Debat Final

Meirisa Isnaeni (Media Indonesia, 19 Feb 2017)

SETELAH diberitakan dengan segala kehebohannya, Pilkada Serentak 2017 yang melibatkan 101 daerah di Tanah Air akhirnya dilaksanakan. Hasil penghitungan suara di beberapa daerah pun sudah bermunculan. Pilkada DKI Jakarta yang paling santer dibicarakan pun telah memunculkan hasil, yakni Basuki-Djarot berada di urutan pertama (43,04%), Anies-Sandi berada di urutan ke-2 (39,99%), dan Agus-Sylvi di urut an ke-3 (16,97%). Dengan demikian, Pilkada DKI Jakarta 2017 akan berlanjut ke putaran kedua karena sang pemenang (Basuki-Djarot) tidak sampai melebihi 50% suara seluruh pemilih. Sebelum mencapai puncak pemilihan, ketiga pasangan calon telah melalui beberapa kali debat untuk meraih simpati warga DKI Jakarta, yaitu pada debat pertama, debat kedua, dan debat final, yakni pada 10 Februari 2017 lalu.

Beberapa media juga sempat menyiarkan dan memberitakan debat final tersebut. Misalnya, “Agus, Ahok, dan Anies Jangan Sampai Blunder di Debat Final” (Detik.com, Jumat 10/2), “Live Streaming Debat Final Pilkada DKI Jakarta 2017” (Kompas.com, Jumat 10/2), dan “Begini Suasana Debat Final Calon Gubernur DKI, Diwarnai Yel-Yel” (Tempo. com, Sabtu 11/2). Berkaitan dengan masalah debat itu, sebenarnya ada fenomena kebahasaan yang menarik untuk dibahas, yaitu pada kata final. Kata final berasal dari bahasa Inggris dan kemudian diserap ke bahasa Indonesia. Dalam Kamus Inggris-Indonesia (John M Echols dan Hassan Shadily), kata final berarti 1. penamatan sekolah, wisuda 2. ujian akhir 3. pertandingan terakhir.

Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V, kata final mempunyai arti 1. tahap (babak) terakhir dari rangkaian pemeriksaan (pekerjaan, pertandingan), 2. tahap penyelesaian. Berdasarkan kedua pengertian tersebut, jika dicermati, sebenarnya kata final kurang cocok digunakan pada frasa debat final. Penyebabnya, kata final merujuk pada pertandingan atau akhir pertandingan. Seperti diketahui dalam setiap pertandingan selalu ada dua sisi, yakni ada pihak yang menjadi pemenang dan ada pihak yang kalah. Misalnya, dalam perdelapan final Piala Dunia 2014, Jerman mengalahkan Aljazair. Lalu, pada semifinal Jerman mengalahkan Brasil. Terakhir, pada babak final, Jerman mengalahkan Argentina. Dengan demikian, dari contoh itu disimpulkan bahwa final akan selalu memunculkan si pemenang dan si kalah. Akan tetapi, dalam debat pertama sampai debat pada 10 Februari lalu, tidak ada pihak dari ketiga calon yang menjadi pemenang dan menjadi yang kalah. Debat pilkada sebenarnya bukan ajang pertandingan untuk mencari pihak yang menang dan mengalahkan pihak lain, melainkan mencari dan menggali visi misi setiap calon. Dengan debat pula, program-program mereka menjadi jelas bagi masyarakat. Sebagai penegasan, mari cari arti kata debat dalam kamus.

Debat dalam KBBI V berarti pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberikan alasan untuk mempertahankan pendapat. Di samping itu, perhelatan pilkada DKI Jakarta ternyata belum selesai dan berlanjut ke tahap kedua. Itu artinya kemungkinan masih akan ada debat selanjutnya. Karena itu, tidaklah pas jika dikatakan debat final. Justru, menurut hemat penulis, kata final akan lebih cocok bila diganti dengan kata akhir, ketiga, atau pemungkas. Dengan demikian, akan muncul frasa yang lebih tepat, yakni debat akhir, debat ketiga, atau debat pemungkas. Lebih berterima bukan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s