liar yang digunakan para netizen. Alhasil, mereka terjebak “bahasa santun” khas Orde Baru. Yang lebih parah, dari gaya berbahasa reporter dan penyiar TV saat menyiarkan berita penangkapan atau penahanan dalam isu kriminalitas dan politik, seolah-olah mereka mengidap kompleks mental defensif, bahkan paranoid. Ada ketakutan dianggap kurang santun dan cemas membayangkan kritik publik atas diksi mereka.

Pendek kata, mental mereka tidak sanggup bersikap merdeka bahwa ketika seseorang masuk sel kantor polisi, maka dalam bahasa Indonesia sudah sewajarnya dia dikatakan ditahan atau ditangkap tanpa mengusik rasa kesopanan sosial. Ini bukan soal tenggang rasa atau kewajiban menyunggi HAM orang yang ditangkap atau ditahan penegak hukum. Ini soal kemerdekaan mentalitas jurnalis dari warisan bahasa rezim diktator yang sudah roboh 18 tahun yang silam.

Aman adalah kata dasar yang berarti ‘tidak merasa takut, tenteram, sentosa’, dan (dalam makna arkais sastra lama) ‘titipan’ atau ‘amanat’. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS Poerwadarminta, yang edisi perdananya di awal 1950-an, mengamankan adalah ‘menyerahkan (menitipkan) supaya selamat, menahan dalam (penjara dsb); misalnya, orang yang mengamuk itu telah diamankan di seksi enam’. Walaupun ada pengaruh pemaknaan ala Orde Baru, KUBI edisi 1985 itu masih mengacu kepada makna asli ‘menitipkan supaya selamat’.

Jadi, jelas bahwa diamankan dan mengamankan tidak bisa diterapkan pada kasus penahanan, penyitaan, dan penangkapan, juga tidak pada pemenjaraan. Kalau polisi menitipkan seorang pencuri buat sementara di sel agar tidak kabur sebelum diperiksa, itu masih bisa disebut diamankan/mengamankan sebab masih memenuhi arti amanat atau titipan. Pertanyaannya, apakah wartawan sempat berpikir cermat dalam proses kerja yang berkejaran dengan waktu demi ketepatan makna satu kata yang telanjur dianggap lumrah, padahal salah kaprah?

Perihal makna mengamankan, Kamus Besar Bahasa Indonesia sulit diandalkan. Pemeriannya pada Edisi Keempat (2008): ‘menahan orang yang melanggar hukum demi keamanan umum dan keamanan orang itu dari kemungkinan tindakan main hakim sendiri’ dan contoh: “polisi mengamankan penjambret itu” tidak memenuhi syarat logika intrinsik dan ekstrinsik. Kalimat itu seolah-olah mengisahkan penjambret yang diamankan dalam suaka nyaman dari kebuasan massa, padahal maksudnya dia ditangkap untuk dijebloskan ke bui sebagai hukuman.

Pemerian dan kalimat contoh itu adalah blunder KBBI. Jika dikatakan “polisi mengamankan penjambret itu”, benarkah publik yang dibuat aman? Bukankah objek kalimat ini penjambret? Lalu, tentang mengamankan “orang yang melanggar hukum dari kemungkinan tindakan main hakim sendiri”, apakah para tokoh yang diduga makar itu “diamankan” polisi agar terhindar dari amuk massa? Sama sekali tiada indikasi ancaman demikian.

Blunder KBBI memperlihatkan rapuhnya pemaknaan yang asal-asalan, sekadar membakukan bahasa rekayasa Orde Baru. Argumentasi bahwa KBBI menganut sistem deskriptif dan bukan preskriptif tidak relevan untuk kasus pemerian makna lema atau sublema yang tidak logis.

Bangunlah, wahai wartawan, dari buaian eufemisme yang salah kaprah. Enyahkan paranoia yang apolitis dan bebaskan diri kalian dari kompleks mental anakronistis. Merdekalah!

* Pujangga

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s