Demokrasi Kebablasan

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 4 Mar 2017

Perpaduan filsafat serba-tanya Yunani dan rasa luhung serba-jawab Jawa melahirkan ungkapan ciamik: demokrasi kebablasan. Bablas,menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti ‘terus’. Imbuhan ke-an di situ menghadirkan kesan “terlalu (banyak)”. Jadi kebablasan berarti terlalu terus, melewati batas normal atau batas legal. Kebablasan mengacu pada sesuatu yang bagus, indah, baik, tapi terlalu banyak, berlebihan, sehingga justru menjadi buruk, rusak. Bablas juga berarti ‘hilang’, ‘lenyap’, atau ‘mati’. Jadi, mungkin bisa pula kebablasan dimaknai sebagai sesuatu yang sebetulnya bermanfaat, tapi bertumpuk-tumpuk tidak keruan hingga menjadi busuk, tidak berguna, mati.

Demokrasi, seperti telah diketahui umum, adalah pemerintahan rakyat. Secara padat cerdas dijabarkan sebagai pemerintahan oleh rakyat untuk rakyat. Demokrasi modern mempertimbangkan kompleksitas masyarakat dengan memasukkan unsur, prinsip, dan prosedur yang membantunya tetap relevan dan berfungsi baik pada masyarakat besar kecil yang berbeda tradisi, budaya, agama, etnisitas, pola pikir, pola interaksi, dan pola kerja. Demokrasi sebagai suatu proses yang tidak pernah selesai-bukan produk sekali jadi yang muat untuk semua ukuran-dengan demikian dapat dipahami akan memiliki batas-batas berupa kesepakatan niat baik yang melampaui hukum dan aturan tertulis.

Jadi, bagaimanakah suatu demokrasi bisa kebablasan? Ketika kebaikan demokrasi dimanfaatkan politikus untuk berkuasa dengan menghancurkan demokrasi itu sendiri. Seperti orang menebang pohon hanya untuk makan buahnya. Bagaimanakah cara demokrasi ditebang? Sejarah telah memberi kita banyak pelajaran.

Beberapa contoh karakteristik kebablasan di dalam demokrasi. Pertama, kelompok tertentu dijadikan kambing hitam: Tionghoa, Amerika, Yahudi, kapitalis, komunis, liberal, Islam, non-Islam, Jawa, aseng, asing. Kedua, penggolongan kami vs mereka: Kami Indonesia sejati, mereka pengkhianat. Kami tulus, sederhana, baik, membangun negeri; mereka licik, penuh persekongkolan jahat, penjual negeri, antek asing. Catatan penting: kata kami biasanya diucapkan sebagai kita. Efeknya adalah bahwa mereka itu bukan bagian dari Indonesia, bukan anak negeri. Kepentingan dan pandangan mereka sama sekali tidak berarti. Mereka adalah parasit, orang luar, maling, penjajah, karena itu harus disingkirkan dari bumi Nusantara, secepat mungkin, sebelum mereka berhasil mewujudkan tujuan menghancurkan kita.

Ketiga, kebohongan politik merajalela: fakta, data, dan opini palsu menyebar luas. Teknologi media sosial telah memungkinkan karakteristik ini menjadi dominan dalam bentuk hoaks yang sulit ditangkal dan diredam. Keempat, janji surga: segala sesuatu yang diimpikan orang digembar-gemborkan sebagai upah atas pilihan yang dicobloskan di bilik suara. Rumah bagus, pekerjaan kekal, harga murah, sembako melimpah. Akal sehat, perhitungan, biaya, statistik, kerja keras, sistem fungsional, ilmu pengetahuan, modal, tenaga ahli, dan semua syarat untuk membangun negeri sejahtera dilemparkan ke tempat sampah; digantikan oleh harapan muluk murahan.

Kelima, ancaman neraka: rasa takut-baik real maupun imajiner-dibangkitkan, dipelihara, diraksasakan; ketakutan terhadap komunis, kapitalis, liberal, Islamis, narkoba, teroris, konglomerat, pasar bebas. Apabila lawan politik menang, rakyat akan jadi budak, tertindas, ekonomi minimal, terpuruk di bawah segala bangsa.

Semua karakteristik itu biasa-biasa saja dalam porsi normal di dalam demokrasi. Rakyat pun bisa mengenalinya sebagai entah realitas entah hiperbola. Namun, ketika diseramkan sampai jadi momok, hilanglah rasionalitas, terjadi demokrasi kebablasan berpotensi menghancurkan demokrasi dan negeri.

* Penggelut Makna Kata

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s